<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>syam&#039;s world &#124; green but not about a colour</title>
	<atom:link href="http://syam.dusunlaman.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syam.dusunlaman.net</link>
	<description>writing &#124; backpacking &#124; organicfarming</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Apr 2011 11:16:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lelaki Tua di Tepi Telaga &#124; Kisah Peri Buluk</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2011/04/lelaki-tua-di-tepi-telaga-kisah-peri-buluk/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2011/04/lelaki-tua-di-tepi-telaga-kisah-peri-buluk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 11:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gumam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki tua di tepi telaga
Duduk menanti pendar satu peri
Ia simpan satu rahasia
Sekeping hati terbawa mati
[sebuah cetusan setelah membaca novel fantasi anak "Peri Buluk" Karya Benedicta Hanna. Hal. 171, dst]

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lelaki tua di tepi telaga<br />
Duduk menanti pendar satu peri<br />
Ia simpan satu rahasia<br />
Sekeping hati terbawa mati</em></p>
<p>[sebuah cetusan setelah membaca novel fantasi anak "Peri Buluk" Karya Benedicta Hanna. Hal. 171, dst]</p>
<p><object height="28" width="335"><param value="http://www.divshare.com/flash/audio_embed?data=YTo2OntzOjU6ImFwaUlkIjtzOjE6IjQiO3M6NjoiZmlsZUlkIjtzOjg6IjE0NTEwOTM4IjtzOjQ6ImNvZGUiO3M6MTI6IjE0NTEwOTM4LTcwYSI7czo2OiJ1c2VySWQiO3M6NzoiMTc2NDQyOSI7czoxMjoiZXh0ZXJuYWxDYWxsIjtpOjE7czo0OiJ0aW1lIjtpOjEzMDIxNzQ1ODY7fQ==&#038;autoplay=default" name="movie"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed wmode="transparent" height="28" width="335" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" src="http://www.divshare.com/flash/audio_embed?data=YTo2OntzOjU6ImFwaUlkIjtzOjE6IjQiO3M6NjoiZmlsZUlkIjtzOjg6IjE0NTEwOTM4IjtzOjQ6ImNvZGUiO3M6MTI6IjE0NTEwOTM4LTcwYSI7czo2OiJ1c2VySWQiO3M6NzoiMTc2NDQyOSI7czoxMjoiZXh0ZXJuYWxDYWxsIjtpOjE7czo0OiJ0aW1lIjtpOjEzMDIxNzQ1ODY7fQ==&#038;autoplay=default"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2011/04/lelaki-tua-di-tepi-telaga-kisah-peri-buluk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tes Autoplay 4Shared</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/12/tes-autoplay-4shared/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/12/tes-autoplay-4shared/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 05:05:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><embed src="http://www.4shared.com/embed/65941308/a3030253" width="420" height="250" allowfullscreen="true" allowscriptaccess="always"></embed></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/12/tes-autoplay-4shared/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ponsel yang Ia Benci!</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/11/ponsel-yang-ia-benci/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/11/ponsel-yang-ia-benci/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2010 07:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan sekadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Ponsel yang Ia Benci!
: Catatan Kecil BuRuLi
“Aku benci ponsel!”
Demikianlah. Ia kerap mematikan ponselnya sampai membuat semua orang, yang barangkali nyaris se-Indonesia sulit menghubungi dia. Tentu saja ada seseorang yang paling istimewa bentuk kepanikannya: Dang Perempuan!
: Biip!
“Kenapa dimatikan? Aku kan kangen? Hiks! Hidupin, dooong!!”
:Biip!
“Kamu ada dimana, sayaaanggg…”
:Biip!
“Udah sampai mana?”
:Biip!
“Jadi kesini, kan?”
:Biip!
“Nanti kalau udah sampai bilang, yaaa”
:Biip!
“Pulsamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ponsel yang Ia Benci!</strong><br />
: Catatan Kecil BuRuLi</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku benci ponsel!”</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah. Ia kerap mematikan ponselnya sampai membuat semua orang, yang barangkali nyaris se-Indonesia sulit menghubungi dia. Tentu saja ada seseorang yang paling istimewa bentuk kepanikannya: Dang Perempuan!</p>
<p style="text-align: justify;">: Biip!<br />
“Kenapa dimatikan? Aku kan kangen? Hiks! Hidupin, dooong!!”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Kamu ada dimana, sayaaanggg…”<span id="more-340"></span></p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Udah sampai mana?”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Jadi kesini, kan?”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Nanti kalau udah sampai bilang, yaaa”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Pulsamu masih ada?”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Sayang.. jangan lupa makaaannn”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Mwah! Mwah! Mwah! Mmmhh!!</p>
<p style="text-align: justify;">“Ponsel itu melelahkan!” Keluhnya sungguh. Maka ia demikian kerap mematikan ponselnya. Sekali lagi: Itulah alasannya!</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan menghubungimu”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi…”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tenanglah…”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi…”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ia menghilang dari peredaran untuk beberapa hari, sekali lagi ia telah  membuat panik orang-orang yang  hampir se-Indonesia banyaknya itu dan terutama :  perempuannya!</p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan yang selalu mengomel itu</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Aku kecarian kamuuu”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Banguuun!!”</p>
<p style="text-align: justify;">:Biip!<br />
“Sudah mengerjakan ini, ini dan itu beluuum?”</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah!<br />
Maka ia memilih untuk mematikan ponselnya. Ribut!</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan karena kamu” Katanya pada suatu hari.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“… … …”</p>
<p style="text-align: justify;">“Karena orang banyak?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Banyak pertanyaan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Banyak permintaan?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kau merasa tidak merdeka?”</p>
<p style="text-align: justify;">“IYA!!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi kau membutuhkan itu”</p>
<p style="text-align: justify;">“Harus?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebenarnya kami yang membutuhkan kau untuk turut menggunakan alat itu …barangkali. Hiks!”</p>
<p style="text-align: justify;">Ha ha! Demikianlah kita memberikan pengakuan itu padanya.<br />
Ugh! Ugh! Ugh!</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa tak adilnya kita kepada dia yang membenci ponsel! Kenapa kita jadi harus memaksanya menyukai ponsel juga?</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi sesungguhnya engkau membutuhkannya juga…”</p>
<p style="text-align: justify;">“… … …”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lepas dari kau menyukainya atau tidak”</p>
<p style="text-align: justify;">“… … … “</p>
<p style="text-align: justify;">“Juga bahwa membeli pulsa bukanlah sesuatu yang murah”</p>
<p style="text-align: justify;">“… … …”</p>
<p style="text-align: justify;">Membicarakan tarif komunikasi di Indonesia juga bukan hal yang menyenangkan tentunya!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Ia semakin membenci ponselnya saja. Dan ia semakin ingin membunuhnya!</p>
<p style="text-align: justify;">… … …</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi sekarang di alamat lamaran kerja dibutuhkan nomer ponsel juga”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Semuanya ingin praktis”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bahkan tukang sayur, tukang ojek, supir, apa saja jenis pekerjaannya, mereka membutuhkan ponsel”</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah harus?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebenarnya memang tidak”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi…?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenyataannya begitu…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan memang membuat kita bertindak tak adil kepada mereka yang tidak menyukai keberadaan Ponsel. Sesuatu yang mahal dan rewel.</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat libur kalau ponsel menyala rasanya seperti tak sedang berlibur lagi!” kata seorang kawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka kalau memang sedang liburan, ponsel aku matikan saja! Atau aku hidupkan ponsel yang  bernomor  khusus untuk diketahui keluarga saja!”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia, seseorang yang membenci ponsel itu tertawa. Kalau boleh ia akan memilih untuk selalu mematikan ponselnya, atau sekalian membuangnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali hanya ada satu orang yang membuat ia masih mau mempertahankan keberadaan ponselnya sampai hari ini, meski bukan berarti ia tak memilih untuk tak sering-sering mematikan ponselnya lagi: Dang Perempuan. Kekasihnya. Si bawel yang tercinta!</p>
<p style="text-align: justify;">(BuRuLi, LeBul: 08.08.2004/ 04:53 AM)<br />
*Love you!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/11/ponsel-yang-ia-benci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Debu</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/karena-debu/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/karena-debu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 22:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gumam]]></category>
		<category><![CDATA[catatan sekadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[debu]]></category>
		<category><![CDATA[dust in the wind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[(1)
Karena kau air mata,
Aku butir debu
Partikelku mengikat titikmu
 * ini prinsip dasar dalam fisika, ‘Ia.
