Posted by Syam | Posted in (mirip) catatan perjalanan | Posted on 13-08-2010
Tags: Aceh, backpacking, rubiah
Rubiah. Hanya seluas 50 hektar. Separuh milik pemerintah. Separuh kepunyaan satu keluarga. Tersembunyi tenang dipelukan teluk kecil Pulau We, Nanggroe Aceh Darussalam. Tersembunyi tenang pula di sana sebuah taman laut.
Kalau tak karena undangan dan kebaikan seorang sahabat karib, belum tentu saya sempat bersembunyi ke pulau ini.
Pangkal pekan itu, hanya ada beberapa penyembunyi yang datang. Saya dan teman. Sepasang Australia yang sedang membangun pondok. Seorang Jerman bernama Jurgen yang berbadan raksasa, demi diet ia makan hanya sekali sehari, dan berusaha mendapat ikan dari hasil pancingan sendiri. Tapi mirip selalu gagal.
Teman lain, satu perempuan Finlandia mengaku mengenalkan namanya dengan bunyi A-yu-ni. Selebihnya, penghuni asli pulau. Salah satunya yang kelak cukup akrab adalah Syamsul si Tukang Boat yang akhirnya saya panggil ‘Mo alias senamo (Palembang; sama nama).
Ayunilah yang pertama saya kenal di pulau yang di masa kolonial Belanda sempat menjadi tempat penampungan jemaa’ah Haji.
“Saya, Syam! Dan ini Dewa Gumay, my ‘mister house‘!” canda saya dengan english yang sekadar cukup untuk makan ketika menyambut uluran perkenalan Ayuni. Saya kira dia tak paham maksud saya dengan istilah “mister house”.
Tapi dia tersenyum dan bertanya-tanya apa pekerjaan kami, apakah mahasiswa yang melancong. Sahabat saya, adalah penggiat lingkungan di sebuah lembaga internasional yang mengurus fauna dan flora. Saya sering juluki sahabat baik saya itu sebagai “aktifis binatang”.
Ketika Ayuni menanyai apakah saya juga penggiat lingkungan. Saya bilang bukan. Bukan aktifis organisasi lingkungan. Saya mendapat jawaban Ayuni; “I don’t believe you!”
Saya tertawa saja. Beberapa saat setelah obrol, Ayuni menjebi seraya menggeleng tak percaya. “Organic farmer?!” Perempuan yang mengaku pengajar selancar ini meminta kepastian setelah tahu bahwa saya cuma seorang petani. Dan saya tak punya alasan yang cukup untuk berbohong soal profesi.
“I don’t believe you!”
Saya cuma nyengir. Dia percaya atau tidak, tak berpengaruh pada kebun kecil yang saya tinggalkan pelesir sejenak. Dia bilang, kalau di Eropa dia tidak akan heran ada kaum muda menjadi petani. Tapi ini di Indonesia! Saya tak terlalu berminat menjawab selain dengan anggukan seperlunya.
Petani muda di Indonesia belum habis. Tapi memang, meski tak berbekal statistik, angkatan muda petani menurun drastis terutama sejak dekade 80-an. Tapi masih cukup gampang menemukan para petani dan pelaku agribisnis muda, dan sebagian kelompok terakhir ternyata tak pendidikan dasar sekolah pertanian.
Bersama Ayuni berlangsung diskusi pendek tentang perbedaan petani sebagai profesi. Tampaknya, di negeri teman saya itu, semangat “go green” turut berperan mengembalikan kaum muda kembali ke ladang. Di negeri saya, citra petani sebagai kaum miskin, hitam, kurus, terbelakang, dan udik menjauhkan kaum muda dari pacul. Ayuni cukup mengenal Indonesia. Ia menyimbat, di Indonesia petani bukan profesi glamor.
Di pulau Rubiah, ada satu rumah yang berfungsi sebagai tempat melayani kebutuhan makan dan ngopi. Makanan dan minuman tak diantar ke pondokan. Karenanya, sesama penyembunyi di sana, hampir selalu bertemu pada “jam makan”.
Barangkali keesokan harinya, hari kedua di Rubiah, atau mungkin hari ketiga, bisa jadi hari keempat. Bersama Ayuni kami kembali ngobrol panjang, english saya sekenanya dan campur-campur, bahasa Indonesia dia juga dioplos bahasa inggris.
Belakangan saya pun tahu Ayuni bukan nama Finlandia, melainkan nama yang ia dapat ketika belajar Islam di Malaysia. Ya, dia muslimah. “Ayuni umm… artinya, beautiful eyes!” terang dia belakangan.
Saya kira Ayuni yang dulu dia eja adalah Aini yang sekarang saya tulis. Aini bercerita tentang sumber pendapatan utama negaranya, setelah Nokia, adalah industri pulp & kertas.
Saya bercerita bahwa negaranya berkontribusi pada kerusakan hutan alam di Indonesia juga lewat sektor indutri pulp & kertas. Sumbangsih mereka paling tidak pada pengadaan mesin-mesin dan teknologi yang masih menggunakan bahan kimia klor. Meski sekarang teknologi tersebut tak lagi gunakan klor murni.
Diskusi tentang ini cukup panjang dan teknis, hingga tak bakal menarik dicatatkan dalam bual ini. Jurgen yang ada di sana tiba-tiba menunjuk pada apa yang saya gantung di leher. Dia kira ponsel. Saya kasih unjuk. Itu hanya sebuah kompas.
Aini melirik dan berkata, “Suunto!”
Lalu Aini bercerita lagi tentang Finlandia. Suunto adalah industri ketiga terbesar sebagai penyumbang pendapatan negaranya. Dengan bangga Aini mengatakan kompas merk Suunto “the best compass in the world”.
Saya mana tahu. Wong, warisan. “Untuk apa bawa kompas?” tanya Aini tiba-tiba.
Saya hendak bilang, kadang perlu mencatat, jendela kamar tempat saya menginap menghadap ke arah berapa derajat? Atau puncak bukit yang saya lihat dari sebuah tempat, ada pada posisi berapa derajat. Untuk semacam itulah. Tapi, english saya tak well banget. Lebih mirip tarzan-english.
“Untuk shalat?” kejar Aini. Ketimbang panjang dan bikin lidah pletat-pletot, saya angguki jawabannya. Dan untuk ketiga kalinya saya mendengar jawaban khas Aini.
“I DON’T BELIEVE YOU!”
Ajajajaja!
[SyamAR; 19 April 2010]


