<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>syam&#039;s world &#124; green but not about a colour &#187; long-short-story</title>
	<atom:link href="http://syam.dusunlaman.net/category/long-short-story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syam.dusunlaman.net</link>
	<description>writing &#124; backpacking &#124; organicfarming</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Apr 2011 11:16:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bad Moon Rising</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/bad-moon-rising/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/bad-moon-rising/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 11:03:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]
 #49. Bad Moon Rising
Dari jendela kamar, bulan memang terlihat kurang seperempat dari purnama penuh. Tapi bulan malam itu lain dari biasanya. Cahayanya tidak kuning gading atau emas. Tidak juga pucat. Tidak terang. Warna bulan seperti penuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]<br />
<strong> #49. Bad Moon Rising</strong></p>
<p>Dari jendela kamar, bulan memang terlihat kurang seperempat dari purnama penuh. Tapi bulan malam itu lain dari biasanya. Cahayanya tidak kuning gading atau emas. Tidak juga pucat. Tidak terang. Warna bulan seperti penuh unsur magis. Nyaris gelap dengan cahaya paruh terang-paruh gelap yang aneh. Penampakan bulan seperti itu dinamakan bulan praje siung oleh masyarakat adat di tempat asal Trotsminty. <em>Bad moon rising</em>. Penanda sesuatu bakal terjadi pedih. Kalender masuk sepuluh hari terakhir di tahun 2004.</p>
<p>Trots bergidik melihat bulan buruk rupa itu. Sambil menerka sejenis bencana apa yang akan terjadi. Trots kemudian mencoba rileks dengan menolak gangguan<span id="more-294"></span> pikiran-pikiran atas kepercayaan klenik. Semakin kuat ia mencoba berlari dari pikiran itu, kekuatirannya kian tinggi. Bencana besar itu tidak hanya akan terjadi padanya. Tapi pada warga ditempat penampakan <em>bad moon rising</em>. Bisa sebuah kampung, bisa sebuah negara.</p>
<p>Trots kemudian menutup tirai kamar agar bayangan-bayangan buruk segera pergi. Trots memang sedang rajin uring-uringan. Sebab ia telah makin dekat berhadapan dengan relief dari real life.</p>
<p>Tapi hidup terus berlanjut. Hari ke hari kian rajin ia mengikuti milis-milis pencari kerja. Jakarta ketambahan satu lagi <em>jobseeker</em>. Sesak.</p>
<p>“Kau menambah lagi satu bandit Palembang, he he.“ Seseorang temannya mengomentari.</p>
<p>“Orang Palembang baik-baik, Pal! Stereotip dikepalamu salah besar!”  Elak Trots. “Kecuali satu orang.”</p>
<p>“Yang kau maksud adalah si&#8230;”</p>
<p>“Yang itu. Ya. Yang jadi penjahat!”</p>
<p>“<em>Kriiiiing</em>!”</p>
<p>Trot mendiamkan ponselnya yang berbunyi.</p>
<p>“<em>Kriiiiiiiiiing</em>!” Tertera <em>Ms. Ring-Ring Calling</em> di monitor ponselnya. Dalam bayangan Trots, Mimosa seolah sedang menggerutu dan berteriak-teriak. Trots masih mendiamkannya saja. Lama sampai berhenti berbunyi. Menyisakan tulisan 1 missed call. Tapi belum satu menit kemudian nama Ms. Ring-Ring muncul berteriak lagi di layar ponsel Trots.</p>
<p><em>Dug</em>!</p>
<p>“<em>Hallooo</em>!”</p>
<p>“Ya, Sayang&#8230;  Sudah malam.”</p>
<p>Mimosa tidak bersuara. Trots mendiamkan saja. Jam dinding berdetak pasti detik ke detik. Kedua jarum jam membentuk formasi  P E A C E; 01.00 WIB.</p>
<p>“Aku tidak mendengar suaramu&#8230;!” Mimosa menyalak.</p>
<p>“Ada apa?”</p>
<p>“Aku tidak mendengar suaramu&#8230;”</p>
<p>“<em>Blangspot</em>?”</p>
<p>“Tidak pernah ada lagi pagi yang didului dengan teleponmu kuterima. Tidak pernah ada lagi.”</p>
<p>“<em>Hhhhhh</em>!”</p>
<p>“Aku rindu mendengar kau menyanyi untukku di telepon. Kau juga tidak pernah berkirim puisi di sms. Aku menungu kau mengatakan rindu padaku. Setiap pagi H A R U S aku yang menelponmu lebih dulu.”</p>
<p>Trots geram. Kesulitannya bertambah. Perempuan ini melapisi tumpukan yang paling atas. Soalan hidup yang ia hadapi seperti tumpukan burger yang berlemak tebal, lalu meleleh saosnya ketika Mimosa menekannya dibagian paling atas. <em>Yiaaakh</em>!</p>
<p>“Oke, Mimosa. Tenanglah. Kita memang, tepatnya aku memang harus melakukan refleksi radikal atas hubungan kita. Ini tidak sehat Aku seakan-akan telah menyiksamu. Pergilah tidur. Tapi mari berdoa sebentar supaya besok pagi tidak ada sesalan. Mungkin lebih baik kita bersahabat saja.”</p>
<p>“O.K!” Suara Mimosa terdengar sedang berusaha tenang.</p>
<p>“Selamat malam, Mimosa Autisia.”</p>
<p>“<em>Gudnait</em>, Trotsminty.”</p>
<p><em>Klik</em>! Ponsel tergeletak di pembaringan.</p>
<p>Trotsminty menelan ludah lalu membuka tirai jendela bermaksud mencari angin.</p>
<p><em>Bulan praje siung</em> kian <em>bad rising</em>.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/08/bad-moon-rising/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ms. Ring Ring</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/ms-ring-ring/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/ms-ring-ring/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 17:13:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]