[mimo&#38;trots]

Hampir pecah sudah puasa saya! Bila  tak punya halaman pribadi ini, bisa-bisa puasa ngeblog di kompasiana  batal di pagi ini. Bisa dibilang hampir tak tahan dengan godaan subyektifnya Bambank dan aktifnya pungky (entah bila terbalik).
Sepenggal komentar bambank:
Debu itu benda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>(1)<br />
<em>Karena kau air mata,<br />
Aku butir debu<br />
Partikelku mengikat titikmu</em></p>
<p><em> </em><em>* ini prinsip dasar dalam fisika, ‘Ia.</em><br />
[mimo&amp;trots]</p>
</blockquote>
<p>Hampir pecah sudah puasa saya! Bila  tak punya halaman pribadi ini, bisa-bisa puasa ngeblog di<span id="more-336"></span> kompasiana  batal di pagi ini. Bisa dibilang hampir tak tahan dengan godaan <a href="http://filsafat.kompasiana.com/2010/09/01/subjektif-aktif/">subyektifnya Bambank dan aktifnya pungky</a> (entah bila terbalik).</p>
<blockquote><p>Sepenggal komentar bambank:<br />
<em>Debu itu benda tak berguna lagi membahayakan apalagi jika mengenai mata. </em></p>
<p>Penggalan sisanya:<br />
<em>Tidak, debu itu materi yang sangat aneh, indah, bisa membentuk apa saja, di mana saja dan pas sesuai kemauan saya.</em></p>
</blockquote>
<p><strong>Debu:Materi Multi-Manfaat</strong></p>
<p>Saya teringat pelajaran dasar yang pernah saya dapat. Tentang hujan. Karena adanya partikel debu yang mengikatnya, maka uap air yang terangkat ke atmosfer termungkinkan untuk berubah wujud dari gas ke cair dan menjadi titik air. Ia pula yang kelak jatuh sebagai hujan.</p>
<p>Secara sederhana, ada debu ada kemoceng. Debu sebagai fenomena “negatif” melahirkan inovasi pembuatan kemoceng, dan pada level teknologi lebih canggih dia melahirkan penghisap debu (<em>vacuum cleaner</em>).  Karena debu, maka industri farmasi meracik obat alergi debu.</p>
<p><em>Halah</em>! Ketimbang bual makin ngawur mending akhiri saja. Sambil dengar <em>Dust In The Wind</em> – Kansas.</p>
<p><em>Eh</em>, satu lagi. Karena adanya debu, kalau tak ada air untuk berwudhu, dimungkinkan untuk tayamum. <img src='http://syam.dusunlaman.net/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>[Syam@R; LeBul, 1 September 2010]</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="480" height="385" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/koBWtYVRf-0?autoplay=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="480" height="385" src="http://www.youtube.com/v/koBWtYVRf-0?autoplay=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/karena-debu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sublimasi Ketololan</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/sublimasi-ketololan/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/sublimasi-ketololan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 16:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gumam]]></category>
		<category><![CDATA[catatan sekadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[sound likes a poem (but not!)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Sublimasi Ketololan
[1]
Aku adalah bocah yang ingin mengetapel jatuhkan bulan
Agar pungguk tak lagi kurang kerjaan
[SyamAR; Cibadak, 15 Jan 2010]
[2]
Semasa bocah kami kenal sejenis kumbang
Kepalanya kami puntir berpisah dengan badan
Sang Kumbang meraung macam gasing
Dalam tolol bocah, kami kira dia menari
[3]
Di kehidupan berikutnya aku jadi pacat saja
Makan, gendut, lalu puasa.
