<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>syam&#039;s world &#124; green but not about a colour</title>
	<atom:link href="http://syam.dusunlaman.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syam.dusunlaman.net</link>
	<description>writing &#124; backpacking &#124; organicfarming</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Dec 2009 21:24:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mimpi</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/mimpi/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 21:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
 29. Mimpi 
Seperti pada mimpinya yang sulit untuk diceritakan pun pada sesiapa. Dia akhirnya memutuskan; pulang. 
“Pulanglah, pulanglah,” rumahnya memanggil-manggil. “Pasti menyenangkan.” Rumah itu merayu-rayu. “Kita adalah sahabat lama, sahabat lama dengan ruang bawah tanahku yang lembab. Tapi tentu menyenangkan sebab disini dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong> 29. Mimpi </strong></p>
<p>Seperti pada mimpinya yang sulit untuk diceritakan pun pada sesiapa. Dia akhirnya memutuskan; pulang. </p>
<p>“Pulanglah, pulanglah,” rumahnya memanggil-manggil. “Pasti menyenangkan.” Rumah itu merayu-rayu. “Kita adalah sahabat lama, sahabat lama dengan ruang bawah tanahku yang lembab. Tapi tentu menyenangkan sebab disini dapat kau seduh dengan aroma kopi dan tembakau pun. Aroma rempah-rempah. Tidakkah kau tertarik. Jangan bohong, aku mohon. Kamu merindukan aku. Sekali lagi, aroma rempah-rempah. Sedang kopi tak pernah membiarkan gelasmu kosong dari hangatnya. Jangan bohong lagi. Portugis juga melakukannya untuk itu, konon.”</p>
<p>Trot tidak bergeming dalam mimpi itu. “Rumahku adalah perjalanan,” jawabnya setengah berbisik. </p>
<p>“Kalau demikian, kau adalah generasi minggat yang malang. Maaf, tapi memang menyebalkan!”</p>
<p>Trots terjaga. Pukul dua malam. Mimpi yang selalu sama. Secara psikis dia menganggap adalah hal wajar ketika satu fase telah dilewati. Bukankah dia memang memang belum boleh berjalan jauh sebelum mengikuti ritual wisuda pelepasan sarjana baru. Bukankah dia tak dapat menolak sekalipun beda kehendak. Dia harus ikuti ritual yang tak dia dapatkan semangatnya itu demi ruang tamu. Demi ruang tamu. Demi selembar foto di ruang tamu.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Sama Dengan Kotak Obat</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/nasihat-kotak-obat/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/nasihat-kotak-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 16:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
 28. Nasihat = Kotak Obat 
Akhirnya Trots berhasil melangkahi tahap demi tahap Sangkuriang Project. Tentu berkat dibantu banyak orang baik dan kawan-kawan yang bersahabat. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menanyakan khabarnya pada target waktu penyelesaian Sangkuriang Project. Mereka juga yang tidak pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong> 28. Nasihat = Kotak Obat </strong></p>
<p>Akhirnya Trots berhasil melangkahi tahap demi tahap Sangkuriang Project. Tentu berkat dibantu banyak orang baik dan kawan-kawan yang bersahabat. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah menanyakan khabarnya pada target waktu penyelesaian Sangkuriang Project. Mereka juga yang tidak pernah menyalahkan gerak kura-kura Trots. Mereka pula yang tidak pernah memberi nasehat. </p>
<p>“Nasehat hanya ada pada kotak obat<span id="more-216"></span>,” Kata Trots suatu kali ketika seseorang mencoba tampak bijak kepadanya.</p>
<p>Trots tersipu dengan keberhasilannya menyelesaikan pekerjaan berat itu. Tersipu karena sebetulnya dia gagal menepati satu keinginan tidak akan pernah menyelesaikan kuliah seperti juga keinginan Umang; salah satu kawan baiknya. Keinginan itu secara detail lebih tepat disebut dengan berpindah-pindah kampus, dengan tanpa menamatkan. Indikator tamat di sini adalah mendapatkan selembar kertas tanda kelulusan dan embel-embel sebelum atau sesudah nama. </p>
<p>Meski merasa aneh, Trots mengikuti prosesi pelepasan sarjana baru atau wisuda. Setelah bosan berargumen untuk menolak akhirnya dia terima saja demi ruang tamu dan tiket ke surga karena menyenangkan umak.</p>
<p>Sementara, Umang berhasil melakukannya.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/nasihat-kotak-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Staff Only?!?</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/staff-only/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/staff-only/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 03:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
 27. Staff Only?!? 
Ada satu kesempatan, Trots menyambangi Deswah. Deswah tidak menyambutnya, seperti biasa. Janggutnya masih tetap tandus dielus-elus sembari fokus di layar komputer. 
“Menyerang Dong Zhuo?” Sapa Trots.
“Hhhh&#8230; Kau lagi?!”
Kalau tidak ada pekerjaan, Deswah memang keracunan games di komputer. Koei; permainan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong> 27. Staff Only?!? </strong></p>
<p>Ada satu kesempatan, Trots menyambangi Deswah. Deswah tidak menyambutnya, seperti biasa. Janggutnya masih tetap tandus dielus-elus sembari fokus di layar komputer. </p>
<p>“Menyerang Dong Zhuo?” Sapa Trots.</p>
<p>“Hhhh&#8230; Kau lagi?!”</p>
<p>Kalau tidak ada pekerjaan, Deswah memang keracunan games di komputer. Koei; permainan yang diproduksi A Kou Shibusawa paling dia gemari. Itu permainan strategi perang yang diadaptasi dari<span id="more-214"></span> sejarah Sam Kok, salah satu roman klasik Cina Kuno. </p>
<p>Tapi kalau sudah begini, Trots biasanya menyerobot.</p>
<p>“Jangan ganggu aku, aku sudah instalkan di komputer kotak sabun,” Kata Deswah.</p>
<p>Tapi Trots tidak seperti biasanya. Dia tidak mengganggu Deswah, menuju komputer kotak sabun juga tidak. Matanya menangkap selembar kertas tertempel di pintu kayu ruangan Deswah. Trots berjalan lambat ke arah pintu memastikan apa yang dia baca dari kejauhan. </p>
<p>“STAFF ONLY”</p>
<p>“Ini bahasa mana, Wah?!</p>
<p>Deswah menghentikan serangan ke Dong Zhuo atau Tang Toh dalam dialek Hokian yang mendapat bantuan lima pasukan Cao Cao atau dalam Hokian ditulis Co Coh. Membalikkan badan mengarah Trots. “Lha, Inggris.”</p>
<p>“Ooo.” </p>
<p>“Eh, Binatang. Kau sungguh-sungguh bertanya?”</p>
<p>“Pantas aku tidak mengerti.” Jawab Trots sembari merogoh sesuatu di saku jeans robeknya. “Barangkali karena aku belum pernah merasa dijajah inggris.”</p>
<p>Deswah sudah tidak memedulikannya, sibuk menyerang Dong Zhuo. Trots mencabut sesuatu rogoannya. Sebuah geretan besi. Kemudian membakarnya kertas yang melekat di pintu.”</p>
<p>“HEII!” Deswah melompat dari kursinya setelah menangkap kerja Trots dari cermin di hadapannya. </p>
<p>Hangus sudah itu kertas.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/staff-only/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cangkir Kopi di Lorong Angin dan Ideologi</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/cangkir-kopi-di-lorong-angin-dan-ideologi/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/cangkir-kopi-di-lorong-angin-dan-ideologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 13:10:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
 26. Cangkir Kopi di Lorong Angin dan Ideologi 
Salah satunya sangkuriang project, alasan Trots menolak mendapat upah dari lembaga yang pekerjaan mengkliping dia tangani. Kesibukan mengejar dead-line disepak dari kampus membuat ia tidak dapat melakukan apa-apa, koran-koran mulai bertumpuk sesak, tidak dipotong, ditempel, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong> 26. Cangkir Kopi di Lorong Angin dan Ideologi </strong></p>