 #48. Ms. Ring Ring
Malam berbulan tiga perempat purnama. Sudah lima hari mereka tidak bertemu. Bunyi ponsel terdengar. Trots bangkit menuju meja dimana ponselnya tergeletak. Sebuah pesan pendek telah datang. Dari sang pengirim; Mimosa yang sudah ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]<br />
<strong> #48. Ms. Ring Ring</strong></p>
<p>Malam berbulan tiga perempat purnama. Sudah lima hari mereka tidak bertemu. Bunyi ponsel terdengar. Trots bangkit menuju meja dimana ponselnya tergeletak. Sebuah pesan pendek telah datang. Dari sang pengirim; Mimosa yang sudah ia ganti nama menjadi Ms. Ring-Ring. Karena bisa berbelas kali perempuan itu menghubunginya sejak pagi setiap hari. Miss Ring-Ring alias Nona Kring-Kring.</p>
<blockquote><p>“Bulan tiga perempat purnama. Seperempatnya adalah kita, Sayang.”</p></blockquote>
<p>Trots kemudian mematikan ponselnya. Dia mulai<span id="more-292"></span> malas menghubungi atau dihubungi oleh siapa pun. Bermaksud membuang semua kepenatannya sendiri. Dia depresi. Hampir bulat setahun ia mencelat dari kampung ke Jakarta, dia masih berstatus sebagai pengangguran terselubung. Kebutuhannya sehari-hari ditopang oleh keluarga abangnya dan seorang bapaknya. Aktivitasnya membantu usaha periklanan milik keluarga itu, paruh waktu dan sebentar lagi akan ia tinggalkan. Separuh waktu lagi dihabiskan di depan komputer dengan bergelas-gelas kopi pahit dan dua bungkus kretek.</p>
<p>Padahal Trots bukan jenis orang yang mudah gusar bila tidak memiliki status “bekerja”. Tidak ada seorangpun di dunia ini pengangguran sejati. Kalau kaum tanpa penghasilan, bisa. </p>
<p>Dia sudah ingin kawin, sedikit banyak itu adalah alasan kegusaran Trots. Bukan soal pertanyaan-pertanyaan jamak yang akan dihadapi, “Calon suamimu kerja dimana, Mimosa?”</p>
<p>Prasyarat perkembangbiakan adalah kestabilan asupan nutrisi. Maka itu perlu sebuah aset produksi sebagai alat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendapatkan asupan nutrisi tersebut. Kebutuhan itu bukan lagi hanya tiga kali makan dan rempah-rempah penyedia nikotin dan kafein. </p>
<p>Trots menyalakan ponselnya lagi lalu meraih buku catatannya dan menuliskan;</p>
<blockquote><p>Di bumi, ada satu jenis binatang aneh. Jika pasangannya gusar dia pura-pura tegar. Jika dia gusar, dia mencoba bersembunyi. Binatang liar itu: kaum laki-laki.</p></blockquote>
<p>Buku catatan itu kemudian ia tutup dan bermaksud pergi tidur. </p>
<p>Kriiiiiiiiiiiiiiiing!</p>
<p>Ringtone standar di ponsel Trots tiba-tiba mencongkel matanya yang mulai redup. </p>
<p>“Hhhh&#8230;” Sambut Trots setelah melihat nama dimonitornya: Ms. Ring-ring alias Mimosa.</p>
<p>“Kamu tidak pernah kangen aku!” Serang yang menelepon dengan kesedihan malam berbulan pucat seiris.</p>
<p>“Kok&#8230;?” Terjadi perang besar di Trots antara rasa kantuk melawan rasa gusar mencemaskan keadaan Mimosa.</p>
<p>“Buktinya kamu tak pernah telpon-telpon aku. Aku sedih. Apa laki-laki selalu begitu?”</p>
<p>“Begitu?”</p>
<p>“Ya begitu&#8230; Pada awalnya mereka selalu senang menelepon, berkirim pesan pendek, terlihat peduli, dan menyenangkan rasanya. Aku sedih kamu tak pernah lagi kecarian aku. Kalau tak diingatkan menelepon kau tak akan meneleponku, Hiks!”</p>
<p>“Tidak begitu? Aku selalu kecarian kamu. Tapi aku selalu menemukanmu di tempatnya&#8230;”</p>
<p>“Huuuuuu!”</p>
<p>“Kamu tahu dimana aku memukanmu, Mimosa?</p>
<p>“N G G A K  T A U!”</p>
<p>“Di hatiku. Aku selalu menemukanmu dihatiku, Sayang&#8230;”</p>
<p>“G O M B A L!”</p>
<p>K l i k!</p>
<p>Uphs! </p>
<p>Trotsminty tidak bisa tidur malam itu. Sejujurnya dia mulai terganggu berkomunikasi dengan perulangan demikian cepat. Dia menjuluki Mimosa sebagai Ms. Ring-Ring alias Nona Kring-kring karena teleponnya yang bertubi-tubi memanggil Trots. Trots mulai capai melayani telepon. Serasa menenggak pil dengan dosis tinggi dan entah berapa belas kali per hari. </p>
<p>Pertama dia lelah karena itu, kedua lelahnya bertambah jika menerima pesan pendek saat dia tak punya pulsa untuk menjawab. Ketiga dia lelah karena ritme Jakarta secepat house music di diskotik. </p>
<p>Trots bangkrut. Yang ia punya hanya 86.400 detik per hari. Dia bisa bagi semuanya kepada siapa saja, pun kepada Mimosa sebetulnya.<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/ms-ring-ring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karcis</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/karcis/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/karcis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 12:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]
 #46. Karcis
Trots dan Mimosa menjauh dari ruang tamu dan piano kayu. Menuju perpustakaan di atas, lalu Trots berkencan dengan PC Mimosa, dan Mimosa berkasih-kasihan dengan laptopnya. Pahit&#8230; kencan ini tak ada adegan berciuman.