[4]
Sudah tak salah nyamuk pendemam berdarah
Tuhan tak ciptakan dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_54939" class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/01/sublimasi.jpg"><img class="size-medium wp-image-54939" src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/01/sublimasi-210x300.jpg" alt="//blog.mlive.com/chronicle/2007/12/Jeff_King.jpg" width="210" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">sublimasi, image dioprek dikit dari sumber aslinya http://blog.mlive.com/chronicle/2007/12/Jeff_King.jpg</p></div>
<p>Sublimasi Ketololan</p>
<p>[1]<br />
Aku adalah bocah yang ingin mengetapel jatuhkan bulan<br />
Agar pungguk tak lagi kurang kerjaan</p>
<p>[SyamAR; Cibadak, 15 Jan 2010]</p>
<p>[2]<br />
Semasa bocah kami kenal sejenis kumbang<br />
Kepalanya kami puntir berpisah dengan badan<br />
Sang Kumbang meraung macam gasing<br />
Dalam tolol bocah, kami kira dia menari</p>
<p>[3]<br />
Di kehidupan berikutnya aku jadi pacat saja<br />
Makan, gendut, lalu puasa.</p>
<p>[4]<br />
Sudah tak salah nyamuk pendemam berdarah<br />
Tuhan tak ciptakan dia pengudap daun penggerogot buah</p>
<p>* [2], [3], [4] *<br />
[SyamAR; Ciawi, 15 Jan 2010]</p>
<p>[5]<br />
Terkenang gelak seorang sahabat,<br />
Kalau pun kami menjadi katak<br />
Dalam tempurung pun tak apa,<br />
Asal tak sendiri, selalu bersama</p>
<p>[SyamAR; LeBul, 16 Jan 2010]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/sublimasi-ketololan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pamflet Cinta Pada Empon-empon</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/pamflet-cinta-pada-empon-empon/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/pamflet-cinta-pada-empon-empon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 10:35:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gumam]]></category>
		<category><![CDATA[catatan sekadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Musikalisasi Sekadar Bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/2010/08/pamflet-cinta-pada-empon-empon/</guid>
		<description><![CDATA[
Pamflet Cinta Pada Empon-empon
Oo, empon-empon
Tentang rasa yang kupunya, kau abaikan saja
Oo, empon-empon,
Ku tak patah hati, meski tlah kusangka
Kau tak membalasnya
Kubiarkan saja, bertumbuhlah liar
Di kebun sayurku, menarilah bersama
Kupu-kupu kuning kunyit
Hingga surya menua sendiri


Racau yang saya namai Pamflet Cinta di atas, berikut dengan musikalisasi (asal genjreng) sepanjang 2 menit 40 detik, baru saja saya tulis malam ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify"><strong>Pamflet Cinta Pada Empon-empon</strong></p>
<p style="text-align: justify"><em>Oo, empon-empon<br />
Tentang rasa yang kupunya, kau abaikan saja<br />
Oo, empon-empon,<br />
Ku tak patah hati, meski tlah kusangka<br />
Kau tak membalasnya</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>Kubiarkan saja, bertumbuhlah liar<br />
Di kebun sayurku, menarilah bersama<br />
Kupu-kupu kuning kunyit<br />
Hingga surya menua sendiri</em></p></blockquote>
<p style="text-align: justify">
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="335" height="28" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.divshare.com/flash/audio_embed?data=YTo2OntzOjU6ImFwaUlkIjtzOjE6IjQiO3M6NjoiZmlsZUlkIjtpOjExNzA3NDY4O3M6NDoiY29kZSI7czoxMjoiMTE3MDc0NjgtM2I0IjtzOjY6InVzZXJJZCI7aToxNzY0NDI5O3M6MTI6ImV4dGVybmFsQ2FsbCI7aToxO3M6NDoidGltZSI7aToxMjgyNTQ1MTMyO30=&amp;autoplay=default" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="335" height="28" src="http://www.divshare.com/flash/audio_embed?data=YTo2OntzOjU6ImFwaUlkIjtzOjE6IjQiO3M6NjoiZmlsZUlkIjtpOjExNzA3NDY4O3M6NDoiY29kZSI7czoxMjoiMTE3MDc0NjgtM2I0IjtzOjY6InVzZXJJZCI7aToxNzY0NDI5O3M6MTI6ImV4dGVybmFsQ2FsbCI7aToxO3M6NDoidGltZSI7aToxMjgyNTQ1MTMyO30=&amp;autoplay=default" wmode="transparent" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<div id="attachment_67532" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/02/empon-empon-di-areal-hutan2.jpg"><img class="size-medium wp-image-67532" src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/02/empon-empon-di-areal-hutan2-300x224.jpg" alt="empon-empon di tepi hutan, gambar comotan dari blog orang" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">empon-empon di tepi hutan, gambar comotan dari blog orang</p></div>
<p>Racau yang saya namai <strong>Pamflet Cinta</strong> di atas, berikut dengan musikalisasi (asal genjreng) sepanjang 2 menit 40 detik, baru saja saya tulis malam ini. Tak garang. Saya lebih nyaman menamainya <em>marsmellow</em>!</p>
<p style="text-align: justify">Saya hanya sedang terkenang petak empon-empon atau tumbuhan rimpang-rimpangan, banyak juga menggolongkannya sebagai <em>javanese spices</em>. Jahe dan kencur yang saya tanam. Petak itu, arah 0 derajad jika jendela dan <em>si ijo</em> alat saya mengetik adalah kompas. Cuma menyeberang sawah dari pondok bambu tempat saya berlindap.</p>
<p style="text-align: justify">Ini adalah kisah kegagalan petani malas. Awal 2008, kami berencana menandur<span id="more-332"></span> dua jenis empon-empon ini sebagai selingan di petak lengkeng. Supaya ada arti tambahan ketika melakukan penyiangan.</p>
<p style="text-align: justify">
<p>Pola penanaman memakai cara yang saya kira praktis. Agar rimpang dapat tumbuh baik, tanah mesti gembur. Bikin parit memanjang horizontal berbanding kemiringan. Ikut garis kontur lahan!</p>
<p style="text-align: justify">Nantinya, parit memanjang diisi kompos, jerami, dan tanah. Gembur, kan? Nah, taruh tuh bibit empon-empon. Berbaris mengikuti alur parit.</p>
<p style="text-align: justify">Tanpa sadar, setelah berkali-kali datang hujan, hingga pengujung musim basah… saya curiga kenapa tak mereka tampak tumbuh tak tertip. Ada yang tumbuh bergerombol, ada yang sendiri jauh dari teman, makin ke arah atas lahan (kebetulan lereng), makin sepi.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Bablas</em>! Sebagian bibit ternyata berenang terhanyut hujan yang datang deras dan kerap. Halah, <em>ndilalah</em>! Ternyata parit yang digali tidak mengikuti kontur. Cenderung miring, maka wajar bila air salah kira. Air kira  itu saluran air. Kebanyakan bibit benar-benar hilang. Mungkin sampai pelesir di <em>curug</em> (air terjun) atin di hilir Cijapun.</p>
<p style="text-align: justify"><em>Ajajajajaja</em>…!</p>
<p style="text-align: justify">Sudahlah! Bukan salah yang dapat borongan bikin parit. Salah yang pesan kurang mengawasi. Tahu begitu, paritnya sepotong-potong saja tak usah memanjang.</p>
<p style="text-align: justify">Kegagalan menanam empon-empon dua tahun silam itu masih menghibur hingga kini. Mereka masih tumbuh liar di sana-sini, meski tak banyak. Tapi bila sekadar butuh bumbu masak atau membuat air jahe, mereka masih cukup.</p>
<p style="text-align: justify">[SyamAR; Cijapun 3 Februari 2010]</p>
<div id="attachment_67547" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/02/macul-kebon.jpg"><img class="size-full wp-image-67547" src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/02/macul-kebon.jpg" alt="macul itu kebun siana. ngoprek dari entah dari mana." width="500" height="406" /></a><p class="wp-caption-text">macul itu keboensiana. ngoprek dari entah dari mana.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/pamflet-cinta-pada-empon-empon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belahan Pantat, Apa Kabarmu?</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/belahan-pantat-apa-kabarmu/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/belahan-pantat-apa-kabarmu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 15:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan sekadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[belahan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[belahan pantat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=319</guid>
		<description><![CDATA[Di radio lokal, terdengar seseorang meminta diputarkan satu lagu. Biasa. Pakai titip salam titip ucapan. “Spesial untuk belahan jiwaku,” katanya.