<p>Salah satunya sangkuriang project, alasan Trots menolak mendapat upah dari lembaga yang pekerjaan mengkliping dia tangani. Kesibukan mengejar dead-line disepak dari kampus membuat ia tidak dapat melakukan apa-apa, koran-koran mulai bertumpuk sesak, tidak dipotong, ditempel, tidak dipilah dan tidak dibagi ke bidang-bidang kerja yang membutuhkannya. Tidak ada yang sempat membuat analisis media, membaca kecenderungan isyu global. Trots hanya sempat untuk membaca. Tapi teman-temannya di lembaga itu mengatakan, tetap ada hak yang harus dia dapat secara rutin.</p>
<p>Tidak ada keringat yang mesti diganti, itu alasan Trots, hingga tak ada alasan yang cukup filosofis untuk menerima. Darimana dia akan mendapat biaya bertahan hidup, Trots mau tak mau berpikir keras. Celengan. Berapa banyak dia punya uang di celengan? Tak banyak, hanya untuk satu bulan. Sementara tulisannya mulai tidak pernah dimuat di koran-koran. </p>
<p>Laki-laki itu mulai menyerah dan menghadap orangtuanya untuk mendapatkan bantuan keuangan lagi. Beberapa kawan yang bersahabat dan orang-orang baik, mulai membantunya satu demi satu. Itu membuat Trots cukup tenang, Tuhan tak akan membuatnya mati konyol.</p>
<p>“Tak pernah ada tikus mati kelaparan, katanya dalam hati. Asal tahu dimana Tuhan menyelipkan remah-remah.” Dia tulis kalimat itu<span id="more-212"></span> di satu tembok. </p>
<p>“Aku lelah.” Trots berkata kepada Muda Siahaan satu sore di lorong angin, demikian mereka berdua menamai tempat kecil berpohon pinang itu. Tanahnya dipecahkan oleh kemarau, tapi angin riang betul menyelusup saban sore. “Letih untuk membuat ide memiliki kaki, kita selalu memaksanya sekalipun tidak gampang.”</p>
<p>“Dia sudah ngajak kawin&#8230;” Balas kawannya yang gelap dan keriting itu.</p>
<p>Trots memandangi sahabatnya. Berfikir keras menarik hubungan atas perkataannya dan balasan Muda Siahaan. Mereka menghadapi secangkir kopi masing-masing. Berempat, dua lagi Penyu dan Daves. Pada mata ketiga temannya terlihat biru menghitam yang melingkar penuh disekitarnya. Mata itu seperti melesak ke dalam. Dan mereka terlihat selalu tersenyum damai, beriring dengan tawa-tawa mencurigakan. Padanya juga muncul tarikan-tarikan untuk mengajak tertawa. Tapi Trots tak menemukan alasan untuk itu.</p>
<p>Penyu tertunduk, entah untuk apa. Rambutnya makin riap hari ini. Muda Siahaan meraba kumisnya yang kian penuh dengan terus memelintir rokok setengah batang yang sudah mati. </p>
<p>“Malam nanti,… malam nanti, dimana kita akan minum kopi? Cari gratisan terpaksa, aku tak punya uang lagi!” Trots menegur paha Penyu dengan menggunakan kaki.</p>
<p>“Begini!” Tukas Muda Siahaan. Matanya mulai membelalak. “Jawabannya, ideologi!” Dia seperti ingin meloncat saja. </p>
<p>“Ya, aku sepakat. Dimana kita bisa dapatkan empat bungkus ideologi malam ini?”</p>
<p>Trots melengak, ia sapukan telapak tangan ke muka. Kemudian menggaruki ujung hidung yang berjerawat satu, memikirkan ketidakberesan pembicaraan mereka. “Apa yang kalian minum.”</p>
<p>“Malam nanti?”</p>
<p>“APA YANG KALIAN MINUM SEKARANG?!!!” Trots terpaksa mengeluarkan suara seperti bunyi panglong kayu di belantara.</p>
<p>“Apa yang kau minum, Trots&#8230;”</p>
<p>Kopi. Tidak ada yang lain memang. Ada apa dengan empat gelas kopi dihadapan mereka? Sejak tadi malam mereka tidak pernah saling meninggalkan, kecuali ke kamar mandi. Tidak ada aroma alkohol dari mulut mereka.</p>
<p>“Trots, biar enak lain kali kopi dicampur dengan ini, nih&#8230;” Penyu mengeluarkan bungkusan aluminium foil kecil dari saku celananya yang langsung rampas Trots. </p>
<p>Seperti sesuatu jenis rempah. Diolah lanjut menjadi hampir bubuk tapi kasar. Canabis!</p>
<p>Trots menghela nafas. Kedua kawannya tergelak-gelak. Trots menggeleng-geleng dan menanyakan apakah mereka akan makan.</p>
<p>“Punya uang?!”</p>
<p>Trots tidak menjawab. Merogoh ponsel seraya mengatakan dengan sisa pulsa terakhir mudah-mudahan mereka menemukan jawaban. </p>
<p>“Ya&#8230; Aku, Siahaan, Daves, Penyu, disini sedang kelaparan. Apa kau masih meliput? Ehm, baik setengah jam, aduh, OK satu jam. Bawakan empat bungkus ideologi, ya. Tolong. Kami akan mengingatmu sepanjang yang kami mampu atas kemurahan hatimu, dik, ha ha. Hei&#8230; jangan tersanjung karena aku tidak sedang memuji. Kamu manis, deh.”</p>
<p>Seseorang yang dihubungi barangkali sedang berkejar-kejaran dengan sumber beritanya adalah orang baik dan secara rela hati mau berkawan dengan empat orang lapar itu. Mulai hari itu mereka menemukan makna hakiki dari sebuah kata ‘ideologi’; nasi.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/cangkir-kopi-di-lorong-angin-dan-ideologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Sangkuriang Project</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/the-sangkuriang-project/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/the-sangkuriang-project/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 12:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
 25. The Sangkuriang Project
Cukup lama Trots tidak menyinggahi Deswah. Waktunya semakin tersita oleh Proyek Sangkuriang yang memang amat butuh konsentrasi. Menyambangi para sahabat dan komunitas lain menjadi sebuah sebuah kemewahan. Paling sering, ke kampus. Kalau tidak konsultasi, meminta-minta tanda tangan, mengejar ketertinggalan kuliah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong> 25. The Sangkuriang Project</strong></p>
<p>Cukup lama Trots tidak menyinggahi Deswah. Waktunya semakin tersita oleh Proyek Sangkuriang yang memang amat butuh konsentrasi. Menyambangi para sahabat dan komunitas lain menjadi sebuah sebuah kemewahan. Paling sering, ke kampus. Kalau tidak konsultasi, meminta-minta tanda tangan, mengejar ketertinggalan kuliah, urusan administrasi, mencari referensi, dan mengolah data, menemani beberapa kerabat yang juga seperjuangan. </p>
<p>Dunia Trots di satu titik di kampus adalah kantin. Melahap pindang patin dimasak ala Pegagan rasa pedas dan asam, mengangkat satu kaki di angkat ke bangku kayu, dibumbui sapaan-sapaan hangat, atau sekedar menikmati segelas kopi dan asap rokok, obrolan dari diskusi yang memecahkan otak sampai kelakar remeh, semuanya adalah kesenangan bergizi. Belakangan, di sana juga Trots melakukan barter karya sastra entah puisi entah cerita dengan satu komunitas adik-adik tingkatnya.</p>
<p>Selain ke kampus, dia mengendap di salah satu<span id="more-210"></span> rumah singgahnya. Pondok tempat dia (kerap) singgah itu berwarna jeruk, berukuran mungil tapi hangat. Bangunannya kecil berkamar tidur dua, salah satunya sekaligus adalah perpustakaan. Ada dua ruangan agak besar yang pertama menjadi ruang tamu, ruang rapat, barak besar, dengan papan pengumuman yang selalu berteriak atau sekedar berbisik dengan spidol hitam di whiteboar, misal “Tadi Buntel menelepon dari Pagar Alam, salam untuk kita semua katanya.” Satu ruangan lagi di bagian tengah dan berfungsi sebagai apa saja. Di dekat kamar mandi dan sumur yang rendah ada satu dapur besar yang juga gudang sekaligus workshop daur ulang kertas.</p>
<p>Di rumah singgahnya itu Trots mencoba berkonsentrasi menyelesaikan proyek Sangkuriangnya. Skripsi dan laporan-laporan dikeroyok bersama para kerabat di rumah itu juga.</p>
<p>Selebihnya, jika tak di kampus atau di sana dia pasti di luar Palembang. Sebetulnya dia semakin yakin proyeknya gagal. Maka beberapa kali dia pulang ke Prabumulih, untuk menemui Emaknya. Kepada emaknyalah pada suatu kesempatan kumpul keluarga dia mengatakan secara lamat-lamat bahwa dia mungkin tidak akan tamat dari kuliahnya. Dan ruangan menjadi penuh kekesalan, serta sedikit makian, “Bodoh!”.</p>
<p>“Semua orang patut kecewa jika itu terjadi,” emaknya menenangkan. “Tapi, kalian pikir cuma kalian yang kecewa? Dia tidak?” Emaknya memberikan pembelaan.</p>