“Katakan, mengapa kamu mencintaiku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]<br />
<strong> #46. Karcis</strong></p>
<p>Trots dan Mimosa menjauh dari ruang tamu dan piano kayu. Menuju perpustakaan di atas, lalu Trots berkencan dengan PC Mimosa, dan Mimosa berkasih-kasihan dengan laptopnya. Pahit&#8230; kencan ini tak ada adegan berciuman.</p>
<p>“Katakan, mengapa kamu mencintaiku, Trots?” Tanya Mimosa tiba-tiba dan menghentikan keasyikannya dengan<span id="more-284"></span> Yahoo Messengger.</p>
<p>Trotsminty diam saja.</p>
<p>“Pliis.” Mata kanak-kanak Mimosa meminta penuh harap.</p>
<p>“Karena, aku pernah melihatmu sama sekali tidak menarik hatiku.”</p>
<p>“Berarti hal yang sama juga akan kau rasakan dengan gadis manapun, yang kau temui dipinggir jalan misalkan?”</p>
<p>“Tidak tepat. Bedanya kamu bertambah menarik setiap hari. Setiap detik berjalan, maka terjadi reaksi alami yang disebut bio-akumulasi. Seperti kadar merkuri di endapan tailing dasar Teluk Buyat buangan tambang emas Newmont. Merkuri dari limbah Newmonster masuk ke darah ikan kecil, ikan-ikan kecil disantap ikan besar masuk ke ikan besar dan bertambahlah kadarnya,  ikan-ikan besar ditangkap kemudian dimakan manusia masuk ke darah manusia dan berlipatlah kadarnya. Bedanya akumulasi zat asing yang kurasakan setiap kali memandangmu tidak membuat aku menderita.”</p>
<p>“Aku nggak suka dengan model pengandaianmu. Huuu&#8230; tidak kreatif! Dan pasti&#8230;    n g g a k  p a n t e s!”</p>
<p>“Bagaimana kalau nikotin. Yang pertama kali dihisap aku terbatuk-batuk dan tak suka baunya yang aneh. Lama-kelamaan aku kecanduan. Kamu juga membuat aku ketagihan, aku mencanduimu, Mimosa”</p>
<p>“Tapi itu akhirnya tergantung merk rokok, kan?” </p>
<p>“Agak.”</p>
<p>“Tapi kalau bokek atau tidak ada kretek kesukaanmu, kau bisa menerima apa saja kan, seperti asbak?”</p>
<p>“Bisa.”</p>
<p>“Kalau tak ada aku, berarti kau bisa menuntaskan rasa kecanduanmu ke gadis lain, Haaa?!” </p>
<p>Trotsminty tersenyum.</p>
<p>“Huuu, dasar brengsek!”</p>
<p>“Tidak seperti itu, sebutlah pengandaianku yang salah.”</p>
<p>“Apa kau tidak bisa menyatakan sesuatu yang lebih romantis.”</p>
<p>“Tidak mau. Karena disitu terjadi pertabrakan biasanya&#8230;”</p>
<p>“Soal apa?!”</p>
<p>“Kejujuran dan kebohongan.”</p>
<p>“Tak peduli.”</p>
<p>“Tidak bisa. Jika kau memaksa, aku hanya bisa melakukannya dengan touching language.” Trotsminty menatap pasat mata Mimosa.</p>
<p>“Ouw, nggak bisa!” Mimosa memalingkan matanya dan bersiap menjauh dari Trots. “Jangan macam-macam, ya!”</p>
<p>Trots mencoba meraih tangan Mimosa yang meloncat seraya berlari menjauh dari dan meja kerjanya. Tapi lepas. Gadis itu berlari turun ke ruang makan lalu menjauh ke taman belakang dan berteriak-teriak kecil dan tertawa-tawa. “Hei, jangan nakal!” </p>
<p>Tapi belum jauh, diatas kolam berisi sepasang kura-kura lengan kiri gadis tembam itu sudah teraih tangan kanan Trots.</p>
<p>Mereka bertatapan. </p>
<p>“Trots, katakan berapa lama kau akan mencintaiku?”  Tanya Mimosa sambil berusaha menguasai dirinya sendiri. Didadanya, detak jantung seperti suasana diskotik dengan house music bervolume kencang.</p>
<p>“Tidak akan terlalu lama. Beberapa juta tahun cahaya saja, Sayang.”</p>
<p>“Bukankah itu ukuran  jarak?”</p>
<p>“Terserahlah&#8230;”</p>
<p>“Aku Sayang Mimosa&#8230;” Desah Trots.</p>
<p>“Aku juga sayang Trots&#8230;”</p>
<p>Tapi kemudian Mimosa menarik wajahnya dari tatapan Trots.  “Trots&#8230; aku mau&#8230; tapi kita belum boleh. Maaf&#8230;” Ujarnya dengan sekuat tenaga menenangkan dirinya.</p>
<p>“Uphs, maafkan aku,” Trost memaki ketidaksadarannya.</p>
<p>“Tenang Trots&#8230; Aku juga salah. Tapi untuk semua itu, kita belum punya karcis&#8230;”</p>
<p>“Ya, Sayang. Aku lupa kalau kita akan naik kereta&#8230;”*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/karcis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Walau Rokok Sebatang, Malam Minggu Kudatang, Yeah&#8230;!</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/walau-rokok-sebatang-malam-minggu-kudatang-yeah/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/walau-rokok-sebatang-malam-minggu-kudatang-yeah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 15:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]
 #45. Walau Rokok Sebatang, Malam Minggu Kudatang, Yeah&#8230;!
