Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]
#33. Hei, Kiri!
Satu waktu di taman belakang, Mimosa bercerita tentang seorang bocah datang dari sebuah planet yang sebesar lebih sedikit dari sang bocah. Bocah yang setiap pagi mencabuti belukar di planetnya supaya tak menjadi pohon raksasa. Pekerjaan membosankan yang sebetulnya mudah. Belakangan Trots tahu bahwa cerita itu datang dari seorang Prancis. Dan tentang percakapan si bocah dengan rubah tentang pemaknaan “ritual”.
Ritualisme membuat rencana pertemuan mereka setiap akhir pekan menjadi demikian ditunggu. Laki-laki Trots merasa, cerita sang bocah hanya akal-akalan. Hanya jangan sampai kami terjebak pada ritual dingin seperti ibadah nan tak jelas semangat yang terwakili.
*
Mimosa telah menulis surat. “Untukmu!” Katanya Kepada Trots.
Angin sedang diam. Trots membuka dan membacanya. Mimosa menunduk dan menatap dengan durasi sebanding.
Direintepretasi dari catatan di bawah ini yang juga pernah direintepretasi oleh Fikri (dan Pungky) di kompasiana dalam sebuah cover version
Buat Ting [Sebuah Dongeng Pada Sebuah Petang]
Ting, perempuan, adalah nama satu sahabat. Berteman baik dengan istriku pula. BuRuLi adalah teman perempuan pertama yang membuatnya nyaman dipeluk, demikian akunya. Bagiku, Ting, sahabat non-hormonal.
“Pinjam punggungku kalau kau sedang merasa sepi,” katanya suatu petang. Masih kusimpan pesan pandaknya. Bertanggal 5 Desember sebuah petang yang hilang.
Aku pun menyediakan bahu, kapan pun dia ingin menangis. Dan hingga kini kami belum saling memanfaatkan fasilitas yang telah kami saling tawarkan.
Saya justru riang menyanyikan sepi. Dan dia pun pandai menumpahkan tangisnya dalam dongeng jenaka.
“Selamat Ulang Tahun!” Katanya pada satu petang di pengujung tahun silam. Dalam satu ziarah.
“Ha ha! Ya ya ya… dan kita sebenarnya sedang berjalan menuju tua.”
Ting tertawa dalam deret kata pada pesan selular.
Pada suatu petang di awal tahun, kami bercakap melalui bilik cakap ruang maya.
“Aku tampaknya bakal mengikuti jejakmu, Ting!”
“Umm… dasar tukang intil! Tapi, apa maksudmu?”
“Aku mungkin bergerak menuju tua, sendiri.” Kataku. Tak yakin apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi seorang sahabat aneh macam Ting.
“Umm… dan nanti kita akan bersama-sama bermain bola bekel di sebuah panti jompo?”
“Mungkin. Atau malah membuat rumah-rumahan di bawah kursi.”
“Ha ha! Percayalah banyak permainan kanak di sana untuk bocah-bocah seumur kita nanti.”
“Mungkin tak harus di sana. Kita bisa tinggal di satu rumah lain, di satu rumah di dekat panti.”
“Umm… kedengarannya menarik! Sepasang sahabat tua renta tinggal berdua di satu rumah.”
“Ya! Mungkin.” Aku menyahut seperlunya lengkap dengan simbol pelambang tawa.
“Mungkin malah kita lalu menikah ketika umur kita 70!” simbol pelambang tawa terguling-guling membalas pewakil tawaku.
“Ah… kalau itu terjadi, aku malah belum sampai posisi 69!” kujiplak simbolnya.
“Halah! Kau memang senang nyerempet-nyerempet!”
“Aku serius! Saat kau 70 aku baru 68.”
“Ha ha ha! Dasar brondong!”
Kami tertawa serempak! Aku yakin itu! Meski di layar komputer kolom tertawa tetap harus bergilir.
Usai tawa, aku bilang, “Itu keren! Seorang kakek menikahi seorang nenek hanya supaya bisa saling menyapa… Selamat Tidur, Kawan!”