<p>Pengadilan itu selesai dengan putusan bahwa Trots harus mengejarnya.</p>
<p>Selain Emak, adalah dosennya yang patut dipuji keberaniannya. Trots menamakannya Pak Tiga Satu. Penamaan itu karena dia suka, kawan-kawannya menterjemahkan bahwa dari tiga orang mahasiswa bimbingannya satu (pasti) parah (baca: bermasalah serius di bidang akademik).</p>
<p>Trots pernah bermain catch me if you can dengan satu dosen ini. Suatu kali mereka membuat janji konsultasi membicarakan penelitian Trots yang belum jelas. Mereka sepakat bertemu di sembilan lima belas. Pintu ruangan yang mirip bengkel itu terbuka ketika Trots datang pada waktu yang dijanjikan. </p>
<p>Dari arah pintu terlihat, rupanya seseorang –mahasiswi tahun ketiga&#8211; telah mendahului janji mereka. Kelihatan sang mahasiswi sedang serius menerima pengarahan. Trots mundur menunggu dari arah agak jauh. Ia merasa tidak enak mengganggu, jangan-jangan anak itu ada urusan yang amat penting.</p>
<p>Trots kemudian melarikan diri ke kantin. Begitu kopinya datang sebuah pesan sampai, bahwa sang dosen mengajar dulu dan Trots ditunggu setelah jam mata kuliah sang dosen. Dua kali 45 menit kemudian, dekat ke siang, di depan ruang kerja dosen yang bersangkutan ketika mereka bertemu. Sang dosen menyatakan bahwa dia ada janji penting di sebuah kantor konsultan pertanian di Palembang. Trots diminta menyusul ke sana tepat tengah hari. </p>
<p>Tepat tengah hari, sang dosen tidak ada lagi di tempat. Menurut informasi sang dosen boleh jadi pulang ke rumah atau pergi ke lapangan. </p>
<p>Trots memastikan dengan menelepon kerumahnya. “Barangkali ke lapangan?” Sahut penjawab telepon. Trot menghubungi ponsel sang Dosen. Dijawab oleh Veronika.</p>
<p>Trots mengejarnya ke dermaga speedboat tepian musi dekat bekas benteng Kutobesak yang sekarang dikuasai tentara dan mal. Sudah pasti Sang Dosen ke lapangan. Yang disebut lapangan adalah sebuah field dimana proyek sang dosen dilaksanakan. Proyek pendampingan petani di salah satu kawasan pertanian sebelah hilir Sungai Musi, sebelah timur Sumsel, daerah pesisir dekat laut, dekat Selat Bangka. Dibutuhkan tiga jam mencapainya. </p>
<p>Trots pasrah untuk sementara. Dan memastikan jika sampai malam ini dia tak mendapatkan Sang Dosen di Palembang, maka sudah pasti besok pagi dia susul sang dosen ke tempat yang ia tidak tahu persisnya itu. Trots belum pernah ke sana.</p>
<p>Dan benar, besoknya setelah melalui lahan basah yang luas sepanjang tiga jam dengan perahu cepat bermotor. Setelah mengejutkan banyak kumpulan bangau, belibis, dan burung-burung air, di rumah kayu kawasan transmigran Sang Dosen sudah menunggunya dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.</p>
<p>Hari-hari semakin berkejaran, seolah tiba-tiba siang, tiba-tiba malam.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/the-sangkuriang-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8230; Saiber</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/saiber/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/saiber/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/2009/12/saiber/</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
24. Saiber
Tadi sore Trotsminty menerima pesan pendek di telepon selularnya. Berbunyi; keep being my friend, with a simple hug and simple smile. Simple friendship will be better with a beautiful simple love =). Pengirimnya seseorang yang mengaku bernama Mimosa. Pesan itu dikirim pada detik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong>24. Saiber</strong></p>
<p>Tadi sore Trotsminty menerima pesan pendek di telepon selularnya. Berbunyi; keep being my friend, with a simple hug and simple smile. Simple friendship will be better with a beautiful simple love =). Pengirimnya seseorang yang mengaku bernama Mimosa. Pesan itu dikirim pada detik ke duapuluh lima menit ketigapuluh lima sebelum pukul enam sore tadi. Ini hari kesebelas di April.</p>
<p>Seseorang bernama Mimosa itu sedikitnya telah menjadi candu pada Trots. Hingga sesekali Trots menunggu-nunggu apakah ada pesan masuk pada halaman pribadinya di situs sajak. Sejak, tujuh sebelas duaribu dua.</p>
<p>“Mimosa, mimosa, kamu mengaku perempuan&#8230;” </p>
<p>Komunikasi di saiber dengan seorang asing memang harus belajar percaya sekaligus tidak peduli <span id="more-209"></span>ketepatan informasi yang dikirim. Trots awalnya menganggap ini semua hanya pertemuan dua unit komputer di dua titik di irisan dunia. Dan para pelakunya bisa saja dua orang iseng yang dapat mengaku sebagai siapa saja. Bisa saja mengaku Batman atau Susilo Bambang Yudhoyono atau Meg Ryan. Lalu akan saling melupakan atau kemudian membuat janji bertemu. Bersahabat secara sebetulnya, bisa saling mengecewakan, atau berlanjut ke pada membangun kencan, bercinta, atau kawin, semua bisa. </p>
<p>Mimosa, mengaku seorang perempuan. Guru sebuah taman kanak-kanak. Usianya hanya enam bulan lebih dulu dari Trots.</p>
<p>Makanya, “Kalau begitu, aku akan panggil kau sebagai&#8230; Kakak,” Tulis Trots suatu kali, kejahilan melayunya metu. </p>
<p>“Wakakak, kenapa tidak tante sekalian, Hiks.” Komputer entah di irisan dunia mana itu tertawa. “Sekolahmu dimana, dik? Hua ha ha <img src='http://syam.dusunlaman.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> &#8230;”</p>
<p>Menghadapi pertanyaan model begini, biasanya Trots melengos. Teringat kejadian beberapa waktu belum lama kemarin. Dia masih berjuang menyelesaikan studinya. Tidak seperti keinginannya jauh sebelumnya; akan mencoba beragam banyak jurusan pengetahuan di beragam perguruan dengan atau tanpa menamatkannya. </p>
<p>Trots teringat sebuah memoar yang ditulisnya begitu keluar dari ruang konsultasi dengan ketua jurusan di fakultasnya.</p>
<p>Dia menulisnya bahwa, secara sadar bahwa baginya tidak lulus dari sana adalah keniscayaan. Tapi tidak melalui semester terakhir dengan bersemangat, adalah tolol. Proyeknya adalah; memulai menyusun skripsi, melakukan praktek lapangan serta menyusun laporannya, menagih nilai Kuliah Kerja Nyata yang semula dia lupakan ketika dia tak mendapatkannya hanya karena terlambat menyusun laporan, mengulang tiga mata kuliah yang bernilai nol atau “E”. Jika gagal ini semua dirampungkan, maka dia drop out. Begitulah aturannya.</p>
<p>Semester terakhir itu sudah berjalan tiga bulan. Trots menyebut proyek di akhir umur kuliahnya dengan “Sangkuriang Project”. </p>
<p>Sangkuriang Project adalah perihal yang dia kirim terakhir kepada kawan mayanya terakhir. Komentar Ibu guru taman kanak-kanak itu, “Apa aku harus  mengirim bunga tanda ber-belasungkawa?”</p>
<p>Gdubrak!</p>
<p>Mereka setelah masuk tahun kedua telah saling menelepon dan berkirim beberapa pesan pendek. Dominannya berkirim puisi-puisi selular. Mereka kerajingan di dunia sastra selular; Mimosa penulis dan Trots pembaca. Salah satunya;</p>
<blockquote><p>Rindu itu terkait dihatiku, nyangkut bersama doa dan cinta. Kawan, ini cuma masalah jarak dan waktu, sedang kasih bisa merambat dalam ruang hampa=)<br />
(Mimosa, sent 00:12:53 20-03-2003) </p></blockquote>
<p>Ya, tapi gara-gara rindulah semuanya. Trots memaki dalam hati. Dia telah membuka tiga halaman sekaligus, provider tempat e-mail gratisnya, website puisi, dan website pornografi lokal. Membuka-buka apakah ada bagian diskusi yang harus dia turut berkomentar di salah satu mailing-list, melihat-lihat puisi yang baru di-posting, dan memeriksa cerita porno baru.</p>
<p>Yang terakhir segera dia tutup. Tak ada cerita baru. Cerita yang di-posting Trots masih menduduki peringkat teratas sebagai paling banyak dibaca. </p>