Trots memberdayakan sisa pulsa terakhir di ponselnya untuk membalas pesan Mimosa. Note: Tunggu Aku! Dan disepanjang jalan Trots menyiulkan sebuah lagu yang tak ia hapal dengan baik, entah berjudul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]<br />
<strong> #45. Walau Rokok Sebatang, Malam Minggu Kudatang, Yeah&#8230;!</strong></p>
<p>Trots memberdayakan sisa pulsa terakhir di ponselnya untuk membalas pesan Mimosa. Note: Tunggu Aku! Dan disepanjang jalan Trots menyiulkan sebuah lagu yang tak ia hapal dengan baik, entah berjudul apa dan dinyanyikan siapa&#8230;</p>
<blockquote><p>“Walau rokok sebatang, malam minggu kudatang&#8230;<br />
Kau tak pernah cemberut<br />
Kau bilang&#8230;<span id="more-281"></span><br />
Jangan ragukan cintamu padaku<br />
Kau bilang&#8230;<br />
Cintamu hanya kau berikan untukku&#8230;..<br />
Walau rokok sebatang&#8230; malam minggu kudatang&#8230; Yeah!</p></blockquote>
<p>Hingga sampailah di depan gerbang salah satu perumahan di kawasan Pondok Labu. Satpam di pos keamanan yang kadang melihat Trots pulang kemalaman akan mengira baru pulang syuting lantaran memang ada beberapa rumah produksi di kompleks itu. Beberapa kali Trots ditanya demikian, “Pulang syuting, Mas?” Trots tersenyum geli sambil menimang sisa uangnya, tiga ribu tiga ratus rupiah. Seribu akan dia serahkan kepada mobil doyok, seribu tiga ratus akan disetor ke kondektur Metromini 610 arah Blok-M, sisanya adalah hak metromini atau kopaja yang akan mengantarnya ke arah Tendean. Walah! Dan hitungan itu hanya berlaku jika dia bisa pulang paling telat pukul 10 malam. Gila! Apel sampai jam 10 malam! Tidak Pantas&#8230;! </p>
<p>Kalau pulang lewat jam 10 malam? Mobil doyoknya akan berubah menjadi labu! Dan dia harus membayar sesuai argometer taksi. Trots tertawa kecil saja sambil menikmati kesempitannya kini. Trots masuk gerbang, ada belokan ke kiri, ikuti sampai ada belokan ke kanan. Di jalan itu rumah nomor 6 tempat Mimosa biasa menunggunya sambil memperkosa piano.<br />
* </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/walau-rokok-sebatang-malam-minggu-kudatang-yeah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keju dan Remah Roti</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/keju-dan-remah-roti/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/keju-dan-remah-roti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 12:34:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]
 #44. Keju dan Remah Roti
Setiap kali hendak melewati waktu sendirian dengan tenang-tenang dengan maksud sedikit bersantai, Trots serasa diserang banyak pertanyaan dari sesuatu yang imajiner.
Kapan kau akan menikahi dia? Sumber ketakutan itu datang dari bunyi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]<br />
<strong> #44. Keju dan Remah Roti</strong></p>
<p>Setiap kali hendak melewati waktu sendirian dengan tenang-tenang dengan maksud sedikit bersantai, Trots serasa diserang banyak pertanyaan dari sesuatu yang imajiner.</p>
<p>Kapan kau akan menikahi dia? Sumber ketakutan itu datang dari bunyi yang mirip tanya namun seperti cita-cita itu.</p>
<p>“Besok Pagi! Besok pagi aku sudah mau. Hanya aku harus pastikan pagi lusa kami berdua akan makan apa?!” Jawab Trots sepenuh hati.</p>
<p>Kegugupan itu menghilang dan<span id="more-277"></span> senyap. Tapi Trots tahu bahwa sekali waktu rasa itu akan muncul lagi. Pada gilirannya kegugupan itu beranak pinak pada rasa gugup tidak punya uang. Saat yang sama dia didatangi pesan pendek yang mengalir di ponselnya: “Aku Menunggumu. <em>Mwah</em>!” Terkirim dua kali dengan bunyi pesan yang sama, Mimosa pelakunya .</p>
<p>Memangnya pekerjaanmu sekarang sudah baik?</p>
<p>Tuh, dia datang lagi!</p>
<p>Aaaarrrrrrrrrgghhhh!</p>
<p>Tahu diri sedikitlah!</p>
<p>Ugh! Aku percaya tikus pun tahu dimana Tuhan meletakkan remah-remah roti, potongan ikan asin, irisan-irisan keju! </p>
<p>Haaa&#8230;?! Kau serius akan memberi makan keluargamu dengan remah-remah roti, potongan ikan asin, irisan-irisan keju? </p>
<p>Itu ibarat, pralambang, Dungu!</p>
<p>: -P</p>
<p>>:-<</p>
<p>Becanda, Woiii!</p>
<p>Bukannya memberi semangat?!</p>
<p>Aku sedang! Boleh jadi kita selisiban bahasa saja.</p>
<p>Oke. Bisa pakai bahasa saran?</p>
<p>Sebaiknya kau menghitung kondisi finasialmu. Bukan tentang angka, tapi logika pemenuhan kebutuhan. Betul bahwa rezeki adalah teka-teki, tapi kau harus sigap dengan perubahan yang diinginkan itu. Perubahan yang kumaksud adalah eskalasi dari hidup sendiri menjadi hidup berdua.</p>
<p>Trots seperti merenung. Otaknya mencorat-coret sebuah lukisan realis menjadi gaya naifis.</p>
<p>Perubahan itu memiliki konsekuensi logis. Sebut saja anggaran rutin, itu mesti ada. Saat kau sendiri kau bisa serabutan mengaturnya, saat berdua dan kemudian berkembang biak akan tidak sehat kalau kau masih memainkan gaya pengaturan yang serabutan. Anggaran rutin itu akan membengkak secara konstan seperti balon yang terus ditiup. Itu baru anggaran rutin, belum pengeluaran yang tidak rutin, biaya rumah sakit, biaya&#8230;..”</p>
<p>Trots mulai geram.</p>
<p>“Ayo, cari kerja! D A S A R  P E M  A L A S! Hidup tenang tanpa rebutan dan penuh dengan nilai-nilai yang kau yakini di mimpimu hanya ada di komik SMURF! </p>
<p>Sudah dulu aku mau pergi dulu! Apel, malam minggu! Trots bergegas bergerak menuju halte terdekat. Tujuan: Pondok Labu.</p>
<p>Wooii! Jangan pergi dulu!</p>
<p>Ini kan malam minggu?! Tahu bagaimana mengejanya?  M-a-l-a-m spasi m-i-n-g-g-u!<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/keju-dan-remah-roti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Krisis Bahan Bakar</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/krisis-bahan-baka/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/krisis-bahan-baka/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 17:56:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]
 43. Krisis Bahan Bakar 
Hampir setahun sudah kebersamaan itu. Pertemuan dengan Mimosa membuat menafik percakapan setahun sebelumnya;
“Datanglah ke Jakarta,” Pesan dari satu abangnya. 
