Posted by Syam | Posted in Gumam, catatan sekadarnya, mencatat kawan | Posted on 15-06-2010
Tags: mencatat kawan, Musikalisasi Sekadar Bunyi
Direintepretasi dari catatan di bawah ini yang juga pernah direintepretasi oleh Fikri (dan Pungky) di kompasiana dalam sebuah cover version
Buat Ting [Sebuah Dongeng Pada Sebuah Petang]
Ting, perempuan, adalah nama satu sahabat. Berteman baik dengan istriku pula. BuRuLi adalah teman perempuan pertama yang membuatnya nyaman dipeluk, demikian akunya. Bagiku, Ting, sahabat non-hormonal.
“Pinjam punggungku kalau kau sedang merasa sepi,” katanya suatu petang. Masih kusimpan pesan pandaknya. Bertanggal 5 Desember sebuah petang yang hilang.
Aku pun menyediakan bahu, kapan pun dia ingin menangis. Dan hingga kini kami belum saling memanfaatkan fasilitas yang telah kami saling tawarkan.
Saya justru riang menyanyikan sepi. Dan dia pun pandai menumpahkan tangisnya dalam dongeng jenaka.
“Selamat Ulang Tahun!” Katanya pada satu petang di pengujung tahun silam. Dalam satu ziarah.
“Ha ha! Ya ya ya… dan kita sebenarnya sedang berjalan menuju tua.”
Ting tertawa dalam deret kata pada pesan selular.
Pada suatu petang di awal tahun, kami bercakap melalui bilik cakap ruang maya.
“Aku tampaknya bakal mengikuti jejakmu, Ting!”
“Umm… dasar tukang intil! Tapi, apa maksudmu?”
“Aku mungkin bergerak menuju tua, sendiri.” Kataku. Tak yakin apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi seorang sahabat aneh macam Ting.
“Umm… dan nanti kita akan bersama-sama bermain bola bekel di sebuah panti jompo?”
“Mungkin. Atau malah membuat rumah-rumahan di bawah kursi.”
“Ha ha! Percayalah banyak permainan kanak di sana untuk bocah-bocah seumur kita nanti.”
“Mungkin tak harus di sana. Kita bisa tinggal di satu rumah lain, di satu rumah di dekat panti.”
“Umm… kedengarannya menarik! Sepasang sahabat tua renta tinggal berdua di satu rumah.”
“Ya! Mungkin.” Aku menyahut seperlunya lengkap dengan simbol pelambang tawa.
“Mungkin malah kita lalu menikah ketika umur kita 70!” simbol pelambang tawa terguling-guling membalas pewakil tawaku.
“Ah… kalau itu terjadi, aku malah belum sampai posisi 69!” kujiplak simbolnya.
“Halah! Kau memang senang nyerempet-nyerempet!”
“Aku serius! Saat kau 70 aku baru 68.”
“Ha ha ha! Dasar brondong!”
Kami tertawa serempak! Aku yakin itu! Meski di layar komputer kolom tertawa tetap harus bergilir.
Usai tawa, aku bilang, “Itu keren! Seorang kakek menikahi seorang nenek hanya supaya bisa saling menyapa… Selamat Tidur, Kawan!”
Ting tertawa saja.
“Manfaat lain, supaya ketika salah satu mati, ada orang yang mengetahui.”
Ting makin tertawa dan menyahut, “Masing-masing berjanji, akan sering menengok makam sahabatnya yang mati lebih dulu.”
“Ha ha ha! OK! Aku janji, sahutku!”
“Jiaaah… kamu curang! Ketahuan kamu berjanji, berarti aku yang akan mati lebih dulu.”
Kami tertawa serempak lagi.%0