<p>Oh, yes&#8230;!  Trots menyukai dunia ini. Sekalipun belum pernah mencoba (dengan atau tanpa pengawasan orang dewasa), setidaknya menonton di film biru ia pernah. Aktivitas seksual mendekatkan pelakunya pada tiga aspek; positifistik, negatifistik, dan spiritual. Karena beberapa bunyi yang dominan; “Oh, yes!”, “Oh, no!”, dan “Oh, God!”</p>
<p>Sesekali ketika sariawan dia tidak menulis puisi atau pamflet politik lingkungan, tapi juga menulis cerita porno dan mempostingnya sesekali di situs pornografi. Manusia selain menyukai mimpi, juga menyenangi cerita kejahatan kriminal dan kejorokan fornografi, setidaknya itu opini. Acara di televisi komersil membuktikannya.</p>
<p>Mailing-listnya hanya penuh dengan ucapan selamat kawin yang berbalas-balasan kepada semua anggota dari beberapa mereka. Jeepney_79 menulis; Selamat mencoba Viagra. Blackbird mengucapkan selamat dan menyatakan rasa iri hatinya. Dari AtillaTheHun hanya membalas dengan attaching file sebuah gambar anjing saling menunggingi. Smallprincess mengirim gambar bunga. Djigrak-wongkito mengirimkan subject : unsubscibe; “keluarkan aku dari milist menyebalkan ini!”  Teriaknya. Memang tiap kali ucapan selamat baik suka atau duka selalu memenuhi kotak surat para anggota milis. Masih ada surat dari dua belas anggota lain yang tidak sempat dibuka Trots. Kemudian dia memberi tanda check kepada semua surat dengan subject “Malam Pertama Bono dan Ruda (doa kami)”.  Dia hapus semuanya.</p>
<p>Setelahnya dia meng-klik menu composse untuk menulis surat baru dan mengucapkan selamat kepada alamat pribadi Bono dan Ruda. Selamat, katanya. Menikah itu enak (tidak dibaca saja)  dan perlu (dilakukan). Seperti iklan sebuah majalah.</p>
<p>Setelahnya dua Trots mematikan provider alamat e-mailnya. Di situs puisi dia menemukan pesan singkat dari Mimosa. </p>
<blockquote><p>Subject: Note: Nunggu Aku!</p>
<p>“Aku akan pindah tugas ke Medan,” </p></blockquote>
<p>Perempuan itu mengumumkan. </p>
<blockquote><p>“Juni nanti.”</p></blockquote>
<p>Terserah kau mau pergi kemana. Trots juga tak merasa yakin dengan apakah dia sekarang di Jakarta atau di irisan bumi bagian mana. Anehnya dia merasa surat itu sepenting surat cinta. Berkekuatan yang membuat jantung berdebar-debar tiap kali ia datang.</p>
<p> “Selamat datang di belantara Sumatera. Percayalah kamu masih di dunia tropis.” Jawabnya. “Yang agak penting hanyalah tetap tak ada selisih waktu antara kita. Kita masih pada garis yang berdekatan menurut Greenwitch”. </p>
<p>Sebetapapun dia tidak terlalu menanggapi secara serius hubungan lewat dunia maya, tapi Mimosa setidaknya tidak pernah menanggapi komunikasinya dengan cara yang tidak mengenakkan. Baik rasa maupun nilai.</p>
<p>Pesannya terkirim. Dan dia menutup situs puisi itu. Mematikan modem dus komputer sekalian. </p>
<p>Waktunya menghirup udara malam, Trots. Persiapkan dirimu untuk jalan kaki lagi malam ini. Sebab besok harus di kampus tepat saat delapan tiga puluh. Bis menunggumu paling telat tujuh empatpuluh lima jika ingin santai. Jadi jangan tidur malam ini, sebab tidur adalah totalitas dan hanya azan di waktu dzuhur yang mampu membangunkanmu&#8230; atau k e b a k a r a n!</p>
<p>Malam masih dekat dengan petang. Sekitar Dunia Dalam Berita waktu TVRI zaman dulu. Lewat sedikit. Gerimis telah mati. Lampu ruang depan mati Trots membesuk Deswah lagi. </p>
<p>Laki-laki yang ditinggalkan dalam kerja drafting modul itu terkapar dengan kantung tidurnya. Hanya bagian dari atas leher saja yang tampak. Rambut gondrongnya tergeletak tak beraturan diatas bundel kliping. </p>
<p>“Wooooi! Pemalas!!!” Trot menjatuhkan badannya menjatuhkan badannya ke lantai kayu seperti atlet wrestling di televisi. Hasilnya lumayan, Deswah terkesiap.</p>
<p>“Ha ha! Ayo kita cari sesuatu yang berguna bagi perut.” Trots meninju arah perut rekannya. </p>
<p>Deswah bangun dan memaki-maki Trots dengan segala jenis isi kandang Ragunan. Tapi, “Ayo!” Katanya. Dia juga hampir kehabisan rokok.</p>
<p>Mereka harus menemukan sesuatu yang cukup hangat bagi perut malam ini. Mereka berjalan mundur sedikit dari bekas kompleks maskapai penambangan minyak asing yang berbangunan arsitektur western. Sambil berjalan mereka berbicara panjang lebar tentang apa yang mereka akan lalui. Trots menyodorkan kretek, bersamaan dengan Deswah menawarkan rokok sigaret berfilter, Trots dan Deswah yang tertawa. </p>
<p>Mereka selalu tertawa. Tertawa oleh sesuatu yang patut bernama; dunia. Bagi mereka tertawa adalah pekerjaan pokok urutan ke-enam. Lima hal pokok sebelum tertawa; Pancasila. Jangan utak-atik rumusan itu kalau tidak mau disebut subversif.</p>
<p>Mereka selalu tertawa.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/saiber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lowongan Kerja di Zahra Publishing</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/lowongan-kerja-di-zahra-publishing/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/lowongan-kerja-di-zahra-publishing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 18:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[lowongan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Lowongan Kerja di Zahra Publishing
Kelompok Penerbit Zahra (Zahra, Dastan Books, Daras Books), penerbit
buku yang tengah berkembang pesat, membuka lowongan pekerjaan untuk
posisi-posisi berikut ini:
1. CREATIVE EDITOR (CED)
Kualifikasi:
- Pria/wanita, pendidikan minimal S1.
- Usia maksimal 30 tahun.
- Memahami bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan baik.
- Memiliki kemampuan berkomunikasi dan interpersonal yang baik.
- Memiliki minat baca yang tinggi.
- Kreatif, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lowongan Kerja di Zahra Publishing</p>
<p>Kelompok Penerbit Zahra (Zahra, Dastan Books, Daras Books), penerbit<br />
buku yang tengah berkembang pesat, membuka lowongan pekerjaan untuk<br />
posisi-posisi berikut ini:<span id="more-178"></span></p>
<p>1. CREATIVE EDITOR (CED)</p>
<p>Kualifikasi:</p>
<p>- Pria/wanita, pendidikan minimal S1.<br />
- Usia maksimal 30 tahun.<br />
- Memahami bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan baik.<br />
- Memiliki kemampuan berkomunikasi dan interpersonal yang baik.<br />
- Memiliki minat baca yang tinggi.<br />
- Kreatif, berinisiatif, dan berwawasan luas.<br />
- Akrab dengan MS Word, email &amp; Internet.<br />
- Berdomisili di wilayah Jakarta atau sekitarnya.</p>
<p>2. STAF ADMINISTRASI (ADM)</p>
<p>Kualifikasi:</p>
<p>- Pria/wanita, pendidikan minimal D3.<br />
- Usia maksimal 30 tahun.<br />
- Menguasai MS Word &amp; MS Excel serta akrab dengan email &amp; Internet.<br />
- Teliti, berinisiatif, dan memiliki kemampuan administrasi.<br />
- Memiliki kemampuan berkomunikasi dan interpersonal yang baik.<br />
- Berdomisili di wilayah Jakarta atau sekitarnya.</p>
<p>Kirim CV dan surat lamaran Anda ke (plus foto terbaru) ke:</p>
<p>HRD Zahra Publishing House</p>
<p><a title="blocked::mailto:hrd@zahra.co.id" href="mailto:hrd%40zahra.co.id">hrd@zahra.co.id</a> / hrd[at]zahra.co.id</p>
<p>Cantumkan kode posisi di subjek email.</p>
<p>Foto disertakan dalam file (tidak terpisah sebagai attachment tersendiri).</p>
<p>File dalam format .doc (MS Word 2003).<br />
Selambatnya 15 Oktober 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/lowongan-kerja-di-zahra-publishing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memasak Tulisan</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/memasak-tulisan/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/memasak-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 18:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
23. Memasak Tulisan
Gerimis lebih tipis dibanding sore ketika Trostminty keluar dari rumah kost salah satu temannya yang disinggahi setepat waktu maghrib tiba. Seperti yang dia janjikan kepada Deswah, bahwa pada malam dia akan datang. 