“Ada apa dengan Jakarta?”
“Sesuatu yang dapat kau lakukan, tepatnya sesuatu yang dapat kau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN II: BAGIAN VI; the RELIEF of  REAL LIFE [Jatah SyamAR]<br />
<strong> 43. Krisis Bahan Bakar </strong></p>
<p>Hampir setahun sudah kebersamaan itu. Pertemuan dengan Mimosa membuat menafik percakapan setahun sebelumnya;</p>
<p>“Datanglah ke Jakarta,” Pesan dari satu abangnya. </p>
<p>“Ada apa dengan Jakarta?”</p>
<p>“Sesuatu yang dapat kau lakukan, tepatnya sesuatu<span id="more-275"></span> yang dapat kau bantu.”</p>
<p>“Asal tak lama!” </p>
<p>Asal tak lama! Asal tak lama! Asal tak Lama&#8230;.terdengar seperti gaung yang pantul memantul dari tebing-tebing.</p>
<p>Bersama Mimosa ia masuk kedalam kejahilan Tuhan yang mengasyikkan. Ia berharap segera mencapai cita-cita agungnya sebagai manusia. Berketurunan. Pada ciptaan Tuhan yang berbentuk perempuan dan dinamai lengkap Mimosa Autisia ia merasa ada satu kekuatan yang demikian kencang lagi meyakinkan. </p>
<p>Trots sadar bahwa bercita-cita tidaklah gampang. Sedang ia telah memutuskan keluar dari usaha yang dikelola iparnya. Tapi masih menumpang di satu kantor cabang usaha keluarga itu di Jakarta Selatan. Lalu mulai memobilisasi segenap kemampuannya, mencoba lagi menulis dan mengirimkannya ke media, mencoba menjual dirinya ke beberapa industri pers dengan mengirimkan lamaran. Tulisannya ditolak para redaksi, lamarannya tidak dibalas HRD perusahaan. Kecuali ada satu panggilan wawancara, datang dari perusahaan yang ia secara sadar merasa tidak pernah mengirimkan aplikasi apapun. Untung sesekali ia masih bisa menerima beberapa tawaran mendesain grafis. Walah! Sore ini, sebuah hari sabtu dia hanya berkuasa atas sejumlah uang yang akan habis pakai ditagih kondektur di satu rute bolak-balik dengan dua kali metromini ditambah satu kali mobil doyok. Plus sebatang kretek. </p>
<p>Trots mulai menghadapi ambang batas kegugupan yang maha hebat yang bernama: KEPANIKAN! Rasa dan fakta yang muncul dibelakang adalah; Bokek alias krisis bahan bakar. Trots belakangan menyesali sejarah ditemukannya uang. Penyesalan itu sayangnya tidak bisa dijadikan alat tukar dengan satu troli barang belanjaan. Trots berhadapan dengan rasa gugup yang sensasional, tiba-tiba membengkak dan meletup seperti jagung brondong.</p>
<p>Padahal pada satu titik waktu ia pernah demikian percaya diri bahwa ia memiliki banyak kemampuan bertahan hidup. Merasa banyak keterampilan yang bisa ia tukar dengan energi untuk memperpanjang kelanjutan usianya. Dengan keterampilan dan kemampuan bertahan hidup tersebut ia sepertinya bisa menjadi, bekerja sebagai, atau melacurkan diri sebagai apa saja dengan baik. Jangan-jangan keterampilan itu, saking lebih dari dua membuat kualitasnya rendah saja. Tidak total. Atau malah membikin Trots bingung hendak melakukan dan berbuat apa. Apakah karena dia menutup mata dengan bidang lain yang sebetulnya ia mampu hanya karena hendak mengejar sesuatu yang ideal seperti di mimpinya.</p>
<p>Atau ia barangkali terlalu banyak terinspirasi kisah orang-orang suci, atau orang-orang biasa yang bisa sederhana memahami hidup meski rezeki mengalir tak banyak tapi masih berbuat sesuatu bagi orang disekitarnya, bagi pohon-pohon, bagi burung dan kupu-kupu. </p>
<p>“Jangan Narsis, Trots!” Ujar Mimosa suatu kali. “Ini Real Life! Ada kalanya kita harus berdamai dengan jaman, berdamai dengan orang banyak, berdamai dengan kenyataan. Simpan dulu mimpi di bawah kasur!”</p>
<p>“Betulkah, Mim?”  </p>
<p>“Hemmm&#8230; Kau hanya sulit untuk bisa luwes dengan keadaan. Kau non-konformis, itu saja.”</p>
<p>“Itu  salah?”  </p>
<p>“Nantilah kau gunakan karakter asli itu jika kau mendapatkan tempat bersandar yang tepat. Sekarang ada gunanya, kah?” </p>
<p>Trots malas berdebat. </p>
<p>“Ini Real Life, Trots&#8230;”  Mimosa berkata pelan. “Percayalah aku mendukungmu.”</p>
<p>Laki-laki itu mendesis. Kemudian meraih koran terdekat. Beberapa iklan lowongan sudah di-stabilo.<br />
* </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/krisis-bahan-baka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimosa, Matahari, dan Cita-Cita</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-matahari-dan-cita-cita/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-matahari-dan-cita-cita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 15:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]

#42. Mimosa, Matahari, dan Cita-Cita
*Buku Harian Mimosa
Jakarta,  /   /      
Dear, Pooh!
