Jonkopings Si Kacang

4

Posted by Syam | Posted in Uncategorized | Posted on 02-08-2010

Tags:

* Ketika menemukan catatan ini, saya girang luar biasa, macam Kapten Hook berhasil menangkap Peterpan. Ha ha. Senang berlipat. Setelah menemukan kenyataan bahwa arsip tulisan saya satu dekade silam masih dijaga baik di komputer milik sebuah komunitas di Palembang, berikutnya saya menemukan beberapa naskah “novel gagal” di keping-keping arsip di tempat lain. Lajuuu…!!!*

Namaku Abu! Camkan Itu!
*Bagian pertama dari sebuah cerita panjang yang mungkin akan diteruskan, mungkin pula tidak

“Dengar, ya! Namaku Abu. Hari ini aku hanya menoleh jika dipanggil dengan nama Abu! Camkan itu baik-baik!”

Tidak ada yang mendengar apa yang barusan kuucapkan. Aku memang bicara sendiri. Jika penegasanku harus beralamat, maka aku alamatkan itu kepada dunia. Sudah tentu termasuk kalian! Ada amarah yang siap meletup. Hanya saja sumbunya terus kuulur memanjang.

Aku bergegas ngeloyor menyusuri tudung ruko yang berderet di sepanjang jalan Sudirman. Ya, jalan Sudirman. Aku tidak perlu mengembel-embeli kata Jenderal di depan namanya. Karena aku tidak begitu yakin ia senang dipanggil begitu. Orang yang namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di setiap kota itu bukan sekedar “anggota”. Ia adalah patriot, dalam pemaknaanku. Tanpa embel-embel apa pun ia tetap manusia pilihan.

Koran minggu yang baru kubeli terkepit di ketiak. Aku sempat berniat menudungkannya di atas kepala. Kepalaku serasa hendak meledak ditikam terik matahari puncak musim kemarau. Hanya saja, niat melindungi kepala terhenti sebatas niat. Amarah yang membuatku menegaskan bahwa namaku Abu melupakan rasa sakit di kepalaku. Satu tulisan di salah satu kolom koran inilah yang memicu amarahku.

Jadi, apa peduliku dengan panasnya udara di kota kecil kelahiranku. Tanpa harus menunggu kemarau pun, udara di sini sudah lumayan gerah. Apakah tadi aku mengatakan betapa panasnya cuaca kota tempatku lahir? Mmm, kurasa tadi aku mengatakan udara dan bukan cuaca. Yang mana yang lebih tepat aku tidak begitu peduli. Pastinya, kota ini tidak akan pernah mengijinkan mentega beku sempurna.

Sembari membelokkan langkah ke jalan kecil di kanan kantor walikota, kuulangi penegasanku. Kali ini hanya dalam hati. “Namaku, Abu! A – B – U! Hanya bunyi itu yang sanggup membuatku menoleh. Membuatku menghentikan langkah sekalipun sedang berlari kencang seperti sapi gila menarik gerobak buruk. Membuatku membuka jendela dan mencari asal suara sekalipun sesamar desah angin.

Dulu aku memang pernah menoleh sekalipun dipanggil dengan sapaan, Max (Mek), Bob, Dul, Jang, Wak, Mang, Lur, Ler, bahkan Oi, atau Heh sekalipun.

Sebelum hari ini aku terima saja sembarang julukan, panggilan khas yang hanya berlaku di geng, atau nama samaran yang disepakati antar teman. Teman-temanku juga punya banyak nama. Misalnya teman-teman se-SMAku. Ada Edi Kelomang, Yones Udang, Baskoro Kuro-Kuro, Andi Ganja, Sahrul Organ Tunggal, Desta Kocok, Vitro Gatrus, Rinto Song Hie (merk anggur lokal), Novrin Cap Kucing (ini juga merk anggur lokal), Ivan Kondom, dan banyak lagi. Percayalah, mereka mendapatkan juga banyak nama lain dari komunitas selain kami.

Aku pernah dijuluki Ceking, Krempeng, bahkan Monyet, oleh teman-temanku sebagai olok-olok. Ada yang pernah memanggilku Jon Dep, alias Si Jon Endep, alias Si Jon Pendek. Ada juga yang memanggilku Ahong, hanya karena mataku sipit. Yudi, temanku di pasar ikan suka memanggilku Jeconia, atau Jeconiyah, atau mungkin Jeco Nih Ya?! Aku tidak tahu persis seperti apa aku mengeja sapaan itu dengan benar. Hanya saja ia pernah menambahi bahwa ia memanggil begitu karena aku mirip Roy Jeco… (Halah! Aku tidak bisa mengejanya secara pasti), vokalis grup musik rock Boomerang yang kala itu fardhu ‘ain dikenal remaja seusiaku.