Anak laki-laki itu seperti tidak perlu terburu-buru. Hanya merapatkan jaket [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong>23. Memasak Tulisan</strong></p>
<p>Gerimis lebih tipis dibanding sore ketika Trostminty keluar dari rumah kost salah satu temannya yang disinggahi setepat waktu maghrib tiba. Seperti yang dia janjikan kepada Deswah, bahwa pada malam dia akan datang. </p>
<p>Anak laki-laki itu seperti tidak perlu terburu-buru. Hanya merapatkan jaket blue jeans yang compang dan mengenakan topi model Mao dalam-dalam. Kelihatannya dia memilih berjalan kaki. Setidaknya akan dua puluh lima menit. Jalan kaki yang singkat baginya dibanding masa kanaknya di kampung dua jam arah tenggara Palembang.</p>
<p>Trot sekarang berusia lebih sedikit dari<span id="more-196"></span> duapuluh lima. Dia selalu menyebut pekerjaannya sebagai pemulung dan sesekali petani. Kadang mengakui statusnya masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Kegiatan sehari-hari nyaris standar; bangun, membaca berita-berita menarik di koran, menandainya untuk dikliping nanti malam, mandi jika merasa perlu, pergi berjalan-jalan atau datang ke kampus atau diskusi atau sekedar ngobrol, menulis, dan menunggu kantuk datang.</p>
<p>Setiba di rumah kayu setengah panggung itu, tetap melompong dengan pintu depan terbuka. Ruangan yang disekat-sekat menjadi lengang dan dingin. Dari pintu depan ruamah itu dipotong oleh lorong panjang, ada empat sekat berukuran hampir sama disebelah kiri; ruang bermeja tamu, ruang kerja staff keuangan, mushalla yang mirip  minibar atau saloon minum di film western, dan ruang kerja “pojok belakang”. Seberangnya sebelah kanan juga empat sekat berukuran hampir mirip; ruang kerja direktur berkaca penuh mirip akuarium berkaca gelap, ruang tempat  mendudukkan televisi, ruang bermeja dan pesawat telepon sekaligus lorong menuju perpustakaan, dan kamar mandi.</p>
<p>Sepatu Trots membuat lantai kayu berbunyi.  Dug! Dug! Dug!</p>
<p>Rupanya Deswah masih sendiri. Kata Deswah, sejak sore ada beberapa datang dan semuanya hanya singgah. Kata Deswah lagi, beberapa yang datang ke ruang kerja masing-masing, membaca-baca sebentar dan pergi lagi. Kalau tidak, segera tenggelam di layar laptop lalu pergi lagi. Atau ada yang berteriak-teriak sendiri, lalu senyap seperti sudah pergi. Ada yang datang tanya honor, dijawab tidak tahu, mungkin sesuatu kapan, lalu keluar.</p>
<p>“Kamu akan pergi kemana?” Giliran Trots yang ditanya Deswah.</p>
<p>“Aku pernah mengatakan akan pergi?”</p>
<p>“Biasanya dalam kondisi seperti ini, kamu pergi pun.”</p>
<p>“Jelaskan tentang biasanya dan kondisi seperti ini.”</p>
<p>“Aaarrrrgh!”</p>
<p>“Sok tau.”</p>
<p>“Jadi, ehm&#8230; kamu tak akan pergi?”</p>
<p>“Bukan urusanmu pun. Mana draft modul itu, tolong print-out-kan. Eh, tidak-tidak jangan cetak, biarkan saja dulu. Aku ambil referensi yang kita butuhkan dulu di perpustakaan. Lemari buku tidak dikunci?”</p>
<p>Deswah belum menjawab, Trots sudah meninggalkannya. </p>
<p>Perpustakaan itu telah sesepi kuburan purba. Buku-buku, kliping-kliping, majalah, brosur tergeletak malas. Dindingnya dilumuti kesepian. Ruangan itu tak lagi mampu memberikan kesenangan terbesar bagi Trots. Ruangan yang lemas.</p>
<p>Lemari buku terkunci. Jadi Trots hanya dapat mengintip-intip judul-judul buku dari balik kaca. Lima menit kemudian dia meninggalkan deretan buku di lemari seperti tak menemukan apa yang dia butuhkan. Dia bergerak pindah ke satu tumpukan berkas di pojokan,  tumpukan berkas yang dibuang sayang.</p>
<p>“Uphs! Maaf, Trots. Lupa aku kalau kunci lemarinya ada di celanaku, he he.”</p>
<p>“Sejak kapan kamu jadi pustakawan, hei?”</p>
<p>Deswah terdengar bersungut-sungut. Seperti bunyi gergaji tumpul menggesek besi.</p>
<p>“Pak, simpan saja kuncinya. Aku tidak melihat yang kita butuhkan di dalam lemari, he he.”</p>
<p>Deswah kepalanya miring seperti sedang memandang menara di Pisa agar tampak berdiri tegak. Tapi dia tersenyum, barangkali bertanya apa yang dicari Trots.</p>
<p>“Yihaaa! Aku menemukannya.” Trots bersorak dan mengangangkat setumpuk bahan bacaan yang dibutuhkan. “Kita akan begadang malam ini!”</p>
<p>Deswah menyerobot ke arah Trots. Memeriksa satu dua berkas di tangan Trots. Dan tiba-tiba seperti orang bingung. </p>
<p>“Trots, kita membutuhkan modul pendidikan gerakan lingkungan. Sekalipun modul untuk pemula, tapi bukan kumpulan resep obat tradisional, atau cara memasak, membuat kue atau masakan apa saja. Ini lagi, majalah fashion. Kita bukan hendak mengajar PKK, kan!” Penuh protes ketidaksetujuan.</p>
<p>“Tugasmu sekarang adalah menyiapkan KKBI dan Oxford Dictionary, Wah! Tentang ini nanti akan aku jelaskan di ruanganmu.”</p>
<p>“KKBI? Itu apa lagi? Tentang tata rambut?!”</p>
<p>“KKBI sama dengan Kitab, eh Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Trots tersenyum. “Cari saja. Aku duluan ke ruangmu. Kulitnya coklat”</p>
<p>Setengah tak puas dengan penjelasan Trots tapi Deswah mencarinya juga. Tak lama kemudian dia datang menyusul Trots yang sedang membuka-buka bahan bacaan sambil bersilah. </p>
<p>“Cukup?”  Tanya Deswah.</p>
<p>“Lebih.” Tukas Trots. Dia tak terlalu memedulikan gaya Deswah yang setengahnya bertanya mengejek.</p>
<p>Trots menjelaskan kepada rekannya tentang kegunaan beberapa referensi yang telah mereka pegang. Semua harus dimulai dari memahami secara tepat mengenai segala yang berkaitan dengan terminologi, istilah, frase, yang akan digunakan. Pemahaman mengenainya sangat berguna untuk meminimalisir kekeliruan penafsiran atas itu.</p>
<p>“Lalu buku pelajaran PKK-mu itu?” Deswah memajukan bibirnya tumpukan buku buku resep obat tradisional, guntingan artikel memasak, majalah-majalah fashion dan sekitarnya.</p>
<p>Trots memastikan niatnya memberitahu satu hal sederhana. “Aku beritahu kegunaannya sekarang&#8230;”</p>
<p>“Tunggu, apakah tidak lebih baik kita lakukan di dapur, saja. Trots, bisakah kamu lebih serius?! Kau pikir ini proyek main-main?!”</p>
<p>Trots menatap sahabatnya dengan tipis. Lalu mengambil rokok dan membakarnya.</p>
<p>“Barangkali, kamu tak butuh bantuanku.”</p>
<p>“Tai! Training ini, Trots, kurencanakan berlangsung tak lama setelah 22 April. Berarti hitungan sudah bukan bulan lagi. Mengertilah.”</p>
<p>“Baca ini, dulu&#8230; Jangan membantah lagi.” Trots menyodorkan selembar majalah lama yang baru disobeknya.</p>
<p>Deswah membaca keras-keras dengan geram. “Pisang Kepok Goreng Tepung Pedas.” </p>
<p>Trots tersenyum dan keluar ruangan. “Aku membuat kopi dulu.”</p>
<p>“Bahan; pisang kepok mengkal satu sisir, terigu dua ratus lima puluh gram, minyak sayur tiga ratus mililiter, air  100 cc&#8230; serbuk tai kucing kering secukupnya &#8230;.”</p>
<p>Dari dapur Trots mendengar karibnya dengan memegang perutnya. Dia menakar gula dan kopi sesuai selera mereka yang berbeda. Trots asal ada rasa gula saja, Deswah agak manis.</p>
<p>“Alat yang dibutuhkan adalah: satu kuali, irus alias sutil alias susuk besi&#8230; sudah cukup&#8230;?! Trots, apa bagian ini perlu detail? Bagaimana jika kumasukkan celana dalam juga&#8230;!”</p>