Selanjutnya kupanggil saja  dia Matahari! Karena ia sungguh bersinar. Kadang-kadang ia begitu terik dan membuat kita sakit kepala! Ha ha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>NOTE: TUNGGU AKU!<br />
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]</p></blockquote>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-91" title="BuRuLiSign" src="http://syam.dusunlaman.net/wp-content/uploads/2009/09/BuRuLiSign-150x150.jpg" alt="BuRuLiSign" width="150" height="150" /><br />
<strong>#42. Mimosa, Matahari, dan Cita-Cita</strong></p>
<p>*Buku Harian Mimosa</p>
<p>Jakarta,  /   /      </p>
<p><em>Dear, Pooh</em>!</p>
<p>Selanjutnya kupanggil saja  dia Matahari! Karena ia sungguh bersinar. Kadang-kadang ia begitu terik dan membuat kita sakit kepala! <em>Ha ha ha</em>! </p>
<p>Tapi ia sungguh menghidupi…</p>
<p>Pagi-pagi ia terbit dan mulai menjalankan tugasnya. Kuintip ia dari jendela, ia menyapaku dengan<span id="more-273"></span> seruan yang paling kuhafal bunyinya…</p>
<p>: “<em>Haiii</em>!!!”</p>
<p>Aku tertawa. Aku bersemangat sekaligus berkeringat. <em>Tu wa ga pat</em>! <em>Tu wa ga pat</em>! Aku, seperti juga matahari, mulai menjalankan tugas masing-masing. </p>
<p>Pernah kuceritakan, bukan?<br />
Sekarang kami sedang membangun sebuah kebun bunga sederhana. Kami merawatnya bersama. Disana hinggap ulat yang kemudian menjelma kupu-kupu. Menyenangkan! Dia, Sang Matahari sungguh-sungguh mencukupi kebutuhan gizi taman kami. </p>
<p>Di kebun itu aku membantu menimbun sampah-sampah daun dan belajar membuatnya jadi pupuk organik. Aha! Aku juga mulai belajar menakar racun hama dan bagaimana cara menyemprotkannya.</p>
<p>“Tawaranku adalah segala yang alami saja, sayangku!” Kata Matahari pada suatu hari. Aku setuju. Itu tentu lebih baik.</p>
<p>Pooh,<br />
Sewaktu aku berada diantara kanak-kanak yang berlari, mereka yang kuasuh dengan segala cinta dan kasih, aku jadi membayangkan tentang mereka yang akan aku lahirkan. Menyenangkan ya… membayangkan jadi ibu! Cihuyy!!</p>
<p>Pooh,<br />
Kau doakan aku! Bantu aku bangun pagi supaya tak terlambat kusambut ia setiap hari. Setiap senja aku akan mengantarkannya tidur pula. Aku cinta dia, Pooh! Tidak pernah tidak!</p>
<p>Love,<br />
Mim</p>
<p>*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-matahari-dan-cita-cita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimosa, Perempuan yang Menunggu</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-perempuan-yang-menunggu/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-perempuan-yang-menunggu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 11:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[
NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]
#41. Mimosa, Perempuan yang Menunggu
Sebutlah ini sebagai kebahagiaan yang menegangkan, atau ketegangan yang menyenangkan. Ada seorang lelaki yang sungguh layak ditunggu. 
Potongan puzzle itu!
Trots. Telah dilalui tangis dan tawa, sedih dan bahagia, sanjungan, kritikan bahkan… sedikit amarah kepadanya. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-91" title="BuRuLiSign" src="http://syam.dusunlaman.net/wp-content/uploads/2009/09/BuRuLiSign-150x150.jpg" alt="BuRuLiSign" width="150" height="150" /></p>
<blockquote><p>NOTE: TUNGGU AKU!<br />
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]</p></blockquote>
<p><strong>#41. Mimosa, Perempuan yang Menunggu</strong></p>
<p>Sebutlah ini sebagai kebahagiaan yang menegangkan, atau ketegangan yang menyenangkan. Ada seorang lelaki yang sungguh layak ditunggu. </p>
<p>Potongan <em>puzzle</em> itu!</p>
<p>Trots. Telah dilalui tangis dan tawa, sedih dan bahagia, sanjungan, kritikan bahkan… sedikit amarah kepadanya. Tapi ia demikian melengkapi. </p>
<p>Mimosa yang berduri. Tak banyak yang bisa<span id="more-270"></span> menyentuhnya demikian dekat. Ia akan merunduk dan barangkali siap pula menusuk. Tapi ia begitu ramah kepada matahari! Trots adalah mataharinya. </p>
<p>Gombal! Gombal! Gombal!</p>
<p>D H U A  A  A R!!!<br />
Tak bolehkah seseorang punya keyakinan setebal ini sekali saja dalam hidupnya? </p>
<p>Kau yakin?<br />
Y a k i i i i n….?!</p>
<p>Dengar, Mimosa!<br />
Kau baru saja mengenalnya di bumi yang kau injak. Ia datang  dengan cara sepotong-sepotong. Kemudian ia melamarmu. M e l a m a r m u! Jangan main-main, Mimosa!</p>
<p>Siapa yang main-main, Mum! Dad! Yang!  Dik! Om ! Tante ! ! !<br />
Hfff….<br />
Sayangku, semuanya… Sssst…Kalian pernah bertanya padaku tidak? Potongan-potongan apa saja yang datang satu-persatu padaku dulu, waktu itu… perlahan, kreditan dan nyicil?</p>