Radio disetel kencang dari &#8220;Rumah Dua&#8221;. Pondok yang kudiami sendiri kami namai &#8220;Rumah 1&#8243;. Di pondok bilik bambu saya sedang terlibat beberapa percakapan maya pakai Yahoo! Messenger (YM!). 
“Ah, belahan jiwa!” Terilhami ucapan di radio, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di radio lokal, terdengar seseorang meminta diputarkan satu lagu. Biasa. Pakai titip salam titip ucapan. “Spesial untuk belahan jiwaku,” katanya.</p>
<p>Radio disetel kencang dari &#8220;Rumah Dua&#8221;. Pondok yang kudiami sendiri kami namai &#8220;Rumah 1&#8243;. Di pondok bilik bambu saya sedang terlibat beberapa percakapan maya pakai Yahoo! Messenger (YM!). </p>
<p>“Ah, belahan jiwa!” Terilhami ucapan di radio, saya ubah status YM!, jadi… “Belahan pantat, apa kabar?”</p>
<p>Status yang membuat saya panen protes, dikira saru. Saat suasana sedang bulan Ramadhan pula.</p>
<p><span id="more-319"></span></p>
<p>“Belahan Pantat” pertama kali saya dengar tahun 2004. Ketika bercakap dengan Dyah Nyiur bersama satu “adik”nya.</p>
<p>Kata Dyah Nyiur, “Kami berdua, sepasang belahan pantat.”</p>
<p>“Tak bisa dipisahkan. Dimana ada aku disana ada mbak. Mbak belahan pantat kiri, aku kanan,” susul sang adik melengkapi.</p>
<p>Saya ngakak. Dan sekarang saya pikir, belahan pantat lebih riil ketimbang “belahan jiwa”. Dan soal ada pantat tak berbelah, macam pantat kuali, bukan hal yang perlu saya pikirkan. Hitam keras sih <img src='http://syam.dusunlaman.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  </p>
<p>*sedang senang asal tulis*</p>
<p>[SyamAR; Cijapun, 16 Agustus 2010]</p>
<p>Dan saya sungguh menyenangi lagu ini. Mirip lagu mars petani. Ada siul ajaib di sini.</p>
<p><object width="480" height="385"></p><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/hPtxSGekfUg?autoplay=1&amp;hl=en_US"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/hPtxSGekfUg?autoplay=1&amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/belahan-pantat-apa-kabarmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I Don’t Believe You! &#124; Suatu Ketika di Rubiah</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/i-don%e2%80%99t-believe-you-suatu-ketika-di-rubiah/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/i-don%e2%80%99t-believe-you-suatu-ketika-di-rubiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 21:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[(mirip) catatan perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[backpacking]]></category>
		<category><![CDATA[rubiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Rubiah. Hanya seluas 50 hektar. Separuh milik pemerintah. Separuh kepunyaan satu keluarga. Tersembunyi tenang dipelukan teluk kecil Pulau We, Nanggroe Aceh Darussalam. Tersembunyi tenang pula di sana sebuah taman laut.
Kalau tak karena undangan dan kebaikan seorang sahabat karib, belum tentu saya sempat bersembunyi ke pulau ini.
Pangkal pekan  itu, hanya ada beberapa penyembunyi yang datang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_121504" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/04/rubiah-island-syamar.jpg"><img class="size-medium wp-image-121504" src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/04/rubiah-island-syamar-300x200.jpg" alt="pribadi)" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Satu pemandangan Rubiah, bukan Senja di Pelabuhan Kecil (dok: pribadi)</p></div>
<p>Rubiah. Hanya seluas 50 hektar. Separuh milik pemerintah. Separuh kepunyaan satu keluarga. Tersembunyi tenang dipelukan teluk kecil Pulau We, Nanggroe Aceh Darussalam. Tersembunyi tenang pula di sana sebuah taman laut.<br />
Kalau tak karena undangan dan kebaikan seorang sahabat karib, belum tentu saya sempat bersembunyi ke pulau ini.</p>
<p>Pangkal pekan  itu, hanya ada beberapa penyembunyi yang datang. Saya dan teman. Sepasang Australia yang sedang membangun pondok. Seorang Jerman bernama Jurgen yang berbadan raksasa, demi diet ia makan hanya sekali sehari, dan berusaha mendapat ikan dari hasil pancingan sendiri. Tapi mirip selalu gagal.</p>
<p>Teman lain, satu perempuan Finlandia mengaku mengenalkan namanya dengan bunyi A-yu-ni. Selebihnya, penghuni asli pulau. Salah satunya yang kelak cukup akrab adalah<span id="more-315"></span> Syamsul si Tukang Boat yang akhirnya saya panggil ‘Mo alias <em>senamo</em> (Palembang; sama nama).</p>
<p>Ayunilah yang pertama saya kenal di pulau yang di masa kolonial Belanda sempat menjadi tempat penampungan jemaa’ah Haji.</p>
<p>“Saya, Syam! Dan ini <strong><a href="http://dewagumay.wordpress.com">Dewa Gumay</a></strong>, <em>my &#8216;mister house</em>&#8216;!” canda saya dengan english yang sekadar cukup untuk makan ketika menyambut uluran perkenalan Ayuni. Saya kira dia tak paham maksud saya dengan istilah “<em>mister house</em>”.</p>
<p>Tapi dia tersenyum dan bertanya-tanya apa pekerjaan kami, apakah mahasiswa yang melancong.  <em><span style="font-style: normal"> </span></em> <span style="font-style: normal">Sahabat saya, adalah penggiat lingkungan di sebuah lembaga internasional yang mengurus fauna dan flora. Saya sering juluki sahabat baik saya itu sebagai &#8220;aktifis binatang&#8221;.<br />
</span> <span style="font-style: normal"><br />
Ketika Ayuni menanyai apakah saya juga penggiat lingkungan. Saya bilang bukan. Bukan aktifis organisasi lingkungan. Saya mendapat jawaban Ayuni;</span> <span style="font-style: normal">“<em><strong>I don’t believe you</strong></em><strong>!</strong>”</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
Saya tertawa saja. Beberapa saat setelah obrol, Ayuni menjebi seraya menggeleng tak percaya. “Organic farmer?!” Perempuan yang mengaku pengajar selancar ini meminta kepastian setelah tahu bahwa saya cuma seorang petani. Dan saya tak punya alasan yang cukup untuk berbohong soal profesi.</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
