Posted by Syam | Posted in cerita anak | Posted on 03-08-2010
Tags: BuRuLi, cik&nday, SyamAR
Nday & Monster Permen Karet [Penggalan Novel Anak | Versi Cerpen]
Oleh: Syam dan BuRuLi
Permen karet! Benda yang berhasil membuat bingung Ndayang. Dia senang, tapi juga sebal karenanya.
Sejak 5 hari lalu dia terpaksa membuang jauh-jauh keinginan untuk mengunyah permen karet. Tak lagi tampak sebuah balon permen karet di depan mulut gadis kecil yang tak lama lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5.
Hari menjelang petang. Dari ujung desa terdengar orang mengaji di mesjid. Sebentar lagi bang waktu sembahyang asar terdengar. Ndayang berdiam diri saja di depan jendela kaca. Jendela sebesar gajah di sisi kiri rumah kayu mereka. Sambil memilin rambutnya yang terikat dua seperti seorang pahlawan indian, Ndayang mengkhayal.
Khayalan tentang manis permen karet dan kesenangan ketika berhasil meniupnya menjadi balon raksasa. Selanjutnya ia akan terbang bersama balon permen karet. Mengitari dunia. Melihat banyak tempat dan banyak warna yang belum tertemui.
Sayang nian, khayalan itu harus terputus ketika pandangannya menumbuk anak-anak sapi yang berlarian di padang gembala kecil, dekat saja dari rumahnya. Anak-anak sapi tentu senang, orang tuanya tak pernah melarang mereka makan rumput apa saja. Bagaimana dengan permen karet, entah.
Teringat permen karet, Ndayang merasa ada rasa yang hilang di mulutnya. Jadi ia membayangkan saja sebongkah permen karet berbentuk bola sedang menari di sela geliginya. Biasanya, sambil bersorak dalam hati ia akan membuat balon permen karet sebesar mungkin yang ia bisa. “Terus, terus…! makin besar, makin besar…!! Puhh, puuuuhh…!!!”
Kini ia duduk saja. Alangkah senangnya jika dia masih dibolehkan mengunyah permen karet. Sebenarnya boleh saja. Sebenarnya, Ayah ibunya tak melarang.
Ndayang berpisah dengan permen kesukaannya karena satu hal. Empat hari yang sudah, Cikal, Kakak Ndayang berteriak mengagetkan. Kencang sekali. Sapi-sapi, kambing, ayam, dan hewan ternak lain yang dipelihara Ayah Cikal dan Ndayang, sebisanya menutup telinga. Terlambat sedikit getaran suara dari teriakan itu bisa menggunduli bulu-bulu mereka.
“Ibuuu… lihat, bu!” kata Cikal ketika ibunya datang mendekat. Sejurus kemudian Ayahnya menyongsong dengan baju masih belepotan pupuk kandang. Ndayang datang paling buncit dengan dada berdegup kencang.
Cikal, sibuk menarik bagian belakang roknya sambil bergantian menoleh-noleh ke belakang bergantian dan menoleh ke ibunya.
Mata terarah ke wajah kakaknya yang cantik dengan dua untai ekor kuda di kepalanya. Kulit muka kakak yang sangat ia sayangi sudah terlihat memerah. Seperti tomat menjelang masak. Itu tandanya, sirene bahwa tangis akan datang.
Ndayang buru-buru membuang pandangannya. Dan pandangan matanya tertumbuk ke bangku kayu yang hanya setengah langkah di belakang kakaknya.
Aduh! Pekik, hati Ndayang. Di atas bangku kayu melintang, di bagian yang kira-kira baru diduduki Cikal, belepotan permen karet.
“Rokku kena permen karet,” rengek Cikal. “Uuuh… pasti deh ini gara-gara Ndayang buang sampah permen karet sembarangan!”
Ibunya mencoba menenangkan Cikal membantu melepas permen karet yang menempel. Permen karet itu merusak pemandangan. Tepat di antara motif bunga berwarna putih dan kupu-kupu kuning kecil. Itu kan rok kesayangan Cikal! Katanya, rok paling indah se-dunia. Dijahit sendiri oleh ibu untuk hari ulang tahunnya yang barusan lewat.
Ndayang menunduk. Dia diam saja walau agak kesal. Apa yang diucapkan Cikal adalah tuduhan yang tak perlu. Di rumah, mereka hanya berempat. Yang suka permen karet hanya Ndayang. Cikal tidak. Tidak sama sekali.
Itulah pangkal kenapa Ndayang puasa permen karet. Karena sejurus setelah itu, ibunya menjatuhkan lutut ke rumput. Membuat posisi badannya sama tinggi dengan Nday. Setelah meletakkan kedua tangan dibahu Ndayang, ibunya berkata tenang. “Nah, Nday… Kamu lihat, apa yang terjadi pada rok kakakmu?”