<p>Tanya, dooong!!!</p>
<p>Begini…<br />
Rasanya, semoga, aku masih punya akal pikiran dan hati nurani. Semua kudengarkan. Aku tidak akan melangkah bila tidak punya dasar. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan kusesali. Insyaallah. Makanya doakan. Doakan, dooong! Iyalah! Mana berani aku melangkah nggak pake doa? Hii…</p>
<p>Well,<br />
Aku tidak bisa cerita banyak. Tau, kan? Cinta, bagaimanapun subyektif. Ehm. Nih, sebagai gambaran saja… (selebihnya urusan gue, dunk! He he…)</p>
<p>Yang pertama tentu saja  k a r e n a  d i a  l a k i- l a k i !</p>
<p>Wahahahaha!<br />
!@#$%^! ! !<br />
Yang serius atuh Mimosaaaa!!! </p>
<p>Lho, jelas sangat serius! Sebab Mimosa kan sehat dan normal! Ha ha ha!</p>
<p>Grrrrrrr!<br />
Nggak lucu!</p>
<p>He he he…<br />
Tenang dulu…<br />
Selanjutnya  k a r e n a   a k u  s u k a!</p>
<p>Itu juga bukan jawabaaannn ! ! !</p>
<p>Ha ha ha!<br />
Sya la la la la la!</p>
<p>*</p>
<p>Date	: Fri, 25 Feb 2004 08:09.23<br />
To	: mimosa@utissia.com<br />
From	: ann@stacia.com<br />
Subject: Re: Doakan aku!</p>
<p>@#$%^&#038;*!<br />
Ajegile bujubuneeeng!!!!!   Loe waras kagak, Nek?  Kita sedang ngomongin kawin…eh, nikah! Kekekekeks… </p>
<p>Ya sud! Kalo doi mang seperti yang loe ceritain. Kalo dia menunjukkan niatnya yang sungguh-sungguh, kalo dia bisa membaur sama keluarga loe yang sableng itu! Ha ha! Mang enag… dapet calon nenek yang galaknya, mak! Kekekekeks…</p>
<p>Gitchuuu…<br />
Yang  penting loe-nya juga, bu! Siap-siap adaptasi sama keluarga besarnya. Ini wajar, bu! En dukung dia biar kagak kendor ngejer mimpinyaaa…Uhuy! Genjoot!! </p>
<p>Sabar-sabar ye, ame lelaki… Tau, kaaannn! Tau, dooonk! </p>
<p>Sekali lagi gud lak lah yaw… Yang lebih penting dari yang terpenting adalah gue jadi tenang, kalo emang dia seperti yang elo ceritakan: SAYANG  SAMA LOE! Terima loe apa adanya meskipun gendut dan resek bawel kayak gitchuuu.. UGH! Ha ha ha!</p>
<p>Nek, cita-cita loe bedua asik bgt! Punya anak lima… (kagak salah, ntu?) en balik lagi tinggal di daerah lengkap dengan rumah kayunya (yang kalo bisa nanti dilengkapi computer dan internet juga! Ha ha ha!) Yang kalo minggu loe bakal nyapu rumah sambil die nyeruput kopi diseling lima “pecahan botol” yang berlarian kesana kemari? Asik, man!</p>
<p>Nabung! Nabung! Nabung!<br />
Anak loe bakalan butuh biaya sekolah banyak bgt. Selamat bekerja keras, deh. Bisaaa… Bisaaaa… Apa yang nggak loe bedua pada bisa! Cieee…</p>
<p>Urusin laki loe baek-baek nanti, ye! (gile bener deh gue… kawin, eh… nikahnya kapan tau nah gue dah ngomel) Gemukin. Ato loe yang bakal makin jadi subur? Woahahahaha….</p>
<p>Kalo loe bedua punya semangat baja en gak gampang nyerah en belajar saling mendukung  juga saling percaya satu sama lain, mudah-mudahan la yaw! Gue doain! Buktiin ame orang-orang kalo internet gak cuma tempat nggombal doang, ngelaba, ngeporn… tapi juga bermanfaat buat ketemu pasangan hidup (&#8230;Insyaallah) sejati. Mak, gue dah kayak ustajah! Ha ha!</p>
<p>Date		: Sat, 26 Feb 2004 11:45.13<br />
To		: mimosa@utissia.com<br />
From		: ann@stacia.com<br />
Subject	: Gak akan percuma. Amin! Amin! Amin! </p>
<p>Gue sayang elo, Nek!<br />
Wis yu ol de bes!<br />
Emang nggak bakal semudah itu! Tapi bukan berarti nggak mungkin!<br />
Kabar-kabarin gue lagi!<br />
Salam sama laki loe.</p>
<p>Lopeyu muah muah!<br />
-Naz-</p>
<p>*<br />
Date		: Mon, 28 Feb 2004 10.36.05<br />
To		: trotsminty@keong.com<br />
From		: mimosa@utissia.com<br />
Subject	: Re:  Note: Tunggu Aku</p>
<p>Aaaarrrrggghhh!!!</p>
<p>Iyaaaaa!<br />
SOS!<br />
A K U    J U G A   K A N G E N   K A U!</p>
<p>Aku  kangen, Pak! Sangat!<br />
Hiks.<br />
Tolonglah aku…Tolonglah  kita! </p>
<p>Ha ha! Kau nggak akan hanya menjadikan aku tokoh wanita di novelmu saja, kan?<br />
Dengar! Ini minus gombal :</p>
<p>“Aku udah nggak sabar. Ingin jadi ibu. Ibu dari anakmu!”</p>
<p>Aku menunggumu, Trotsminty!</p>
<p>Love,<br />
Mims<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-perempuan-yang-menunggu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mimosa, Perempuan yang Bertanya</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-perempuan-yang-bertanya/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-perempuan-yang-bertanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 03:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]

#40. Mimosa, Perempuan yang Bertanya
Ini adalah bulan kesekian dari pertemuan yang begitu menyenangkan. Bulan kesekian dari menjadi sebuah bagian. Ia panik! Rindu tiba-tiba menjadi demikian runcing dan bergigi.
Rindu mulai menggigit. Ia berdarah. 