“<strong><em>I don’t believe you</em>!</strong>”</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
Saya cuma nyengir. Dia percaya atau tidak, tak berpengaruh pada kebun kecil yang saya tinggalkan pelesir sejenak.</span> <span style="font-style: normal">Dia bilang, kalau di Eropa dia tidak akan heran ada kaum muda menjadi petani. Tapi ini di Indonesia! </span> <span style="font-style: normal">Saya tak terlalu berminat menjawab selain dengan anggukan seperlunya.</p>
<p>Petani muda di Indonesia belum habis. Tapi memang, meski tak berbekal statistik, angkatan muda petani menurun drastis terutama sejak dekade 80-an. Tapi masih cukup gampang menemukan para petani dan pelaku agribisnis muda, dan sebagian kelompok terakhir ternyata tak pendidikan dasar sekolah pertanian.</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
Bersama Ayuni berlangsung diskusi pendek tentang perbedaan petani sebagai profesi. Tampaknya, di negeri teman saya itu, semangat &#8220;</span><em>go green&#8221;</em><span style="font-style: normal"> turut berperan mengembalikan kaum muda kembali ke ladang. Di negeri saya, citra petani sebagai kaum miskin, hitam, kurus, terbelakang, dan udik menjauhkan kaum muda dari pacul. Ayuni cukup mengenal Indonesia. Ia menyimbat, di Indonesia petani bukan profesi glamor.</span></p>
<div id="attachment_121506" class="wp-caption alignleft" style="width: 207px"><a href="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/04/rubiah-island-syamar-2.jpg"><img class="size-medium wp-image-121506" src="http://stat.ks.kidsklik.com/files/2010/04/rubiah-island-syamar-2-197x300.jpg" alt="pribadi)" width="197" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Bangunan di belakang papan penanda adalah tempat ngopi enak di Rubiah (dok: pribadi)</p></div>
<p>Di pulau Rubiah, ada satu rumah yang berfungsi sebagai tempat melayani kebutuhan makan dan ngopi. Makanan dan minuman tak diantar ke pondokan. Karenanya, sesama penyembunyi di sana, hampir selalu bertemu pada “jam makan”.<br />
<span style="font-style: normal"><br />
Barangkali keesokan harinya, hari kedua di Rubiah, atau mungkin hari ketiga, bisa jadi hari keempat. Bersama Ayuni kami kembali ngobrol panjang, </span><em>english</em><span style="font-style: normal"> saya sekenanya dan campur-campur, bahasa Indonesia dia juga dioplos bahasa inggris.<br />
</span> <span style="font-style: normal"><br />
Belakangan saya pun tahu Ayuni bukan nama Finlandia, melainkan nama yang ia dapat ketika belajar Islam di Malaysia. Ya, dia muslimah. “Ayuni </span><em>umm</em><span style="font-style: normal">… artinya, </span><em>beautiful eyes</em><span style="font-style: normal">!” terang dia belakangan.</p>
<p>Saya kira Ayuni yang dulu dia eja adalah Aini yang sekarang saya tulis.</span> <span style="font-style: normal">Aini bercerita tentang sumber pendapatan utama negaranya, setelah Nokia, adalah industri pulp &amp; kertas.</p>
<p>Saya bercerita bahwa negaranya berkontribusi pada kerusakan hutan alam di Indonesia juga lewat sektor indutri pulp &amp; kertas. Sumbangsih mereka paling tidak pada pengadaan mesin-mesin dan teknologi yang masih menggunakan bahan kimia klor. Meski sekarang teknologi tersebut tak lagi gunakan klor murni.</p>
<p>Diskusi tentang ini cukup panjang dan teknis, hingga tak bakal menarik dicatatkan dalam bual ini.</span> <span style="font-style: normal">Jurgen yang ada di sana tiba-tiba menunjuk pada apa yang saya gantung di leher. Dia kira ponsel. Saya kasih unjuk. Itu hanya sebuah kompas.</p>
<p>Aini melirik dan berkata, “Suunto!”</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
Lalu Aini bercerita lagi tentang Finlandia. Suunto adalah industri ketiga terbesar sebagai penyumbang pendapatan negaranya. Dengan bangga Aini mengatakan kompas merk Suunto “</span><em>the best compass in the world</em><span style="font-style: normal">”.</p>
<p>Saya mana tahu. </span><em>Wong</em><span style="font-style: normal">, warisan.</span> <span style="font-style: normal">“Untuk apa bawa kompas?” tanya Aini tiba-tiba.</p>
<p>Saya hendak bilang, kadang perlu mencatat, jendela kamar tempat saya menginap menghadap ke arah berapa derajat? Atau puncak bukit yang saya lihat dari sebuah tempat, ada pada posisi berapa derajat. Untuk semacam itulah. Tapi, </span><em>english</em><span style="font-style: normal"> saya tak </span><em>well banget</em><span style="font-style: normal">. Lebih mirip </span><em>tarzan-english</em><span style="font-style: normal">.</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
“Untuk shalat?” kejar Aini.</span> <span style="font-style: normal">Ketimbang panjang dan bikin lidah pletat-pletot, saya angguki jawabannya. Dan untuk ketiga kalinya saya mendengar jawaban khas Aini.<br />
</span> <span style="font-style: normal"><br />
“<strong><em>I DON’T BELIEVE YOU</em>!</strong>”</span><br />
<em><br />
Ajajajaja</em><span style="font-style: normal">!</span><br />
<span style="font-style: normal"><br />
[SyamAR; 19 April 2010]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/i-don%e2%80%99t-believe-you-suatu-ketika-di-rubiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nday &amp; Monster Permen Karet [Seri Cik&amp;Nday]</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/nday-monster-permen-karet-seri-ciknday/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/nday-monster-permen-karet-seri-ciknday/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 19:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[cik&nday]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Nday &#38; Monster Permen Karet [Penggalan Novel Anak &#124; Versi Cerpen]
Oleh: Syam dan BuRuLi
Permen karet! Benda yang berhasil membuat bingung Ndayang. Dia senang, tapi juga sebal karenanya.