Ada banyak lagi nama yang biasa digunakan untuk memanggilku. Tapi aku juga punya banyak nama samaran yang kureka sendiri. Salah satunya Piyu yang bermula tak sengaja ketika berkenalan dengan siswi SMA lain di sebuah toko kaset.

“Saya Lili!”

Cewek itu jangkung, darah Tionghoa, cantik mirip bintang film hongkong. Yang kumaksud tentu bukan Jet Lee!

“Nama kau?” pertanyaannya membuyarkan lamunanku yang sedang terbang entah kemana sejak menjabat tangannya.

“Aku, ehm… Aku Piyu,” jawabku setelah agak tenang.

Dia tampak tidak percaya. Dia pikir aku mengambil nama gitaris grup musik padi, yang kasetnya memang sedang kupegang. Tapi dia punya cara lebih cerdas untuk membongkar kebohonganku, “Piyu? Lengkapnya?”

Saya terperanga untuk kedua kalinya. Sejurus kemudian saya sudah menemukan jawaban, “Mmm, lengkapnya… ai lapiyu!”

“Maaf,” katanya, “Saya suka dengan Bono.”

Sesaat menyebutkan nama itu ia terdiam. Tebakanku dia baru saja menyebut nama pacarnya. Tapi diamnya segera berakhir.

“Saya suka Bononya U2. Saya belum pernah mendengar ada band yang bernama ‘Me Too’…!”

Itulah pertama kalinya aku berkenalan dengan perempuan di luar komunitas yang sudah kukenal. Bukan tetangga, bukan teman sekelas, bukan pula teman satu sekolah. Itu jugalah yang terakhir aku berbicara dengan Lili. Piyu sebagai nama samaranku pun tidak berumur panjang.

Lamunanku tentang sejumlah nama lainku selain Abu terhenti ketika langkahku sampai di tepi rel kereta api. Empat puluh satu gerbong berisi batubara melintas. Kereta Babaranjang, Batubara Rangkaian Panjang. Jutaan ton batu arang dikeruk dari ladangnya di Tanjung Enim. Sebagian kecil dimanfaatkan untuk pembangkit listrik yang menerangi kota tambang itu. Belum termasuk debu yang menghitamkan isi dada penduduk sana. Selain itu tidak ada. Lubang-lubang yang mengoyak, mencabik, meluluhlantakkan perkebunan rakyat sana, tentu tidak tergolong manfaat.

Gerbong yang baru saja melintasiku akan berhenti di stasiun kota kecilku. Setelah itu akan terus bergerak menuju di Stasiun Kertapati, Palembang, lalu bongkar muat di sana. Setelah angin yang ditamparkan gerbong terakhir ke wajahku tidak lagi terasa, aku melangkahi berpasang-pasang rel.

Aku sempat bertegur sapa dengan beberapa orang yang kukenal. Selebihnya, tidak. Jalan setapak di bawah kanopi pohon kelapa yang kulintasi tampak lengang. Lewat sudah jembatan yang melangkahi sungai Kelekar, suasana tetap sepi. Begitulah sampai aku ke rumah.

“Abu?! Kau kah yang pulang, Nak?” itu suara emakku.

“Iya, mak.”

Sebenarnya aku tidak perlu menjawab. Tanpa harus melongokkan pintu emak selalu berhasil menebak siapa yang membuka pintu. Caraku membuka pintulah yang ia kenali. Gagang pintu diengkol lalu daun pintu didorong pelan hingga terbuka celah semit secukup yang kubutuhkan untuk masuk, lalu pintu ditutup lagi. Kakakku punya cara lain. Kalau ia yang membuka pintu, bunyi engkolan gagang pintu terdengar keras, dan derit daun pintu akan terdengar panjang. Ia baru berhenti mendorong daun pintu setelah tidak bisa didorong lagi terhalang dinding. Sampai terdengar suara emak memintanya menutup pintu, barulah lubang pintu ditutup. Adikku punya cara yang lebih sopan. Ia selalu mengetuk pintu terlebih dahulu. Jika tidak ada suara menyahut dari dalam, ia tidak akan pernah mengengkol gagang pintu. Sekalipun buku jarinya harus kapalan karenanya.

“Abu?! Sudahkah kamu makan, Nak?!”

Sekali lagi terdengar suara emak. Rasanya aku bahagia luar biasa. Dua kali sudah ia menyebut namaku Abu. Tepat seperti yang kuinginkan. Tapi aku belum lapar, jadi kujawab aku mau masuk kamar dulu, baru kemudian makan.