<p>Trots pura-pura tak mendengar. Lebih memilih duduk di dapur sambil mengisap-isap kretek menunggu  air di panci tak bertutup mendidih. Kira-kira berkisar lima menit, Trots membawa kopi membesuk Deswah. </p>
<p>Deswah di kursi kayu menghadap cermin besar di salah satu dinding. </p>
<p>“Pisang dibelah menjadi dua bagian atau potong dengan ukuran sesuai selera masing-masing. Siapkan adonan tepung terigu, kocok dengan kuning telur, masukkan garam secukupnya&#8230; dahak, ingus bolehlah disertakan&#8230;”</p>
<p>Trots membiarkan kawannya. Dia menyobek satu artikel busana musim kampanye pemilu.</p>
<p>Sampai dengan, “Selesai!” Sorak Deswah.</p>
<p>“Sekarang, ini!”</p>
<p>“Kacus! Kampang! Pilat! Anjing! Apa kita tidak bisa diskusi seperti biasa saja. Kau koreksi draft modulku. Kau perbaiki kalau ada yang kurang. Minimal kita diskusikan beberapa pointer yang perlu ditambah atau dibuang.” Deswah meremas sobekan majalah itu. Lalu melemparkan ke kotak sampah. “Kamu sakit?”</p>
<p>Trots malah mengangkat pantat ke meja. Melipatkan kaki kirinya.</p>
<p>“Kau sudah paham cara memasak Pisang Kepok Goreng Tepung Pedas, ha?!” </p>
<p>“Kamu sudah telepon ke 108&#8230; menanyakan kabar ingatanmu?”</p>
<p>“Tentu akan lebih mudah melakukan transfer pemahaman melalui modul yang kita susun sesederhana mengajari orang memasak.” Kaki kanan trots terayun-ayun. “Pada draft modul yang sudah kamu susun, aku tidak melihat kekeringannya baik pada substansi, essensi, nilai-nilai, maupun kemampuanmu melakukan agitasi dan propaganda.”</p>
<p>“Lalu kau ajak aku main-main seperti ini&#8230;”</p>
<p>Trots tertawa. Tapi sebentar. “Begini, Pak! Belajarlah menulis dengan sederhana, pilihan bahan yang dipahami orang jamak. Ingat kelompok sasaranmu kali ini kalangan “pemula”, kita anggap dan sebut mereka sebagai pemula. Pemula dalam tanda petik. Aku hanya ingatkan itu, bahasa pamflet dalam aksi massa berbeda dengan bahasa modul training sekali ini. Pelajari bagaimana orang memasak bahan-bahan mentah sampai dari cara meletakkan potongan cabe mentah pun bisa menimbulkan selera. Pelajari cara memotong kain menjadi baju, atau membuat takaran obat dari akar dan daun&#8230; paham!”</p>
<p>“Ooo&#8230;”</p>
<p>“Barangkali akan lebih baik jika gaya tulismu masih bisa diperbaiki di modul itu. Ayo.”</p>
<p>Deswah beringsut menuju komputernya.”Aku suka gayamu, Naifis! Orisinal?”</p>
<p>Trots mengendikkan bahu. “Kepalamu yang orisinal! Belum dipakai!”</p>
<p>“Babi!”</p>
<p>“Omong-omong, aku boleh pinjam komputer depan sekaligus line telepon? Aku harus lihat adakah surat baru ke email address-ku.”</p>
<p>“Tumben pakai permisi&#8230; Ini milik kolektif, tentu kau boleh.”</p>
<p>“Babi, justru karena milik kolektif, kau pikir aku atau siapa bisa eksploitasi sekehendak hati, he?” Trots memberikan senyum kepada Deswah. “Kolorku di loker jangan dipakai! Itu milik privat, Pak!”</p>
<p>“Binatang!”</p>
<p>Trots permisi sebentar meninggalkan Deswah, menuju ruang depan. Dia memastikan bahwa dua puluh menit lagi dia akan membantu mengerjakan modul yang diperbaiki Deswah.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/12/memasak-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulanya Suka-Suka</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/11/mulanya-suka-suka/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/11/mulanya-suka-suka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
#22. Mulanya Suka-Suka
Sesekali Trotsminty memang menulis satu dua puisi dan kadangkala cerita pendek. Namun lebih banyak membuat komik. Cerita-ceritanya cerita sangat biasa. Bisa tentang sungai yang berubah warna, tentang langit yang berubah aroma, tentang hutan hujan yang menjelma ilalang, petani kemudian kehilangan kebun kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]<br />
<strong>#22. Mulanya Suka-Suka</strong></p>
<p>Sesekali Trotsminty memang menulis satu dua puisi dan kadangkala cerita pendek. Namun lebih banyak membuat komik. Cerita-ceritanya cerita sangat biasa. Bisa tentang sungai yang berubah warna, tentang langit yang berubah aroma, tentang hutan hujan yang menjelma ilalang, petani kemudian kehilangan kebun kemudian menjadi tukang becak, kuli angkut, penodong, pemabuk atau apa saja, tentang insinyur pertanian yang menipu petani, tentang apa saja. </p>
<p>Sesekali dia diundang baca puisi, seperti sore itu. Tadinya dia menulis saja, tapi teman-temannya mengatakan dia tak boleh hanya menulis, juga harus<span id="more-194"></span> membacakan puisinya. </p>
<p>“Oo, ada kesemestian itu rupanya,” Belum pernah terpikirkan oleh Trots sebelumnya.</p>
<p>“Sepertinya kamu seorang penggiat organisasi non pemerintah?” tulis seseorang di alamat surat elektronik Trots.</p>
<p>Trots tak begitu peduli. Jangan terlalu percaya bahwa suatu cerita berasal dari latar belakang penulis, dia menulis tujuh kata sebagai jawaban atas surat kepada seseorang itu,  “Karl May bukan seorang koboi atau Indian.”</p>
<p>Tapi Tetewewe; begitulah user name yang tertulis –-orang lain yang juga mengirimi email kepada Trots, “Terus saja menulis karena kamu memahami apa yang kamu tulis.”</p>
<p>Trots tetap tidak peduli. Sore ini dia datang ke acara pembacaan puisi dengan tanpa ingin membacakan satupun. Dia hanya ingin datang dan menyaksikan ekspresi kawan-kawannya dalam (komunitas) Mulanya Suka-Suka yang memiliki singkatan sebagaimana kebiasaan Indonesia berlembaga. Mulanya mereka memang suka-suka, lalu kemudian melakukan semua pekerjaan kesenian itu sebersemangat para pemulung. Memunguti sisa apa saja menjadikan berbentuk-bentuk guna. </p>
<p>Sesekali di jalan dalam karnaval aksi solidaritas atas kasus atas issue atas kondisi tertentu, seseorang demi seseorang sesekali demi sesekali berkomentar, ”Kamu berbakat jadi seniman, Trots. Padamu, itu lebih kuat dari pada menjadi aktivis.” Jembatan Ampera diarah belakang siang itu.</p>
<p>Walah! Dikotomi lagi. Trots memilih tak peduli. Setiap orang adalah seniman, kata seseorang di masa lalu. Dan setiap tempat adalah panggung. Bagaimana dengan altar-altar peibadatan? Setiap orang juga aktivis. Tajab aktif membuat spanduk, Vitro aktif bermain gitar, Randu aktif menulis puisi dan iklan televisi, koruptor aktif mencuri uang negara, Capung aktif mengebor minyak,  Jajang aktif mengajarkan anak-anak bermain tanah liat, Nurdin dan Konang aktif menangkap ikan di Pulau Kemaro, emaknya aktif menyadap karet&#8230; Trots kamu aktif melakukan apa? Aktif berkhayal&#8230;?</p>
<p>Di acara pembacaan puisi sore yang lumayan ramai, kawan-kawan Trots semuanya sedang aktif berkesenian. Penuh ekspresi, keterlibatan, cengkarama, dan asap rokok.</p>
<p>Lalu rembang petang, acara baca puisi usai. Sebagian besar tidak langsung pulang melainkan membangun diskusi-diskusi “swasta” tentang apa saja. Bisa jadi tentang puisi dan pembaca puisi, bisa jadi tentang proyek-proyek budaya dan event-event kesenian berikutnya. Mereka bertebaran di lantai dalam lingkar kecil-kecil, sebagian mengambil tempat di teras lantai dua sekretariat Mulanya Suka Suka yang menumpang di sekretariat lembaga advokasi perempuan.</p>