Rasa: “Dimana sih, Trots… Apa dia tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>NOTE: TUNGGU AKU!<br />
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]</p></blockquote>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-91" title="BuRuLiSign" src="http://syam.dusunlaman.net/wp-content/uploads/2009/09/BuRuLiSign-150x150.jpg" alt="BuRuLiSign" width="150" height="150" /><br />
<strong>#40. Mimosa, Perempuan yang Bertanya</strong></p>
<p>Ini adalah bulan kesekian dari pertemuan yang begitu menyenangkan. Bulan kesekian dari menjadi sebuah bagian. Ia panik! Rindu tiba-tiba menjadi demikian runcing dan bergigi.</p>
<p>Rindu mulai menggigit. Ia berdarah. </p>
<p>Rasa: “Dimana sih, Trots… Apa dia tak lagi punya rindu?”<span id="more-267"></span><br />
Otak: “Dia bekerja kan,  sayang! Kau juga tau itu”<br />
Rasa: “Dulu dia juga bekerja… Sama sibuknya, tapi dia punya waktu”<br />
Otak: “…. …. ….”<br />
Rasa: “Rindu itu menggerogoti aku”<br />
Otak: “Jangan begitu”<br />
Rasa: “Tapi…”<br />
Otak: “JANGAN JADI BEGITU!!”<br />
Rasa: “… … …”</p>
<p>Tanyalah! Tanyalah! Tanyalah!<br />
Kau lebih baik bertanya, Mimosa! Biar ia sendiri yang menjawabnya! Kau tidak mungkin mengira-ngira secara begitu saja sebuah perasaan.</p>
<p>“Tapi…”<br />
“Tanyalah!”<br />
“Tapi nanti…”</p>
<p>Tidak ada nanti dan  tidak ada tapi. Tanyalah. Sekarang.</p>
<p>Mimosa menggigil. </p>
<p>… … …</p>
<p>Ini tanggal berapa, sih?</p>
<p>Ha ha ha! Selamat Mimosa. Kau sedang mendapat hari merahmu? </p>
<p>Hiks!<br />
Tapi tetap lebih baik bertanya, kan? Mari. Kita tanya sekarang.</p>
<p>KRIIINGGGGG!!!!</p>
<p>“Trots…”<br />
*<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/07/mimosa-perempuan-yang-bertanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyenangkan… Sekaligus Menegangkan?</title>
		<link>http://syam.dusunlaman.net/2010/06/menyenangkan%e2%80%a6-sekaligus-menegangkan/</link>
		<comments>http://syam.dusunlaman.net/2010/06/menyenangkan%e2%80%a6-sekaligus-menegangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 08:03:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syam</dc:creator>
				<category><![CDATA[long-short-story]]></category>
		<category><![CDATA[BuRuLi]]></category>
		<category><![CDATA[Note: Tunggu Aku!]]></category>
		<category><![CDATA[SyamAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syam.dusunlaman.net/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[
NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]
#39. Menyenangkan… Sekaligus Menegangkan?
Cinta itu seperti bunga. Bila dirawat ia akan tumbuh indah sekali. “Seperti rumpun bunga kuningku dulu” Kata Trotsminty.
Mimosa tertawa. Mereka mulai mencangkul bersama. Telah mereka pilih bibit terbaik yang mereka punya. Ajari aku menakar pupuk, Trots!
Berat?
Lumayan!
Musim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-91" title="BuRuLiSign" src="http://syam.dusunlaman.net/wp-content/uploads/2009/09/BuRuLiSign-150x150.jpg" alt="BuRuLiSign" width="150" height="150" /></p>
<blockquote><p>NOTE: TUNGGU AKU!<br />
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam<br />
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]</p></blockquote>
<p><strong>#39. Menyenangkan… Sekaligus Menegangkan?</strong></p>
<p>Cinta itu seperti bunga. Bila dirawat ia akan tumbuh indah sekali. “Seperti rumpun bunga kuningku dulu” Kata Trotsminty.</p>
<p>Mimosa tertawa. Mereka mulai mencangkul bersama. Telah mereka pilih bibit terbaik yang mereka punya. Ajari aku menakar pupuk, Trots!</p>
<p>Berat?<br />
Lumayan!</p>
<p>Musim semi dimulai dengan tunas-tunas bunga. Kemudian ulat yang akan menjadi kupu-kupu. Musim ulat tentu saja mengerikan! Tapi musim kupu-kupu?</p>
<p>Indah luar biasa!</p>
<p>Kita tak mungkin menanam sesuatu tanpa<span id="more-263"></span> gangguan hama, bukan? Selain ulat, ada kutu dan belalang. </p>
<p>Tapi kita akan baik-baik saja. Mari kita gunakan anti-hama. Asal baca dan teliti aturan pakainya!</p>
<p>Ini adalah awal, Trotsminty! Tentu saja menyenangkan sekaligus menegangkan. Kita perlahan-lahan mulai  mempelajari musim tanam. </p>
<p>“Bersabarlah mengajari aku!”  Bisik Mimosa. </p>
<p>Trots tersenyum. Dahinya basah peluh. Mimosa mencintainya sungguh.</p>
<p>“Mulailah belajar dari sesuatu yang paling sederhana!” kata Trotsminty.</p>
<p>Bunga bunga dan bunga! Serbuk sari dan alergi! Mereka mulai mengalami bersin dan gatal-gatal. Haha! Wajar dan natural!</p>
<p>“Tolong obati aku!” keluh Mimosa.</p>
<p>“Bukankah kita saling mengobati?” kata Trotsminty lagi. </p>
<p>Amin!</p>
<p>“Kuharap kita akan selalu saling menjadi obat. Saling menjadi energi!”<br />
Pernah bersama, sedang bersama dan akan selalu bersama? </p>
<p>Aku tak pernah ingin cerita ini menjadi selesai!<br />
*</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syam.dusunlaman.net/2010/06/menyenangkan%e2%80%a6-sekaligus-menegangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