Sejak 5 hari lalu dia terpaksa membuang jauh-jauh keinginan untuk mengunyah permen karet. Tak lagi tampak sebuah balon permen karet di depan mulut gadis kecil yang tak lama lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nday &amp; Monster Permen Karet [Penggalan Novel Anak | Versi Cerpen]</strong><br />
Oleh: Syam dan BuRuLi</p>
<p><a href="http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/permenkaret.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-215099" title="permenkaret" src="http://stat.kompasiana.com/files/2010/08/permenkaret-292x300.jpg" alt="" width="292" height="300" /></a>Permen karet! Benda yang berhasil membuat bingung Ndayang. Dia senang, tapi juga sebal karenanya.</p>
<p>Sejak 5 hari lalu dia terpaksa membuang jauh-jauh keinginan untuk mengunyah permen karet. Tak lagi tampak sebuah balon permen karet di depan mulut gadis kecil yang tak lama lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5.</p>
<p>Hari menjelang petang. Dari ujung desa terdengar orang mengaji di mesjid. Sebentar lagi bang waktu sembahyang asar terdengar. Ndayang berdiam diri saja di depan jendela kaca. Jendela sebesar gajah di sisi kiri rumah kayu mereka. Sambil memilin rambutnya yang terikat dua seperti seorang pahlawan indian, Ndayang mengkhayal.</p>
<p>Khayalan tentang manis permen karet dan kesenangan ketika berhasil meniupnya menjadi balon raksasa. Selanjutnya ia akan terbang bersama balon permen karet. Mengitari dunia. Melihat banyak tempat dan banyak warna yang belum tertemui.</p>
<p>Sayang nian<span id="more-312"></span>, khayalan itu harus terputus ketika pandangannya menumbuk anak-anak sapi yang berlarian di padang gembala kecil, dekat saja dari rumahnya. Anak-anak sapi tentu senang, orang tuanya tak pernah melarang mereka makan rumput apa saja. Bagaimana dengan permen karet, entah.</p>
<p>Teringat permen karet, Ndayang merasa ada rasa yang hilang di mulutnya. Jadi ia membayangkan saja sebongkah permen karet berbentuk bola sedang menari di sela geliginya. Biasanya, sambil bersorak dalam hati ia akan membuat balon permen karet sebesar mungkin yang ia bisa. “Terus, terus…! makin besar, makin besar…!! <em>Puhh, puuuuhh</em>…!!!”</p>
<p>Kini ia duduk saja. Alangkah senangnya jika dia masih dibolehkan mengunyah permen karet. Sebenarnya boleh saja. Sebenarnya, Ayah ibunya tak melarang.</p>
<p>Ndayang berpisah dengan permen kesukaannya karena satu hal. Empat hari yang sudah, Cikal, Kakak Ndayang berteriak mengagetkan. Kencang sekali. Sapi-sapi, kambing, ayam, dan hewan ternak lain yang dipelihara Ayah Cikal dan Ndayang, sebisanya menutup telinga. Terlambat sedikit getaran suara dari teriakan itu bisa menggunduli bulu-bulu mereka.</p>
<p>“<em>Ibuuu</em>… lihat, bu!” kata Cikal ketika ibunya datang mendekat. Sejurus kemudian Ayahnya menyongsong dengan baju masih belepotan pupuk kandang. Ndayang datang paling buncit dengan dada berdegup kencang.</p>
<p>Cikal, sibuk menarik bagian belakang roknya sambil bergantian menoleh-noleh ke belakang bergantian dan menoleh ke ibunya.</p>
<p>Mata terarah ke wajah kakaknya yang cantik dengan dua untai ekor kuda di kepalanya. Kulit muka kakak yang sangat ia sayangi sudah terlihat memerah. Seperti tomat menjelang masak. Itu tandanya, sirene bahwa tangis akan datang.</p>
<p>Ndayang buru-buru membuang pandangannya. Dan pandangan matanya tertumbuk ke bangku kayu yang hanya setengah langkah di belakang kakaknya.</p>
<p>Aduh! Pekik, hati Ndayang. Di atas bangku kayu melintang, di bagian yang kira-kira baru diduduki Cikal, belepotan permen karet.</p>
<p>“Rokku kena permen karet,” rengek Cikal. “<em>Uuuh</em>… pasti deh ini gara-gara Ndayang buang sampah permen karet sembarangan!”</p>
<p>Ibunya mencoba menenangkan Cikal membantu melepas permen karet yang menempel. Permen karet itu merusak pemandangan. Tepat di antara motif bunga berwarna putih dan kupu-kupu kuning kecil. Itu kan rok kesayangan Cikal! Katanya, rok paling indah se-dunia. Dijahit sendiri oleh ibu untuk hari ulang tahunnya yang barusan lewat.</p>
<p>Ndayang menunduk. Dia diam saja walau agak kesal. Apa yang diucapkan Cikal adalah tuduhan yang tak perlu. Di rumah, mereka hanya berempat. Yang suka permen karet hanya Ndayang. Cikal tidak. Tidak sama sekali.</p>
<p>Itulah pangkal kenapa Ndayang puasa permen karet. Karena sejurus setelah itu, ibunya menjatuhkan lutut ke rumput. Membuat posisi badannya sama tinggi dengan Nday. Setelah meletakkan kedua tangan dibahu Ndayang, ibunya berkata tenang. “<em>Nah</em>, Nday… Kamu lihat, apa yang terjadi pada rok kakakmu?”</p>
<p>Ndayang hanya menunduk. Tidak mengangguk. Tidak pula menggeleng.</p>
<p>“Perbuatanmu yang buang sampah sembarangan, sudah merugikan orang lain.”</p>
<p>Ndayang tetap diam menunduk.</p>
<p>“Itu artinya… kamu berbuat kesalahan.”</p>
<p>Ndayang tak berani mengangkat dagunya. Pandangannya seperti dipaku ke tanah.</p>
<p>“Kamu ingat aturan di rumah kita, nak? Siapa melakukan kesalahan…”</p>
<p>Berarti siap menerima hukuman, bisik Ndayang dalam hati. Ia tahu itu. Air matanya jatuh. Bukan karena ia sedang dimarahi. Tapi karena sadar ternyata ia telah melakukan kesalahan.</p>
<p>“Kamu boleh menolak, lho… Asal bisa membuktikan bukan kamu yang membuang permen karet ke bangku ini.”</p>
<p>Jatuh deras air mata Ndayang. Ia ingin menyahut ibunya. Tapi ada kekuatan lain yang membuat bibirnya cuma bergetar sedih. Padahal ia hanya ingin mengaku salah.</p>
<p>“Karena kamu tak menjawab… sementara ibu putuskan kamu bersalah. Kamu boleh sampaikan bahwa kamu tidak bersalah pada ibu kapan pun yang kamu mau,” suara ibunya masih terdengar tenang. Tapi Ndayang ingin agar semua segera usai.</p>
<p>“Dan, hukumannya… kamu tak boleh makan permen karet satu kali pun selama satu pekan. Dari hari ini hingga senin depan, ya?”</p>