<p>Trots sendiri memilih langsung menuju pulang. Sendiri menikmati sore kota yang disebut Venesia Timur yang dengan bangga mengatakan (pernah) ada 108 sungai di dalamnya. Nyatanya, memang semakin mirip Venesia; lebih-lebih saat banjir. Trots melangkah santai, daun-daun berwarna magenta gugur satu-satu karena angin beraroma sisa kemarau. Orang-orang dengan pakaian olahraga berlari kecil memutari telaga depan sebuah hotel. Anak-anak muda memacu gas sepeda motor, mobil-mobil berdecit berebut saling meninggalkan. Dan para pemancing tetap duduk dengan tenang setenang perempuan-perempuan disandar bahu kekasih mereka masing-masing.</p>
<p>Trots melangkah lagi. Hampir tiga bulan hidup memaksanya untuk berkontemplasi. Pekerjaan begitu menumpuk, terutama bagi seseorang pengincar kerja di tenggat akhir, last minutes person, jika tak ingin disebut sebagai penunda pekerjaan. Tiga bulan lagi dia harus tamat dari kampusnya, dengan atau tanpa ijasah. </p>
<p>Dengan demikian sebetulnya akan lebih baik dia menunda proses kontemplasi. Tapi renungan demi renungan, pemikiran demi pemikiran, rencana demi rencana, keinginan demi keinginan, kekesalan dan kesesalan tidak bisa dibendung seperti orang melakukan diet terhadap jenis makanan tertentu.</p>
<p>Trots kadang menyesal tepatnya bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa dia tidak diciptakan saja sebagai penjawab teka-teki silang, agar dapat berkonsentrasi dan tak begitu peduli dengan sesuatu di luar kotak-kotak pada lembaran kertas di depan mata. </p>
<p>“Trots, sudahlah santai saja. Kadang hidup terasa tak lebih dari terjebak dalam kenakalan Tuhan, he he.” Seseorang pernah menyuratinya demikian ke alamat e-mailnya. </p>
<p>“Hua ha ha, Pidato yang bagus,” Demikian jawab Trots. “Kejahilan Tuhan pada mesin simulasi sejarahnya.” </p>
<p>Gerimis mulai turun pecah-pecah. Trots tetap tak mengubah irama langkahnya. Hanya dengan mengenakan jaket yang semula digantung saja pada tas, menyulut sebatang kretek, dan menganggap air langit yang malu-malu itu tiada.</p>
<p>Sepenggal sore dan seorang Trots berjalan di menitinya. Lampu jalan kedinginan dan mulai menyala lemah. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/11/mulanya-suka-suka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>No More Exploitation!</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2009/11/no-more-exploitation/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2009/11/no-more-exploitation/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 03:30:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
#21. No More Exploitation!!
Suatu pagi, ia lahir di bawah matahari yang bersinar lembut. Bayi pasangan mantan pedagang buah antar pulau itu dinamakan dengan Trotsminty oleh Bapaknya. Ibunya seperti tidak berwewenang untuk sekedar mengusulkan nama. Barangkali saja perempuan tua yang telah susah payah mengalirkan makanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]</p></blockquote>
<p><strong>#21. No More Exploitation!!</strong></p>
<p>Suatu pagi, ia lahir di bawah matahari yang bersinar lembut. Bayi pasangan mantan pedagang buah antar pulau itu dinamakan dengan Trotsminty oleh Bapaknya. Ibunya seperti tidak berwewenang untuk sekedar mengusulkan nama. Barangkali saja perempuan tua yang telah susah payah mengalirkan makanan lewat sirkuit-sirkuit di rahim yang lebih rumit dari barang elektonik itu telah merencanakan nama, atau paling tidak terlintas tentang nama calon bayinya. Bisa saja sebuah nama terilhami oleh cahaya matahari pagi, oleh kulit yang cerah, oleh rambut kemerahan lagi tipis, atau dari apa saja menyangkut rasa sakit, rasa senang, atau doa atau bunga atau oleh sekedar kepak seekor kupu-kupu.</p>
<p>Penamaan Trotsminty yang sering disapa singkat dengan bunyi “Trots”, hanya kebetulan. Bapaknya teringatkan satu permen rasa (pedas) mint yang populer pada satu masa. Bungkusnya kertas, dikuasai warna merah dan kuning seperti warna ang-pao, dengan gambar<span id="more-191"></span> seorang kurus yang berkacamata model orang pemikir. Permen itu beberapa kali bapaknya terima dari seseorang kawan yang telah hilang, konon mungkin mati di Pulau Kemaro, mungkin terlempar di sungai Lematang,  mungkin terbantai di Tebing Bantaian dekat kota Muara Enim. </p>
<p>Ya, cuma-gara-gara merk permen. </p>
<p>Dia lahir menjadi laki-laki kecil yang liar, disekolahkan ke Taman Kanak-Kanak untuk bisa berkata, “Aku tidak mau lagi ke sekolah!” katanya suatu pagi.  Maka, merdekalah dia dari sekolah yang sejatinya adalah untuk membantu anak-anak melewati masa kanak-kanaknya. Bernyanyi, bermain atau lompat melompat, berkelahi, musuh-musuhan, berkawan-kawanan, berpegang tangan, menyusun batu atau balok, mengejar kupu-kupu, menyiram bunga, atau mengejar layang-layang putus. </p>
<p>Bukan untuk mengadu kepala dengan rumus menghitung, membaca, apalagi menjadi cerdas dengan indikator hapal nama menteri atau nama ibukota negara-negara. Di jamannya itu belum ada pembedaan antara Taman Kanak-Kanak, play-group, dan pre-school. Beberapa istilah yang membingungkan kepala. Berarti, Trots betul sewaktu tidak mau sekolah (TK), karena dia merasa belum waktunya.</p>
<p>Bermusim-musim kemudian, anak itu telah menjadi anak muda biasa. Hanya saja dia beruban lebih cepat dari kebanyakan orang. Rambutnya terlihat abu-abu berang-berang dari jarak agak jauh. Rambut itu dibiarkan saja agak gondrong, ada sebahu, mengalir dari kepala pada tubuhnya yang kurus. Mukanya dan bentuk tubuhnya mencirikan terlalu banyak merokok dan kurang teratur makan. Berkulit kering dan perih jika pori-posrinya di sapu dengan AC.</p>
<p>Tengah pukul dua siang yang bermatahari penuh, seperti kebiasaannya, dengan tanpa membuka sepatu dia masuk saja ke arah dalam rumah kayu setengah panggung itu. Mengenakan jaket jins robek cerai berai, buluk tapi bersih, kemeja warna hitam, dan celana jins biru pias. </p>
<p>Di ujung yang pojok terletak ruang kerja dengan cermin besar penuh coretan-coretan makian. Dia, Trotsminty, kerap panggil dengan Trots saja, langsung bergegas ke ruang kerja Deswah yang dinamainya dengan “Pojok Belakang”. Tempat itu adalah bagian dari kantor sebuah lembaga nirlaba dimana Trots bergabung sebagai relawan paruh waktu. Sudah relawan, paruh waktu lagi. </p>
<p>Di Pojok Belakang ia sering mengerjakan kesibukan dan kesukaannya selain di perpustakaan. Dia bekerja sebagai tukang kliping. Kesehariannya membaca koran, menandai berita-berita, artikel, features, opini isu-isu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam, HAM yang dianggap perlu dikliping. Diluar itu, dia mengkliping segala yang dianggapnya menarik sebagai proyek pribadi.</p>
<p>Deswah, salah satu koordinator program melibatkan Trots pada bagian dokumentasi dan informasi. Pekerjaan mengkliping menyenangkan bagi Trots. Berani bertaruh! Kesenangannya itu menjadikan ia mengetahui issue maupun informasi terkini tentang ruang lingkup kerja lembaga paling lengkap. Kecuali kondisi basis pendampingan, tentu saja. Karena tak pernah terlibat turun ke lapangan.</p>