Ndayang hanya menunduk. Tidak mengangguk. Tidak pula menggeleng.
“Perbuatanmu yang buang sampah sembarangan, sudah merugikan orang lain.”
Ndayang tetap diam menunduk.
“Itu artinya… kamu berbuat kesalahan.”
Ndayang tak berani mengangkat dagunya. Pandangannya seperti dipaku ke tanah.
“Kamu ingat aturan di rumah kita, nak? Siapa melakukan kesalahan…”
Berarti siap menerima hukuman, bisik Ndayang dalam hati. Ia tahu itu. Air matanya jatuh. Bukan karena ia sedang dimarahi. Tapi karena sadar ternyata ia telah melakukan kesalahan.
“Kamu boleh menolak, lho… Asal bisa membuktikan bukan kamu yang membuang permen karet ke bangku ini.”
Jatuh deras air mata Ndayang. Ia ingin menyahut ibunya. Tapi ada kekuatan lain yang membuat bibirnya cuma bergetar sedih. Padahal ia hanya ingin mengaku salah.
“Karena kamu tak menjawab… sementara ibu putuskan kamu bersalah. Kamu boleh sampaikan bahwa kamu tidak bersalah pada ibu kapan pun yang kamu mau,” suara ibunya masih terdengar tenang. Tapi Ndayang ingin agar semua segera usai.
“Dan, hukumannya… kamu tak boleh makan permen karet satu kali pun selama satu pekan. Dari hari ini hingga senin depan, ya?”
Ndayang mengiyakan… lalu menangis sedih. Ia sungguh merasa bersalah.
——————————————————————–
Hari ini, hari minggu. Berarti besok, hari terakhir Ndayang puasa mengunyah permen karet. Sepertinya bakal menyenangkan, pikir Ndayang.
“Hei, melamun sendiri, Nday!” kejut Cikal. Kakaknya itu datang sembari merangkul Ndayang dari arah kiri. Selisih umur mereka hanya dua tahun.
“Ketimbang melamun ramai-ramai…” cengir tercipta di wajah Ndayang.
Ia senang, kakaknya hanya marah sesaat. Sejenak setelah kesalahan Ndayang membuat jelek rok kesayangan Cikal.
“Mau ikut? Aku mau temani ayah lihat-lihat kebun karet! Setelah sembahyang asar, ya. Nanti kuberi tahu sesuatu. Sssh… rahasia besar tentang permen karet.
Ou! Sebenarnya Ndayang enggan di ajak ke kebun karet. Nyamuknya, duh, banyak nian. Kalau tidak mengolesi kulit di seluruh tubuh dengan minyak serai wangi, woo… tanpa perlu ditepuk, cukup mengusap tangan, empat-lima nyamuk terpencet mati. Hal menyenangkan tentang kebun karet adalah cerita seorang pahlawan di Amerika Latin yang sering dituturkan ibunya. “Namanya, Chico Mendes. Ia seorang pahlawan Mexico. Petani karet yang memperjuangkan kelestarian hutan hujan tropis Amazon.”
Tapi, dia mau terima ajakan Cikal karena alasan untuk menemani ayah. Ditambah satu lagi… rahasia tentang permen karet. Terdengar seperti sesuatu yang mengasikkan di telinga Ndayang.
——————————————————————–
Jarak dari rumah mereka ke kebun karet tidak terlalu jauh. Hampir sama dengan satu putaran mengelilingi lapangan sepak bola. Sebenarnya ini bukan benar-benar kebun karet. Memang ada pohon karet di sana. Tapi jumlahnya masih kalah banyak dengan jumlah semua jari tangan dan kaki Ndayang. Selebihnya aneka pohon hutan yang lebat bergerombol.
Ia hanya sebuah hutan kecil. Tapi ayah Cikal dan Ndayang pernah berkata, “Anak-anak, meski mungil… hutan ini sangat penting untuk kebun kita. Di sini terdapat mata air, ibu bagi telaga cantik di kebun mungil kita.”
Memang kecil. Cikal yang sudah pandai ilmu hitung dan ukur, punya cara untuk menjelaskan luasnya. Bila lapangan bola bisa diibaratkan selembar kertas, luas kebun karet ini seperti selembar kertas dibagi dua, dibagi lagi, dan dibagi dua sekali lagi.
Ketika mereka ke kebun karet, ayah berjalan dimuka, Ndayang di tengah, terakhir Cikal.
“Sssh, hari ini jadwal sekolahku,” bisik Cikal.
“Ah, iya. Kenapa aku bisa lupa. Aih, ternyata Kak Cik minta temani sekolah. Yaa… kena tipu, deh!” rajuk Ndayang pura-pura. Cikal menggamit lengan adiknya lalu mereka melangkah riang seperti tarian anak kijang.