<p>Ndayang mengiyakan… lalu menangis sedih. Ia sungguh merasa bersalah.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Hari ini, hari minggu. Berarti besok, hari terakhir Ndayang puasa mengunyah permen karet. Sepertinya bakal menyenangkan, pikir Ndayang.</p>
<p>“<em>Hei</em>, melamun sendiri, Nday!” kejut Cikal. Kakaknya itu datang sembari merangkul Ndayang dari arah kiri. Selisih umur mereka hanya dua tahun.</p>
<p>“Ketimbang melamun ramai-ramai…” cengir tercipta di wajah Ndayang.</p>
<p>Ia senang, kakaknya hanya marah sesaat. Sejenak setelah kesalahan Ndayang membuat jelek rok kesayangan Cikal.</p>
<p>“Mau ikut? Aku mau temani ayah lihat-lihat kebun karet! Setelah sembahyang asar, ya. Nanti kuberi tahu sesuatu. <em>Sssh</em>… rahasia besar tentang permen karet.</p>
<p>Ou! Sebenarnya Ndayang enggan di ajak ke kebun karet. Nyamuknya, duh, banyak nian. Kalau tidak mengolesi kulit di seluruh tubuh dengan minyak serai wangi, woo… tanpa perlu ditepuk, cukup mengusap tangan,  empat-lima nyamuk terpencet mati. Hal menyenangkan tentang kebun karet adalah cerita seorang pahlawan di Amerika Latin yang sering dituturkan ibunya. “Namanya, Chico Mendes. Ia seorang pahlawan Mexico. Petani karet yang memperjuangkan kelestarian hutan hujan tropis Amazon.”</p>
<p>Tapi, dia mau terima ajakan Cikal karena alasan untuk menemani ayah. Ditambah satu lagi… rahasia tentang permen karet. Terdengar seperti sesuatu yang mengasikkan di telinga Ndayang.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Jarak dari rumah mereka ke kebun karet tidak terlalu jauh. Hampir sama dengan satu putaran mengelilingi lapangan sepak bola. Sebenarnya ini bukan benar-benar kebun karet. Memang ada pohon karet di sana. Tapi jumlahnya masih kalah banyak dengan jumlah semua jari tangan dan kaki Ndayang. Selebihnya aneka pohon hutan yang lebat bergerombol.</p>
<p>Ia hanya sebuah hutan kecil. Tapi ayah Cikal dan Ndayang pernah berkata, “Anak-anak, meski mungil… hutan ini sangat penting untuk kebun kita. Di sini terdapat mata air, ibu bagi telaga cantik di kebun mungil kita.”</p>
<p>Memang kecil. Cikal yang sudah pandai ilmu hitung dan ukur, punya cara untuk menjelaskan luasnya. Bila lapangan bola bisa diibaratkan selembar kertas, luas kebun karet ini seperti selembar kertas dibagi dua, dibagi lagi, dan dibagi dua sekali lagi.</p>
<p>Ketika mereka ke kebun karet, ayah berjalan dimuka, Ndayang di tengah, terakhir Cikal.</p>
<p>“<em>Sssh</em>, hari ini jadwal sekolahku,” bisik Cikal.</p>
<p>“<em>Ah</em>, iya. Kenapa aku bisa lupa. Aih, ternyata Kak Cik minta temani sekolah. <em>Yaa</em>… kena tipu, deh!” rajuk Ndayang pura-pura. Cikal menggamit lengan adiknya lalu mereka melangkah riang seperti tarian anak kijang.</p>
<p>Kakak-adik Cikal dan Ndayang, memang belajar di sekolah yang berbeda dengan teman-temannya atau anak-anak pada umumnya. Mereka berdua sekolah rumah. Gurunya, ayah dan ibu mereka. Mereka belajar apa saja.</p>
<p>“Hari ini aku mau belajar tentang tumbuhan, Nday. Ayah akan mengajari sambil menengok kebun karet.”</p>
<p>Ndayang tidak begitu tertarik. Ia lebih suka belajar tentang hewan. Ia senang kalau sedang sambil memberi makan anak ayam, memerah susu kambing, mengintip kupu-kupu bertelur, menghitung jumlah kaki kelabang, atau bahkan ketika dikejar angsa.</p>
<p>“Katanya, mau cerita tentang rahasia permen karet!” tagih Ndayang. Ia menghentikan langkahnya di depan kakaknya.</p>
<p>“<em>Ooo</em>… itu. Begini, aku senang kamu bisa berhenti makan benda itu.”</p>
<p>“Aku tidak makan. Cuma mengunyah. Tidak kutelan.”</p>
<p>“Apalagi kalau tertelan, Nday. Permen karet itu bisa membuat usus di dalam perutmu lengket seperti kena lem. Kalau sudah begitu, perutmu tak bisa diisi makanan apa-apa lagi. Bayangkan sendiri, deh.”</p>
<p>Ndayang membayangkannya sebentar. Mengerikan. “<em>T-tapi… N-ng</em>… Cuma itu rahasia tentang permen karet?”</p>
<p>Ndayang penasaran. Alis matanya bertaut. Kulit keningnya berlipatan seperti gambar gelombang air dalam buku.</p>
<p>“<em>O</em>, ada lagi. Aku kira, permen karet terbuat dari getah pohon karet. Dia bukan makanan. Tapi bahan untuk membuat ban mobil atau karet pengikat rambutmu ini, Indian cilik!” Cikal menarik kedua belah ikatan rambut Ndayang.</p>
<p>“Aku tidak percaya, <em>groook</em>!” Ndayang memajukan bibir, memencet hidungnya dan menirukan suara babi.</p>
<p>“Ya, terserah! Yang pasti getah karet itu, <em>iiih</em>…” tandas Cikal mengangkat bahu sambil berlagak bergidik.</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Baunya bukan bau makanan. Kamu tahu sendiri lah…”</p>
<p>Tentu Ndayang tahu. Bau getah karet itu unik. Wangi semasa cair, tapi masam setelah beku. Hanya, Ndayang tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Kakaknya.</p>
<p>Di dalam hati Ndayang muncul keinginan bertanya pada ayahnya. “Ayah pasti tahu rahasia yang benar tentang permen karet. Kutanyakan nanti, lah. Kalau larangan mengunyah permen karet sudah selesai.”</p>
<p>Begitu mereka sampai di kebun karet, ayah mereka mulai menjelaskan ilmu tumbuh-tumbuhan. Sambil menjelaskan tentang tumbuhan bergetah, ayah memperlihatkan bagaimana cara menyadap karet. Cikal bersemangat memperhatikan getah yang kental dan putih laksana mengalir jalur di luka kulit kayu, meniti lempeng sudu, akhirnya jatuh mencucur ke mangkuk.</p>
<p>Tapi Ndayang sibuk dengan khayalan mengerikan. Tentang monster permen karet yang membelit usus di perutnya.</p>
<p>Bahkan hingga pulang sampai menjelang tidur Ndayang gelisah. Dihantui bayangan monster lengket nan <em>yiaaaakh</em>… itu.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Sinar matahari mengetuk jendela kamar Ndayang. Cahayanya yang lembut menerobos tirai tipis, mengucek-ucek mata Ndayang. Gadis itu pun bangun. Biasanya, setelah mengulet-ulet badan, ia akan mencentang kalender. Menandai hari yang sudah dilewati selama ia dikenai larangan mengunyah permen karet.</p>
<p>Tapi hari ini, tidak. Begitu pandangannya menubruk kalender yang ia bikin sendiri dengan kertas dan pensil beraneka warna, ia teringat lagi monster lengket permen karet.</p>