<p>Karena pekerjaannya itu, maka kadang Trots diminta menyunting makalah-makalah seminar jika lembaga itu diminta menjadi salah satu pembicara. Kadang sebelum ada wawancara dengan media, entah koran, entah radio, televisi sekalipun, Trots diajak memberikan masukan terlebih dahulu tentang materi dan issue yang diwacanakan nanti. Trots seperti “anak buah” yang sedikit dibutuhkan lebih. Ada beberapa kesempatan yang karena persoalan teknis seperti penanggungjawab issue tertentu sedang keluar daerah atau perkara non-teknis seperti wacana-wacana khusus tak dipahami pimpinan lembaga sekalipun, maka Trots diminta menjadi pembicara dalam forum tertentu dengan memasang label sebagai “pengkampanye” padanya.</p>
<p>Kantor itu masih seperti kemarin-kemarin juga, penuh bundel-bundel kliping yang tak pernah marah dijadikan bantal. Trots melongokkan kepala ke ruang “Pojok Belakang”. Hanya sesosok tubuh terkurung dalam kantung tidur hingga pangkal leher. Rambutnya gondrong dan berbau buruk lagi khas air liur; Deswah. Kerabatnya itu masih tertidur meringkuk dekat satu sudut ruang kerja. Langsung dibangunkannya, “Hei, Pemalas!”</p>
<p>Laki-laki di kantung tidur bergerak sedikit, setengah terjaga. Tak lama kemudian, sudah duduk seperti mengumpulan serpihan-serpihan nyawa yang berterabaran, mungkin beterbangan sebagian. Mengucek-ucek mata sebentar, lalu memaki-maki orang yang datang. ”Dasar Binatang!” Teriaknya. Lalu bergerak menuju kamar mandi tanpa lebih dulu merapikan kantung tidur.</p>
<p>Trots menyalakan salah satu komputer yang membelakangi poster sketsa wajah Tan  Malaka, Peyo, Smurf berwarna hitam putih dalam satu pigura. Tak lama kemudian lagu-lagu menghentak dinding kayu. Dia berniat meng-copy semua file dokumennya dari hard-disc ke CD, lalu pergi. Tapi dia tak melakukan itu dengan segera, malah merapikan bundel-bundel kliping berita lingkungan dan pelanggaran HAM, menyalakan kretek, mencari-cari asbak, tapi kemudian melupakan apa yang dia cari. Abu rokok terbuang langsung ke lantai.</p>
<p>“Dari mana, Babi&#8230;?” Deswah telah selesai dari ritual di kamar mandi sehabis bangun. </p>
<p>“Sekolahan. Eh, tolong copy-kan semua file-ku, Boss”</p>
<p>Laki-laki yang masih sibuk menghanduki muka menerima CD kosong itu dan menyalakan komputer lain. “Semua file-mu sudah kupindah kesini,” Dia sembari menarik rokok dari saku Trots.</p>
<p>“Ooo&#8230;.”</p>
<p>Hari agak memendung dengan cahaya yang meredup. Kantor kayu yang senyap, bahkan kadang tanpa suara serangga pada malam-malamnya. Hanya Deswah yang selalu tidur setelah azan subuh, dan di belakang suara dapur yang biasanya riuh hari ini tidak.</p>
<p>“Nih, selesai!”</p>
<p>Tanpa ucapan terima kasih, keping berisi semua dokumen tentang catatan dan benih-benih tulisan ditaruh ke dalam tas warna tanahnya. Setelahnya Trots mematikan komputer yang ia pakai. Tas tersentak ke bahunya.</p>
<p>“Mau kemana lagi? Aku sedang butuh bantuanmu.”</p>
<p>“Bantuan apa? Kenapa tidak ke badan amal saja. Aku punya alamat Dompet Dhuafa Republika, kotak amal beberapa media lain, kok”</p>
<p>“Came on, cuma sebuah modul untuk training lingkungan.”</p>
<p>“Aku banyak belajar dari kamu malah tentang itu. Dan kebetulan aku diundang baca puisi empatpuluh lima menit lagi, boss. Nanti malam kalau sempat mampir, aku bantu. Tinggalkan saja pesan. Okey?”</p>
<p>“Binatang!”</p>
<p>“Hua ha ha&#8230; tapi sepertinya aku harus mandi dulu.” Tas sekaligus lemari berjalan ia letakkan di meja. “Eh, tidak ada yang membuat kopi hari ini?”</p>
<p>Menurut Deswah, staff rumah tangga yang merangkap membantu Trots menggunting kliping koran, merangkap koki, merangkap teman bercanda tidak masuk kerja hari ini. “Tapi Kau bisa bikin sendiri. Eh, tidak, Kau mandi saja, aku akan racik dua gelas.” </p>
<p>Staff rumah tangga yang dengan senang hati membuatkan mereka kopi atau teh tidak datang, sebab tak punya uang untuk bayar ongos angkot karena sudah tiga bulan tidak menerima honor. “Trots, sepertinya dua hari lagi kita gajian. Ada dana program yang bisa kita switch.”</p>
<p>“Switch&#8230;.? Switch child O’ mine &#8230;.? Ha ha. Kita tanpa aku, Hiks”</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>“Aku harus mengambil hakku untuk tidak menerima honor.” </p>
<p>“Pfffh..!”</p>
<p>“Aku tidak mengeluarkan keringat untuk kerja kita nyaris empat bulan ini, toh.”</p>
<p>“Tapi&#8230;”</p>
<p>“Sudahlah. Waktuku tinggal 35 menit lagi. Sepertinya akan lebih baik jika urusan mandi kulakukan sekarang.” Obrolan itu ditutup dengan suara turun dua laras.</p>
<p>Deswah melangkah keluar ruang kerja mereka, seperti akan menuju arah perpustakaan di badan rumah sebelah kiri dan belok jika dia berbelok ke arah kiri ada dapur di sana. Trots segera ke kamar mandi. Tinggal suara pintu kamar mandi yang berhadapan dengan ruang kerja bercermin sebahu.</p>
<p>Di kamar mandi&#8230; Di kamar mandi seseorang akan dengan mudah diketahui terkena penetrasi kapitalisme atau minimal keracunan iklan atau tidak. Trots mulai menelanjangi diri. berkaca di depan cermin besar dikamar mandi. “Yaaaaaaaaa! Aku bugil!”</p>
<p>Tangannya pelan membuka tas kecil tempat menyimpan peralatan mandi. Tas kecil tersebut sangat berguna bagi seorang yang dalam sehari tak akan mandi di tempat yang sama. Isi tas keluar satu persatu; pasta gigi dua merk, satu merk pasaran satu lagi seukuran jari kelingking dengan label sebuah hotel. Demikian juga dengan shampo. Sabun cair, sabun mandi yang belum dipakai dari sebuah hotel, dan satu sikat gigi. Tak ada  sabun khusus pembersih muka, apalagi sabun sirih. Tak ada conditioner, tak ada obat kumur dan pewangi mulut, tak ada sabun untuk mencukur kumis atau rambut-rambut di wajah. Tak ada parfum atau macam-macam deodorant. Tak ada lotion untuk kulit, untuk wajah, apa lagi untuk melembutkan kapalan. Meski sekarang telah tersedia sabun khusus wajah, khusus badan, selangkangan, dan (jangan-jangan) setiap jengkal tubuh memiliki sabun khusus. </p>
<p>Hanya dengan sabun, odol dan shampo saja sudah demikian repot. Di kamar mandi sambil melagukan beberapa nyanyian, Trots teringat masa kecilnya mandi sekaligus keramas dengan sabun cuci saja. Cap Gajah! Sesekali berkeramas dengan getah lidah buaya, perasan daun mangkokan, atau arang dari tangkai padi. Sesekali pula memoles rambut dengan minyak kelapa yang masih segar.</p>
<p>Sementara, air terus menerus turun dari kran, ditangkap bak mandi, diambil gayung, disiramkan ke badan. Air terus dikuras dan bersuara. Trots menimpali dengan nyanyian.</p>
<p>Sehabis mandi, di meja kerja Deswah ada dua mug kopi. Trots mengambil satu darinya. “Binatang, kau terlalu banyak menyiramkan gula ke sini!”</p>
<p>“Yang satunya&#8230;”</p>
<p>“Uphs, thanks!”</p>
<p>Deswah sedang tenggelam di pekerjaan, memulai menyusun modul ketika Trots harus pergi sehabis setengah gelas kopi.  </p>
<p>“Pinjamlah semangat para penambang mengejar urat emas ketika kau menulis!” Trots seperti berteriak dari pintu. </p>
<p>“Aku pejuang anti tambang! N O  M O R E  E X S P L O I T A T I O N !” Juga mirip teriakan. Datang dari dalam rumah.</p>
<p> *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2009/11/no-more-exploitation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
