Biarpun Semua Huruf E dan A Hilang Dari Dunia

0

Posted by Syam | Posted in sound likes a poem (but not!) | Posted on 12-08-2009

PoohTigger @ www.just-pooh.comSajak Syam Asinar Radjam untuk Buruli

Biarpun semua huruf E dan A hilang dari dunia. Aku tetap saja. Tak terhenti. Berucap. Sesekali bisik. Kau dengarlah, aku lafalkan, “I Lov… You!” atau “Ku Cint… Mu! Biarpun dunia kehilangan semua huruf E dan A. Aku masih memiliki tanda seru!

Hujan di Jakarta Ini Malam

0

Posted by Syam | Posted in sound likes a poem (but not!) | Posted on 12-08-2009

playing_with_the_rain @dryicons.comHujan di Jakarta Ini Malam
Sajak: Syam Asinar Radjam

Hujan. Jendela kubuka. Langit memoleskan lipstick kelabu pada pohon belimbing yang tajuknya mengetuk jendela kamar kos-ku. Aku membakar Dji Sam Su, saudaranya Marlboro. Sama sekali tidak menjadi serasa koboi. Lidi korek kugesekkan. Apinya lalu mati. Kotak koreknya kulempar ke tumpukan komik terjemahan. Tulisan Jonkopins Tandstickfabriks Patent-nya ikut jatuh. Korek api 200 perak saja harus frenchise Sweden. Aku dan nikotin ngobrol santai di Jakarta yang berhujan. Sebenarnya ada beberapa yang lain, juga nimbrung. Pohon belimbing, sebotol Fanta warna merah buatan Cibitung, dan komik Marvel. Hingga habis bahan obrolan, CD player sudah mendengkur. Tinggal aku dan pohon belimbing saja. Aku dan pohon belimbing dimamah nasib.

[Syamar; Permata Hijau– Jakarta, 14 Juni 2005]

Seorang Lelaki, Perempuan Tua, dan Ombak

0

Posted by Syam | Posted in sound likes a poem (but not!) | Posted on 12-08-2009

woman-sea-350-bdr @ www.christineschmitz.comSajak Syam Asinar Radjam
: Pi & perempuan tua di salah satu jendela Pulau Puteri

Perempuan tua dan rambutnya yang ditumbuhi salju. Pandangannya mengoyak kaca jendela. Laut menembus rumah kayunya. Laki-laki muda menyandarkan kepala pada lengan di sisi perahu. Tangannya membasahi laut, jemarinya menenggelamkan ombak. Perempuan tua mengintip tirai. Tirai meneropong kaca jendela. Jendela menyentuh perahu di lautan. Laki-laki muda matanya digelayuti gelombang. Gelombang mengayuh perahu menuju pulau. Pulau menjemput perahu. Laki-laki muda belum terjaga. Tangannya membasahi laut, jemarinya menenggelamkan ombak. Perempuan tua menuliskan gumamannya pada angin yang menetes di ventilasi, “Aku pernah menjadi ombak.”

[Syamar; Teluk Jakarta - Kepulauan Seribu - Kamar no 55 Pulau Puteri - Permata Hijau Blok D, 11, 12, 25 Juni dan 1 Juli 2005]

Sinesatron

0

Posted by Syam | Posted in sound likes a poem (but not!) | Posted on 12-08-2009

kill-your-tv @ badien.wordpress.comOrang-orang di muncul di dalam tombol nomor remote control. Tiba-tiba kaya, tiba-tiba melarat dan kena cacar. Aku mengunyah calon biniku di ponsel. Garing seperti kerupuk kemplang ikan belida. Kadang gigiku tak kuat, jadi kukulum saja. Istriku muncul di gelas kopi yang mulai dingin. Aku sembunyi ke tumpukan kretek. Petak umpet. Batereku kuat, tapi sinyalnya lemah, kataku. Orang-orang berjoget dalam tabung berwarna. Seperti sekerumun sorak ketika kali pertama Marconi nyetel radio. Ketika desahku berakhir di kamar mandi, orang-orang dalam tombol nomor remote control seperti habis berkelahi. Ada yang tiba-tiba jadi lonte, ada yang langsung jadi da?i. Gelas kopiku sudah jadi asbak. Orang-orang dalam tombol nomor remote control senyum seperti resepsionis. Selamat Malam. Adakah kalian mau kurayu? Melompatlah dari tabung berwarna. Sayang remote controlku angka 0-nya copot dicuri iklan. Orang-orang dalam tombol nomor remote control tak terayu untuk singgah ke tikarku. Hei, bagaimana akhir ceritanya nanti, tanyaku. ?Akhiri dulu ceritamu!? tandas mereka. Lalu iklan, lalu hantu-hantu, lalu mimpi-mimpi lagi, lalu pemakan bangkai, lalu ulat-ulat, lalu orang miskin kejatuhan emas sebesar deritanya sejak berabad lalu…

(Syamar; Permata Hijau, 29 April 2005)