Kakak-adik Cikal dan Ndayang, memang belajar di sekolah yang berbeda dengan teman-temannya atau anak-anak pada umumnya. Mereka berdua sekolah rumah. Gurunya, ayah dan ibu mereka. Mereka belajar apa saja.
“Hari ini aku mau belajar tentang tumbuhan, Nday. Ayah akan mengajari sambil menengok kebun karet.”
Ndayang tidak begitu tertarik. Ia lebih suka belajar tentang hewan. Ia senang kalau sedang sambil memberi makan anak ayam, memerah susu kambing, mengintip kupu-kupu bertelur, menghitung jumlah kaki kelabang, atau bahkan ketika dikejar angsa.
“Katanya, mau cerita tentang rahasia permen karet!” tagih Ndayang. Ia menghentikan langkahnya di depan kakaknya.
“Ooo… itu. Begini, aku senang kamu bisa berhenti makan benda itu.”
“Aku tidak makan. Cuma mengunyah. Tidak kutelan.”
“Apalagi kalau tertelan, Nday. Permen karet itu bisa membuat usus di dalam perutmu lengket seperti kena lem. Kalau sudah begitu, perutmu tak bisa diisi makanan apa-apa lagi. Bayangkan sendiri, deh.”
Ndayang membayangkannya sebentar. Mengerikan. “T-tapi… N-ng… Cuma itu rahasia tentang permen karet?”
Ndayang penasaran. Alis matanya bertaut. Kulit keningnya berlipatan seperti gambar gelombang air dalam buku.
“O, ada lagi. Aku kira, permen karet terbuat dari getah pohon karet. Dia bukan makanan. Tapi bahan untuk membuat ban mobil atau karet pengikat rambutmu ini, Indian cilik!” Cikal menarik kedua belah ikatan rambut Ndayang.
“Aku tidak percaya, groook!” Ndayang memajukan bibir, memencet hidungnya dan menirukan suara babi.
“Ya, terserah! Yang pasti getah karet itu, iiih…” tandas Cikal mengangkat bahu sambil berlagak bergidik.
“Kenapa?”
“Baunya bukan bau makanan. Kamu tahu sendiri lah…”
Tentu Ndayang tahu. Bau getah karet itu unik. Wangi semasa cair, tapi masam setelah beku. Hanya, Ndayang tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Kakaknya.
Di dalam hati Ndayang muncul keinginan bertanya pada ayahnya. “Ayah pasti tahu rahasia yang benar tentang permen karet. Kutanyakan nanti, lah. Kalau larangan mengunyah permen karet sudah selesai.”
Begitu mereka sampai di kebun karet, ayah mereka mulai menjelaskan ilmu tumbuh-tumbuhan. Sambil menjelaskan tentang tumbuhan bergetah, ayah memperlihatkan bagaimana cara menyadap karet. Cikal bersemangat memperhatikan getah yang kental dan putih laksana mengalir jalur di luka kulit kayu, meniti lempeng sudu, akhirnya jatuh mencucur ke mangkuk.
Tapi Ndayang sibuk dengan khayalan mengerikan. Tentang monster permen karet yang membelit usus di perutnya.
Bahkan hingga pulang sampai menjelang tidur Ndayang gelisah. Dihantui bayangan monster lengket nan yiaaaakh… itu.
——————————————————————–
Sinar matahari mengetuk jendela kamar Ndayang. Cahayanya yang lembut menerobos tirai tipis, mengucek-ucek mata Ndayang. Gadis itu pun bangun. Biasanya, setelah mengulet-ulet badan, ia akan mencentang kalender. Menandai hari yang sudah dilewati selama ia dikenai larangan mengunyah permen karet.
Tapi hari ini, tidak. Begitu pandangannya menubruk kalender yang ia bikin sendiri dengan kertas dan pensil beraneka warna, ia teringat lagi monster lengket permen karet.
Ia tak tahan lagi. Setelah buru-buru mencuci muka langsung Ndayang berlari ke kandang. Ia harus menanyai Ayahnya.
Setiba di kandang ternak, ayahnya tak tampak. Ndayang celingukan berkeliling. Dari kandang ayam ke kandang bebek. Terus ke kandang kelinci dan kandang kambing. Terakhir ke kandang sapi. Celingukan. Ayahnya tak tampak. “Sekarang terlalu siang untuk memerah susu… ” pikir Ndayang. Maka ia putuskan tak jadi mencari ayah di kandang perah.
Tapi di kandang sapi dewasa ia melihat sesuatu. Itu mengerikan! Si Putih, sapi betina dewasa tampak kesakitan. Berdiri dengan kaki gemetar dan mengejan keras. Terlihat menderita luar biasa. Melenguh pendek-pendek. Ekornya bergerak ke kanan-kiri. Sehingga Nday bisa melihat benda mengerikan sedang mencoba dikeluarkan dari lubang di bawah ekor sapi itu.