Di kamar, bunga api yang tadi menyambar amarahku meletik lagi. Aku mendadak sebal dipanggil selain dengan nama Abu. Terutama, dipanggil Kacang.

Ya, Kacang pernah menjadi namaku. Nama itu lahir belum lama. Saat aku masuk tahun ke tiga di bangku kuliah, aku kos di kawasan Bukit, Palembang. Teman-teman satu kos itulah yang menyematkan nama itu. Darimana nama itu datang, aku tidak tahu. Lagi pula semua orang di kos-an kami punya nama julukan. Dan semua tidak terganggu, seolah itulah nama kesayangan, sebagaimana bapakku memanggil Boy pada anjing penjaga rumah kami.

Kacang! Nama itu harus dikubur. Segera. Sesegara mungkin. Toni Tulung — julukan itu dia dapat karena teramat sering berseru ‘tolong’ dengan dialek ulu, bahkan untuk sesuatu yang tidak memerlukan kata itu – memicu amarahku.

Ceritanya, ketika di agen koran milik Acong, aku mengintip halaman sastra di dua koran terbitan Palembang. Kedua-duanya memuat cerita pendekku. Aku sumringah. Senang bukan main. Di Palembang banyak sekali penulis cerita pendek. Penulis angkatan tua, sebut saja ada Jajang R Kawentar, T. Wijaya, A. Muhaimin, Imron …. Syamsul Noor Alsajidi, dan banyak lagi. Belum lagi penulis muda, berderet-deret.

Tapi yang cerpennya dimuat bersamaan di dua koran terkenal yang terbit di Palembang, tidak banyak. Barangkali cuma satu orang selain aku. Aku lupa siapa yang menulis. Kedua cerpen karya orang yang sama itu dimuat di dua koran Palembang, tepat setelah hari raya Idul Fitri beberapa tahun silam. Aku membaca kedua cerpen itu: “Kecambang” cerpen tentang ketupat khas Prabumulih yang dimuat di Sriwijaya Pos, dan “Dayu Kukirim Kartu Tahun ini” dimuat di Sumatera Ekspress.

Saking senangnya, langsung kukirim pesan pendek ke ponsel teman satu kos ku, Toni Tulung. Si tukang gosip ini kukira bakal segera menyebarkan kabar menyenangkan ini, ke seganap penghuni kos. Bahkan, kecoak di kamar-kamar mandi di sanapun bakal kebagian kabar yang dimuntahkan Toni Tulung.

Selang beberapa menit, kuterima pesan balasan.

“Ya, Tuhan! Tulung! Kau pikir aku senang membaca cerpen kau itu?!

Aku selalu senang menerima pesan pendek dari Toni. Karena ia selalu menulis sebuah kata tanpa pernah menyingkatnya. Misalnya ‘Tulung’ jd ‘tlg’, ‘pikir’ jadi ‘pkr’, ‘langganan’ jadi ‘lggn’, dan lainnya sebagainya seperti yang dilakukan banyak orang. Pesannya itu kubalas dengan pertanyaan apa pendapatnya tentang kedua cerpenku.

Pesannya datang lebih cepat dari Lucky Luke menarik pistolnya.

Oh, tidak! Tulung! Jangan tanya pendapatku. Cerita yang kau pasti menyebalkan! Kacangan! Belum membacanya pun aku sudah muntah blewah!”

Disusul pesan baru.

“Dari dulu kau sudah sering dengar pendapat kami. Semua puisi, cerpen, atau apapun namanya, yang kau tulis bermalam-malam di kos… tulung… kacangan semua. Makanya, dari dulu kau kami panggil Kacang. K-A-C-A-N-G!”

“Jadi begitu, ya?” desisku dalam hati. Aku tak kuasa membalas pesannya. Sebenarnya, aku juga tidak berniat meladeni caci-maki Toni. Dadaku rasa ditikam. Ditujah dengan pisau cap garpu. Pisau 12 dm, serasa menghujam di jantungku. Aku bergegas pulang ke rumah dengan sejuta makian yang siap kuberondong ke segala arah.

Dadaku panas. Serasa ada sebongkah timah sedang dijerang hingga mendidih di sana

Namaku Abu! Camkan itu. Aku hanya akan menoleh jika disapa begitu. Sekalipun kau embel-embeli kata “gosok” atau “rokok” di belakang namaku, dengan bisikan yang tak dapat kudengar.

* * *

Bersambung? Umm… *garuk-garuk dagu*

Comments (4)

Syammmm!!! Kalau kupanggil begitu, kau menoleh tidak? :D

Astriiii…! Masalahnya Abu itu belum tentu saya :lol:

satu dekade yang lalu ya? Baumu tercium garang.

sekarang saya anak baek-baek, mas bambank ;)

Write a comment