Posted by Syam | Posted in Gumam, catatan sekadarnya | Posted on 23-08-2010
Tags: Musikalisasi Sekadar Bunyi, pertanian
Pamflet Cinta Pada Empon-empon
Oo, empon-empon
Tentang rasa yang kupunya, kau abaikan saja
Oo, empon-empon,
Ku tak patah hati, meski tlah kusangka
Kau tak membalasnyaKubiarkan saja, bertumbuhlah liar
Di kebun sayurku, menarilah bersama
Kupu-kupu kuning kunyit
Hingga surya menua sendiri
Racau yang saya namai Pamflet Cinta di atas, berikut dengan musikalisasi (asal genjreng) sepanjang 2 menit 40 detik, baru saja saya tulis malam ini. Tak garang. Saya lebih nyaman menamainya marsmellow!
Saya hanya sedang terkenang petak empon-empon atau tumbuhan rimpang-rimpangan, banyak juga menggolongkannya sebagai javanese spices. Jahe dan kencur yang saya tanam. Petak itu, arah 0 derajad jika jendela dan si ijo alat saya mengetik adalah kompas. Cuma menyeberang sawah dari pondok bambu tempat saya berlindap.
Ini adalah kisah kegagalan petani malas. Awal 2008, kami berencana menandur dua jenis empon-empon ini sebagai selingan di petak lengkeng. Supaya ada arti tambahan ketika melakukan penyiangan.
Pola penanaman memakai cara yang saya kira praktis. Agar rimpang dapat tumbuh baik, tanah mesti gembur. Bikin parit memanjang horizontal berbanding kemiringan. Ikut garis kontur lahan!
Nantinya, parit memanjang diisi kompos, jerami, dan tanah. Gembur, kan? Nah, taruh tuh bibit empon-empon. Berbaris mengikuti alur parit.
Tanpa sadar, setelah berkali-kali datang hujan, hingga pengujung musim basah… saya curiga kenapa tak mereka tampak tumbuh tak tertip. Ada yang tumbuh bergerombol, ada yang sendiri jauh dari teman, makin ke arah atas lahan (kebetulan lereng), makin sepi.
Bablas! Sebagian bibit ternyata berenang terhanyut hujan yang datang deras dan kerap. Halah, ndilalah! Ternyata parit yang digali tidak mengikuti kontur. Cenderung miring, maka wajar bila air salah kira. Air kira itu saluran air. Kebanyakan bibit benar-benar hilang. Mungkin sampai pelesir di curug (air terjun) atin di hilir Cijapun.
Ajajajajaja…!
Sudahlah! Bukan salah yang dapat borongan bikin parit. Salah yang pesan kurang mengawasi. Tahu begitu, paritnya sepotong-potong saja tak usah memanjang.
Kegagalan menanam empon-empon dua tahun silam itu masih menghibur hingga kini. Mereka masih tumbuh liar di sana-sini, meski tak banyak. Tapi bila sekadar butuh bumbu masak atau membuat air jahe, mereka masih cukup.
[SyamAR; Cijapun 3 Februari 2010]



Oh empon-empon…
Oh inge Dudul
ni lagu tentang patah hati yang nyambung ma prediksi tanam yg gagal ya bang?
Dear Zig,
ini catatan berkebun, dan bukan prediksi