sublimasi, image dioprek dikit dari sumber aslinya http://blog.mlive.com/chronicle/2007/12/Jeff_King.jpg
Sublimasi Ketololan
[1]
Aku adalah bocah yang ingin mengetapel jatuhkan bulan
Agar pungguk tak lagi kurang kerjaan
[SyamAR; Cibadak, 15 Jan 2010]
[2]
Semasa bocah kami kenal sejenis kumbang
Kepalanya kami puntir berpisah dengan badan
Sang Kumbang meraung macam gasing
Dalam tolol bocah, kami kira dia menari
[3]
Di kehidupan berikutnya aku jadi pacat saja
Makan, gendut, lalu puasa.
[4]
Sudah tak salah nyamuk pendemam berdarah
Tuhan tak ciptakan dia pengudap daun penggerogot buah
* [2], [3], [4] *
[SyamAR; Ciawi, 15 Jan 2010]
[5]
Terkenang gelak seorang sahabat,
Kalau pun kami menjadi katak
Dalam tempurung pun tak apa,
Asal tak sendiri, selalu bersama
Oo, empon-empon
Tentang rasa yang kupunya, kau abaikan saja
Oo, empon-empon,
Ku tak patah hati, meski tlah kusangka
Kau tak membalasnya
Kubiarkan saja, bertumbuhlah liar
Di kebun sayurku, menarilah bersama
Kupu-kupu kuning kunyit
Hingga surya menua sendiri
empon-empon di tepi hutan, gambar comotan dari blog orang
Racau yang saya namai Pamflet Cinta di atas, berikut dengan musikalisasi (asal genjreng) sepanjang 2 menit 40 detik, baru saja saya tulis malam ini. Tak garang. Saya lebih nyaman menamainya marsmellow!
Saya hanya sedang terkenang petak empon-empon atau tumbuhan rimpang-rimpangan, banyak juga menggolongkannya sebagai javanese spices. Jahe dan kencur yang saya tanam. Petak itu, arah 0 derajad jika jendela dan si ijo alat saya mengetik adalah kompas. Cuma menyeberang sawah dari pondok bambu tempat saya berlindap.
Sebab senja datang
menjemput mentari
Sebab malam datang
antarkan rembulan
Tidurlah buah hati
Tidurlah tidur…
Sebab turun hujan
melukis pelangi
Sebab mekar kembang
kumpulkan cahaya
————————————————-
* Gumam ini lahir ketika menatap seorang keponakan di Prabumulih, terlelap tenang. Sekitar 2004-2005. Syair sangat terinspirasi pada literatur sains untuk anak yang sedang saya minati besar saat itu. Sementara tentang bunyi, siul yang saya terjemahkan dengan gitar, disempurnakan beberapa bagian oleh BuRuLi dengan jari-jarinya pada piano.
* Sembari menekuri alat rekam sederhana saya yang rusak dan perlu mengais ulang sumber-sumber rezeki alternatif supaya bisa bergumam lebih banyak.
Direintepretasi dari catatan di bawah ini yang juga pernah direintepretasi oleh Fikri (dan Pungky) di kompasiana dalam sebuah cover version
Buat Ting [Sebuah Dongeng Pada Sebuah Petang]
Ting, perempuan, adalah nama satu sahabat. Berteman baik dengan istriku pula. BuRuLi adalah teman perempuan pertama yang membuatnya nyaman dipeluk, demikian akunya. Bagiku, Ting, sahabat non-hormonal.
“Pinjam punggungku kalau kau sedang merasa sepi,” katanya suatu petang. Masih kusimpan pesan pandaknya. Bertanggal 5 Desember sebuah petang yang hilang.
Aku pun menyediakan bahu, kapan pun dia ingin menangis. Dan hingga kini kami belum saling memanfaatkan fasilitas yang telah kami saling tawarkan.
Saya justru riang menyanyikan sepi. Dan dia pun pandai menumpahkan tangisnya dalam dongeng jenaka.
“Selamat Ulang Tahun!” Katanya pada satu petang di pengujung tahun silam. Dalam satu ziarah.
“Ha ha! Ya ya ya… dan kita sebenarnya sedang berjalan menuju tua.”
Ting tertawa dalam deret kata pada pesan selular.
Pada suatu petang di awal tahun, kami bercakap melalui bilik cakap ruang maya.
“Aku tampaknya bakal mengikuti jejakmu, Ting!”
“Umm… dasar tukang intil! Tapi, apa maksudmu?”
“Aku mungkin bergerak menuju tua, sendiri.” Kataku. Tak yakin apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi seorang sahabat aneh macam Ting.
“Umm… dan nanti kita akan bersama-sama bermain bola bekel di sebuah panti jompo?”
“Mungkin. Atau malah membuat rumah-rumahan di bawah kursi.”
“Ha ha! Percayalah banyak permainan kanak di sana untuk bocah-bocah seumur kita nanti.”
“Mungkin tak harus di sana. Kita bisa tinggal di satu rumah lain, di satu rumah di dekat panti.”
“Umm… kedengarannya menarik! Sepasang sahabat tua renta tinggal berdua di satu rumah.”
“Ya! Mungkin.” Aku menyahut seperlunya lengkap dengan simbol pelambang tawa.
“Mungkin malah kita lalu menikah ketika umur kita 70!” simbol pelambang tawa terguling-guling membalas pewakil tawaku.
“Ah… kalau itu terjadi, aku malah belum sampai posisi 69!” kujiplak simbolnya.
“Halah! Kau memang senang nyerempet-nyerempet!”
“Aku serius! Saat kau 70 aku baru 68.”
“Ha ha ha! Dasar brondong!”
Kami tertawa serempak! Aku yakin itu! Meski di layar komputer kolom tertawa tetap harus bergilir.
Usai tawa, aku bilang, “Itu keren! Seorang kakek menikahi seorang nenek hanya supaya bisa saling menyapa… Selamat Tidur, Kawan!”
Ting tertawa saja.
“Manfaat lain, supaya ketika salah satu mati, ada orang yang mengetahui.”
Ting makin tertawa dan menyahut, “Masing-masing berjanji, akan sering menengok makam sahabatnya yang mati lebih dulu.”
“Ha ha ha! OK! Aku janji, sahutku!”
“Jiaaah… kamu curang! Ketahuan kamu berjanji, berarti aku yang akan mati lebih dulu.”