Benda itu melembung. Berwarna kemerahan. Seperti berselimut darah. Ia tergantung. Basah. menggembung seperti permen karet. “Mengerikan! Ternyata, monster permen karet memang ada!” pikir Ndayang cepat.
“Ayaaah…!!! ia berteriak sekencang yang ia bisa dan berlari menjauhi kandang secepat yang ia dapat lakukan. “Ayaaah… sapiii, yaaah!”
“Kenapa, Nak?!” tiba-tiba ayahnya muncul dari balik timbunan jerami.
“Si Putih, Yaah…. Hhh, Kasihan… Hhh, dia pasti menelan permen karet. Dari anusnya, Yaaah… Hhh, muncul balon permen karet. Monster Yaaah…” Ndayang mencoba menjelaskan apa yang ia tahu. “Mengerikan! Aku, takuuut…”
“Oh, ya?! Mari kita lihat sama-sama!” balas Ayahnya tersenyum.
Sebenarnya, Ndayang takut. Tapi kali ini ia bersama Ayahnya. Pasti aman.
Meski begitu ia hanya mengikuti di belakang, tangannya menarik belakang baju ayahnya, seperti sedang bermain “kereta api” yang ia sukai. dan pandangannya dipakukan ke punggung ayahnya. Ia tak berani melihat ke arah lain.
“A-ha, sebentar lagi kita punya anak sapi, Nday. Si Putih sedang melahirkan,” sorak ayahnya riang.
“Melahirkan? Balon di pantatnya itu…? Bukan permen karet…?”
“Mmm… itu bukan balon sayang. Juga bukan permen karet. Itu namanya plasenta.”
Lalu ayah menjelaskan panjang lebar. Tak semuanya masuk ke benak Ndayang. Ia sudah tak mampu mendengar banyak-banyak, selain merasa lega luar biasa. Senang nian, ternyata Si Putih bukan sedang diserang monster permen karet.
Ayahnya terus saja menjelaskan sambil membantu Si Putih melahirkan. Menggosok-gosok punggungnya. Menyiapkan jerami. Tak lama kemudian, lahirlah seekor anak sapi yang lucu. Si Putih menjilati si bayi supaya menjadi bersih.
Ayah mengambil daun bambu muda yang sudah disiapkan sebelumnya sebagai obat bagi si Putih seusai melahirkan.
——————————————————————–
Hari itu, anggota keluarga tepi telaga itu bertambah dengan hadirnya anak sapi yang lucu. Ia belum diberi nama. Semua meminta Ndayang memberi nama.
“Namai saja, si monster permen karet…?” gurau ayah.
“Bisa. Tapi aku lebih suka, kita panggil Si Balon saja. Sepertinya nanti dia jadi sapi yang gemuk,” balas Ndayang. “Nama lengkapnya Si Balon Permen Karet, ha ha…”
Semua tertawa. Ayah, ibu, Cikal, dan tentu saja Ndayang. Ia senang bukan kepalang.
“Nah, Ndayang. Karena kamu sudah belajar banyak hari ini, kamu mendapat hadiah,” kata ayahnya sambil melirik ke ibunya dengan tersenyum.
“Kamu tahu apa hadiahnya, Nak?” sambut ibu.
Ndayang menggeleng. Tapi ia tersenyum lebar.
“Hadiahnya… ” kata ayah, “ibu yang bilang, deh!”
Ndayang dan Cikal menoleh bolak-balik ke ayah dan ibunya.
“Hukumanmu diakhiri lebih cepat. Hari ini kamu sudah boleh mengunyah permen karet.”
Ndayang ingin melompat senang. Tapi tiba-tiba ia teringat pada apa yang ingin ia tanya pada ayahnya tadi pagi, tentang dua rahasia permen karet. Pertama, jika permen karet tertelan akan membuat usus di perut berlengketan. Kedua, apakah permen karet terbuat dari getah pohon karet yang bisa dibikin ban mobil? Kalau benar begitu, hiii…
“Sebelumnya, Ndayang boleh minta sekolah hari ini?” pinta Ndayang ragu-ragu.
Ayah dan ibu berebutan mengatakan boleh. “Kamu mau belajar apa, Nak?”
“Tentang… Umm, Permen karet!”
——————————————————————–
[SyamAR; Tepi Telaga Cijapun, 20 April 2009]
# Spesial untuk Cik&Nday dan ‘Ia

Menarik dan inspiratif. Pendidikan dalam keluarga yang bagus sekali. Jika Cik-Nday Cik-Nday di setiap keluarga di didik seperti ini, saya pikir negara ini akan kepenuhan pemimpin bermartabat di masa yang akan datang.
Salam kenal bung Syam.