Burung Si Dick
Bagian awal kolaborasoy Syam & Pungky
#Jatah Pungky, sila baca Bahasa Vagina Indonesia
Perkenankan saya menghaturkan maaf sebagai awalan. Kali ini bukan kuatir lantaran dikira menulis hal tak patut tak sopan. Pembubuhan maaf di muka ini juga sebagai pemudah, supaya kelak tak perlu berulang menyebutkan kata maaf sebelum nama alat tubuh, macam (maaf) penis.
Lahir dan tumbuh berkembang di ranah melayu yang Indonesia, saya hidup pada negeri kaya bahasa namun berketerbatasan dalam bahasa. Sejak kecil, terbiasa dengan “penghalusan” bahasa. Bahkan ketika menyebut alat kelamin sendiri, macam yang saya punya, saya tak boleh sebut dengan bahasa resmi yang telah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Penggantinya, kita mengenal kata, “burung”, “titit”, atau, “anu”. Pada gilirannya orang dewasa senang pula memakai nama-nama makanan atau buah-buahan untuk menyebut alat kelamin laki-laki. Kalau tak bongkol, ya lontong. Bila tak pisang, ya timun, atau terong.
————————————————
Karena budaya “kita” mengedepankan kesopanan, maka kita harus pula sopan berbahasa. Perkenankan saya membagi 2 catatan semasa kecil;
#Pertama
Saya tak boleh sebut kata “kulup“, karena kulup adalah titit dalam bahasa Prabumulih. Tapi Selatan Sumatera kaya sekali dengan bahasa.
Persis di sebelah suku Rambang, dimana saya menjadi bagiannya, ada suku Belide. Ketika kami berkebun di desa Lembak, kawasan Belide (+/- 30 km dari Prabumulih), saya kerap mendengar kata kulup dipakai sebagai sapaan kesayangan orang-orang tua ke anan-anak. Dalam sapaan, lebih sering disingkat sebagai “lup” saja.
“Nak kemena, lup?”
“Aiii, nak ngaji yasiiin!”
Ajajajaja! Kata tak sopan di kampung saya dibawa-bawa ke peribadatan?! Tak ada yang salah, bukan? Ini semata-mata perkara bahasa.
# Kedua
Umak, ibu kami ajaib. Dia suka memberi nama timang pada setiap anaknya. Bunyinya kadang tak berkait dengan nama resmi. Adik bungsu saya, namanya Rahmat Nuriman, oleh Umak, dipanggil sayang sebagai Kempok. Tapi kami menyapanya Tatang.
Saya, dipanggil Chandot. Jauh dengan Syamsul? Sebelumnya saya bernama Chandra.
Abang saya, Syamsul Bahri. Nama kesayangannya Koncol. Apa…? K O N C O L ?! Nama yang tak sopan nian? Siapa suruh kalian membangun pemahaman bahwa nama itu tak sopan. Nama itu sama sekali berbeda dengan kata yang berarti ALAT VICAL UNTUK KENTING?
————————————————
Ini tentang kecanggungan berbahasa, ketakjujuran dalam mengakui bahasa sendiri. Kenapa kita menyamarkan bahasa anatomi tubuh dengan yang seharusnya bisa dipakai menggunakan kata dalam bahasa anatomi sebagai PENIS. Mengapa harus burung, titit, burung, lontong, pisang, bla-bla-bla, atau anu? Karena kita bangsa Timur?
Dari Barat kemudian kita menyerap kata penis, yang secara etimologi berasal dari; Latin, penis, tail; akin to Old High German faselt penis, Greek peos
Periksa di sini.
http://www.merriam-webster.com/dictionary/penis
Kata penis kemudian marak dipakai di Indonesia, terutama di dunia pendidikan dan kesehatan. Bahkan di beberapa keluarga mengenalkan kata ini pada anak-anak mereka. Menggantikan titit, burung, atau anu.
Padahal Kamus Besar Bahasa Indonesia memasukkan kata kontol sebagai muatan. Kenapa tak kita pakai? Tak bermaksud menyalahkan budaya bangsa sendiri, tapi mungkin dalam konteks kekinian, menggunakan kata ini dalam koridor anatomi apa tetap dirasa kurang sopan? Lalu kenapa ketika sepertinya boleh menyebut kata KONTOL hanya ketika hendak memaki?!
Menyoal kesopanan Timur, Barat pun mengenal dick dan wiener. Tapi saya tak yakin Barat memaki seseorang dengan PENIS!
[SyamAR; LeBul, 24 Juli 2010]