<p>Ia tak tahan lagi. Setelah buru-buru mencuci muka langsung Ndayang berlari ke kandang. Ia harus menanyai Ayahnya.</p>
<p>Setiba di kandang ternak, ayahnya tak tampak. Ndayang celingukan berkeliling. Dari kandang ayam ke kandang bebek. Terus ke kandang kelinci dan kandang kambing. Terakhir ke kandang sapi. Celingukan. Ayahnya tak tampak. “Sekarang terlalu siang untuk memerah susu… ” pikir Ndayang. Maka ia putuskan tak jadi mencari ayah di kandang perah.</p>
<p>Tapi di kandang sapi dewasa ia melihat sesuatu. Itu mengerikan! Si Putih, sapi betina dewasa tampak kesakitan. Berdiri dengan kaki gemetar dan mengejan keras. Terlihat menderita luar biasa. Melenguh pendek-pendek. Ekornya bergerak ke kanan-kiri. Sehingga Nday bisa melihat benda mengerikan sedang mencoba dikeluarkan dari lubang di bawah ekor sapi itu.</p>
<p>Benda itu melembung. Berwarna kemerahan. Seperti berselimut darah. Ia tergantung. Basah. menggembung seperti permen karet. “Mengerikan! Ternyata, monster permen karet memang ada!” pikir Ndayang cepat.</p>
<p>“<em>Ayaaah…</em>!!! ia berteriak sekencang yang ia bisa dan berlari menjauhi kandang secepat yang ia dapat lakukan. “<em>Ayaaah… sapiii, yaaah</em>!”</p>
<p>“Kenapa, Nak?!” tiba-tiba ayahnya muncul dari balik timbunan jerami.</p>
<p>“Si Putih, <em>Yaah</em>…. <em>Hhh</em>, Kasihan… <em>Hhh</em>, dia pasti menelan permen karet. Dari anusnya, Yaaah… Hhh, muncul balon permen karet. Monster Yaaah…” Ndayang mencoba menjelaskan apa yang ia tahu. “Mengerikan! Aku, <em>takuuut</em>…”</p>
<p>“<em>Oh, ya</em>?! Mari kita lihat sama-sama!” balas Ayahnya tersenyum.</p>
<p>Sebenarnya, Ndayang takut. Tapi kali ini ia bersama Ayahnya. Pasti aman.</p>
<p>Meski begitu ia hanya mengikuti di belakang, tangannya menarik belakang baju ayahnya, seperti sedang bermain “kereta api” yang ia sukai. dan pandangannya dipakukan ke punggung ayahnya. Ia tak berani melihat ke arah lain.</p>
<p>“<em>A-ha</em>, sebentar lagi kita punya anak sapi, Nday. Si Putih sedang melahirkan,” sorak ayahnya riang.</p>
<p>“Melahirkan? Balon di pantatnya itu…? Bukan permen karet…?”</p>
<p>“<em>Mmm</em>… itu bukan balon sayang. Juga bukan permen karet. Itu namanya plasenta.”</p>
<p>Lalu ayah menjelaskan panjang lebar. Tak semuanya masuk ke benak Ndayang. Ia sudah tak mampu mendengar banyak-banyak, selain merasa lega luar biasa. Senang nian, ternyata Si Putih bukan sedang diserang monster permen karet.</p>
<p>Ayahnya terus saja menjelaskan sambil membantu Si Putih melahirkan. Menggosok-gosok punggungnya. Menyiapkan jerami. Tak lama kemudian, lahirlah seekor anak sapi yang lucu. Si Putih menjilati si bayi supaya menjadi bersih.</p>
<p>Ayah mengambil daun bambu muda yang sudah disiapkan sebelumnya sebagai obat bagi si Putih seusai melahirkan.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Hari itu, anggota keluarga tepi telaga itu bertambah dengan hadirnya anak sapi yang lucu. Ia belum diberi nama. Semua meminta Ndayang memberi nama.</p>
<p>“Namai saja, si monster permen karet…?” gurau ayah.</p>
<p>“Bisa. Tapi aku lebih suka, kita panggil Si Balon saja. Sepertinya nanti dia jadi sapi yang gemuk,” balas Ndayang. “Nama lengkapnya Si Balon Permen Karet, <em>ha ha</em>…”</p>
<p>Semua tertawa. Ayah, ibu, Cikal, dan tentu saja Ndayang. Ia senang bukan kepalang.</p>
<p>“<em>Nah</em>, Ndayang. Karena kamu sudah belajar banyak hari ini, kamu mendapat hadiah,” kata ayahnya sambil melirik ke ibunya dengan tersenyum.</p>
<p>“Kamu tahu apa hadiahnya, Nak?” sambut ibu.</p>
<p>Ndayang menggeleng. Tapi ia tersenyum lebar.</p>
<p>“Hadiahnya… ” kata ayah, “ibu yang bilang, <em>deh</em>!”</p>
<p>Ndayang dan Cikal menoleh bolak-balik ke ayah dan ibunya.</p>
<p>“Hukumanmu diakhiri lebih cepat. Hari ini kamu sudah boleh mengunyah permen karet.”</p>
<p>Ndayang ingin melompat senang. Tapi tiba-tiba ia teringat pada apa yang ingin ia tanya pada ayahnya tadi pagi, tentang dua rahasia permen karet. Pertama, jika permen karet tertelan akan membuat usus di perut berlengketan. Kedua, apakah permen karet terbuat dari getah pohon karet yang bisa dibikin ban mobil? Kalau benar begitu, <em>hiii</em>…</p>
<p>“Sebelumnya, Ndayang boleh minta sekolah hari ini?” pinta Ndayang ragu-ragu.</p>
<p>Ayah dan ibu berebutan mengatakan boleh. “Kamu mau belajar apa, Nak?”</p>
<p>“Tentang… <em>Umm</em>, Permen karet!”<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>[SyamAR; Tepi Telaga Cijapun, 20 April 2009]</p>
<p># Spesial untuk Cik&amp;Nday dan &#8216;Ia</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/nday-monster-permen-karet-seri-ciknday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>*Membeli Jeruk-jeruk*</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/membeli-jeruk-jeruk/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/membeli-jeruk-jeruk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 07:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[sesurat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[*Membeli jeruk-jeruk* adalah tato yang kita gurat di mimpi. Ia adalah 1000 doa bersemangat yang jatuh bersama daun-daun pada sebuah musim gugur. Perpisahan adalah lorong panjang dengan kelokan-kelokan bernama pertemuan mimpi-mimpi di sepanjangnya dan berujung pada perpisahan abadi. *Membeli jeruk-jeruk* adalah satu dari sedikit rahasia yang kita punya.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>*Membeli jeruk-jeruk* adalah tato yang kita gurat di mimpi. Ia adalah 1000 doa bersemangat yang jatuh bersama daun-daun pada sebuah musim gugur. Perpisahan adalah lorong panjang dengan kelokan-kelokan bernama pertemuan mimpi-mimpi di sepanjangnya dan berujung pada perpisahan abadi. *Membeli jeruk-jeruk* adalah satu dari sedikit rahasia yang kita punya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/membeli-jeruk-jeruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