Ting tertawa saja.
“Manfaat lain, supaya ketika salah satu mati, ada orang yang mengetahui.”
Ting makin tertawa dan menyahut, “Masing-masing berjanji, akan sering menengok makam sahabatnya yang mati lebih dulu.”
“Ha ha ha! OK! Aku janji, sahutku!”
“Jiaaah… kamu curang! Ketahuan kamu berjanji, berarti aku yang akan mati lebih dulu.”
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR] # 30. Pulang
Semua buku-buku telah dia kemas dalam kardus-kardus dan telah berangsur dia kirim ke alamat rumah di kampung. Barangkali ada tercecer barang berapa belas atau berapa puluh yang tak sampai berapa ratus. Berarti tak banyak lagi yang akan dibawa pulang.
Hanya tertinggal beberapa lembar pakaian yang memang tak pernah banyak di satu ransel dan tas selendang bahan denim warna tanah.
Apa yang akan dilakukan di rumah, di kampung halaman, di tempat dimana dia melewati kehidupan keras dan hangat itu menjadi sesuatu yang barangkali menyenangkan. Belum tahu, selain menulis memoar dan membuat sesuatu yang satiris; komik.
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR] 29. Mimpi
Seperti pada mimpinya yang sulit untuk diceritakan pun pada sesiapa. Dia akhirnya memutuskan; pulang.
“Pulanglah, pulanglah,” rumahnya memanggil-manggil. “Pasti menyenangkan.” Rumah itu merayu-rayu. “Kita adalah sahabat lama, sahabat lama dengan ruang bawah tanahku yang lembab. Tapi tentu menyenangkan sebab disini dapat kau seduh dengan aroma kopi dan tembakau pun. Aroma rempah-rempah. Tidakkah kau tertarik. Jangan bohong, aku mohon. Kamu merindukan aku. Sekali lagi, aroma rempah-rempah. Sedang kopi tak pernah membiarkan gelasmu kosong dari hangatnya. Jangan bohong lagi. Portugis juga melakukannya untuk itu, konon.”
Trot tidak bergeming dalam mimpi itu. “Rumahku adalah perjalanan,” jawabnya setengah berbisik.
“Kalau demikian, kau adalah generasi minggat yang malang. Maaf, tapi memang menyebalkan!”
Trots terjaga. Pukul dua malam. Mimpi yang selalu sama. Secara psikis dia menganggap adalah hal wajar ketika satu fase telah dilewati. Bukankah dia memang memang belum boleh berjalan jauh sebelum mengikuti ritual wisuda pelepasan sarjana baru. Bukankah dia tak dapat menolak sekalipun beda kehendak. Dia harus ikuti ritual yang tak dia dapatkan semangatnya itu demi ruang tamu. Demi ruang tamu. Demi selembar foto di ruang tamu.
*
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR] 28. Nasihat = Kotak Obat
Akhirnya Trots berhasil melangkahi tahap demi tahap Sangkuriang Project. Tentu berkat dibantu banyak orang baik dan kawan-kawan yang bersahabat. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menanyakan khabarnya pada target waktu penyelesaian Sangkuriang Project. Mereka juga yang tidak pernah menyalahkan gerak kura-kura Trots. Mereka pula yang tidak pernah memberi nasehat.
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR] 27. Staff Only?!?
Ada satu kesempatan, Trots menyambangi Deswah. Deswah tidak menyambutnya, seperti biasa. Janggutnya masih tetap tandus dielus-elus sembari fokus di layar komputer.
“Menyerang Dong Zhuo?” Sapa Trots.
“Hhhh… Kau lagi?!”
Kalau tidak ada pekerjaan, Deswah memang keracunan games di komputer. Koei; permainan yang diproduksi A Kou Shibusawa paling dia gemari. Itu permainan strategi perang yang diadaptasi dari Read the rest of this entry »
Use Both Sides of Paper if you have a printer with a double sided print option use it. You will save half of the amount of paper you would have normally used.