Posted by Syam | Posted in catatan sekadarnya | Posted on 07-11-2010
Tags: BuRuLi
Ponsel yang Ia Benci!
: Catatan Kecil BuRuLi
“Aku benci ponsel!”
Demikianlah. Ia kerap mematikan ponselnya sampai membuat semua orang, yang barangkali nyaris se-Indonesia sulit menghubungi dia. Tentu saja ada seseorang yang paling istimewa bentuk kepanikannya: Dang Perempuan!
: Biip!
“Kenapa dimatikan? Aku kan kangen? Hiks! Hidupin, dooong!!”
:Biip!
“Kamu ada dimana, sayaaanggg…”
:Biip!
“Udah sampai mana?”
:Biip!
“Jadi kesini, kan?”
:Biip!
“Nanti kalau udah sampai bilang, yaaa”
:Biip!
“Pulsamu masih ada?”
:Biip!
“Sayang.. jangan lupa makaaannn”
:Biip!
“Mwah! Mwah! Mwah! Mmmhh!!
“Ponsel itu melelahkan!” Keluhnya sungguh. Maka ia demikian kerap mematikan ponselnya. Sekali lagi: Itulah alasannya!
“Aku akan menghubungimu”
“Tapi…”
“Tenanglah…”
“Tapi…”
Dan ia menghilang dari peredaran untuk beberapa hari, sekali lagi ia telah membuat panik orang-orang yang hampir se-Indonesia banyaknya itu dan terutama : perempuannya!
Perempuan yang selalu mengomel itu
:Biip!
“Aku kecarian kamuuu”
:Biip!
“Banguuun!!”
:Biip!
“Sudah mengerjakan ini, ini dan itu beluuum?”
Itulah!
Maka ia memilih untuk mematikan ponselnya. Ribut!
“Bukan karena kamu” Katanya pada suatu hari.
“Lalu?”
“… … …”
“Karena orang banyak?”
“Ya”
“Banyak pertanyaan?”
“Ya”
“Banyak permintaan?”
“Ya”
“Kau merasa tidak merdeka?”
“IYA!!”
“Tapi kau membutuhkan itu”
“Harus?”
“Sebenarnya kami yang membutuhkan kau untuk turut menggunakan alat itu …barangkali. Hiks!”
Ha ha! Demikianlah kita memberikan pengakuan itu padanya.
Ugh! Ugh! Ugh!
Betapa tak adilnya kita kepada dia yang membenci ponsel! Kenapa kita jadi harus memaksanya menyukai ponsel juga?
“Tapi sesungguhnya engkau membutuhkannya juga…”
“… … …”
“Lepas dari kau menyukainya atau tidak”
“… … … “
“Juga bahwa membeli pulsa bukanlah sesuatu yang murah”
“… … …”
Membicarakan tarif komunikasi di Indonesia juga bukan hal yang menyenangkan tentunya!
Dan Ia semakin membenci ponselnya saja. Dan ia semakin ingin membunuhnya!
… … …
“Tapi sekarang di alamat lamaran kerja dibutuhkan nomer ponsel juga”
“Ya”
“Semuanya ingin praktis”
“Ya”
“Bahkan tukang sayur, tukang ojek, supir, apa saja jenis pekerjaannya, mereka membutuhkan ponsel”
“Apakah harus?”
“Sebenarnya memang tidak”
“Tapi…?”
“Kenyataannya begitu…”
Kenyataan memang membuat kita bertindak tak adil kepada mereka yang tidak menyukai keberadaan Ponsel. Sesuatu yang mahal dan rewel.
“Saat libur kalau ponsel menyala rasanya seperti tak sedang berlibur lagi!” kata seorang kawan.
“Maka kalau memang sedang liburan, ponsel aku matikan saja! Atau aku hidupkan ponsel yang bernomor khusus untuk diketahui keluarga saja!”
Ia, seseorang yang membenci ponsel itu tertawa. Kalau boleh ia akan memilih untuk selalu mematikan ponselnya, atau sekalian membuangnya!
Barangkali hanya ada satu orang yang membuat ia masih mau mempertahankan keberadaan ponselnya sampai hari ini, meski bukan berarti ia tak memilih untuk tak sering-sering mematikan ponselnya lagi: Dang Perempuan. Kekasihnya. Si bawel yang tercinta!
(BuRuLi, LeBul: 08.08.2004/ 04:53 AM)
*Love you!

i hate phonecell too, bro
)