NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]
#36. Setelah Pertemuan yang Menyenangkan
Setelah pertemuan yang menyenangkan itu…
Adalah sejarah bahwa Mimosa telah merekam ingatan tentang seseorang. Lelaki itu. Trotsminty. Bila tak bisa disebut sebagai sebuah ingatan seakurat pita kaset maka ia hanya berani menuduh dirinya telah mulai mengenali sebentuk getar. Sesuatu yang dihantarkan lewat benda abstrak bernama suara. Benda yang datang dan pergi begitu saja lewat gendang telinganya dan sungguh tak pernah berjanji.
Tapi suara itu sungguh konsumsi telinga sekaligus hati!
Mimosa menarik nafas besar-besar! Huf! Huf! Huf! Mari berhenti berfantasi. Berhenti mengkhayalkan sesuatu yang belum tentu terjadi! Jangan mulai mimpi, Mimosa!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]
#35. I Love You but I Miss You
Hari ini Trotminty sakit. Dia terkapar dalam duduknya. Efek samping menjadi dewasa. Dan dia menghujani Mimosa dengan kabar-kabar tentang diri Trots dalam konteks terkini. Lewat telepon, pesan pendek, surat, dan email.
Kriing….!
Hallo!
Hi!
Aku sedang sibuk sekali, hanya aku takut lupa mengatakan sesuatu.
Tentang apa?
Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku rindu kamu hari ini?
Belum.
Oke! Sampai nanti.
Dan telepon ditutup. Trots melonjak kegirangan. Seperti bocah yang mendapatkan es krim kesukaannya.
Satu jam kemudian, hampir tengah malam Trot menulis pesan pendek ke ponsel Mimosa; “I Miss You, but… I Love You!”
Dua menit kemudian dia menerima pesan pendek balasan; “Tell me loudly tommorow. Tell me more! Tell me more!
Trots menekan nomor ponsel Mimosa dan menunggu sebentar,
“Haloooo!”
“Mimosa.”
“Kenapa Trots?”
“Aku nggak bisa menunggu besok.”
Mimosa diam.
“Aku nggak harus mengatakan ulang dengan keras, kan?”
Mimosa masih diam.
“Oke. Aku sebetulnya sudah mengatakannya beberapa kali.”
“Apa rencanamu besok?”
“Uphs, besok aku akan melamarmu menjadi calon isteriku.”
“Trooots…? Kau tidak sedang mabuk, kan?”
“Tenanglah. Aku membatalkan untuk mengatakan itu besok…”
“Maksudmu?”
“Aku melamarmu sekarang!”
“Trots…? Aku bingung.”
“Tidak boleh bingung, Mim.”
“Tapi kenapa,Trots. Kita belum kenal jauh…”
“Aku merasakan itu sejak surat pertamamu nyasar ke emailku.”
“…..”
“Pada titik ini aku betul-betul yakin, bahwa keturunanku akan diteruskan bersamamu. Kau setuju?”
“… Ya, Trots. Aku mau…”
“Hhhh… terima kasih! Tapi, sepertinya kau sedang tidak normal malam ini. Bagaimana jika kita tutup telepon ini dulu. Kemudian keu istirahat sambil memikirkan ulang keputusanmu tadi, ya?”
“Yup, Trots! Kau juga harus melakukan yang sama.”
“Aku tidak! Ibarat judi pek qyu, aku pasang tengah dengan semua modal terakhir. Maaf tentang pengandaian yang mungkin kau tak suka. Tapi aku mencintaimu, tidak bisa lebih! Selamat malam. Have a nice nightmare!”
Klik.
Mimosa barangkali segera tidur. Trots sudah berlari lagi ke workshop produksi spanduk keluarganya. Dengan semangat petani di musim tanam.
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]
#34. I Think of You Every Morning
Belasan puisi dalam satu judul berangkai yang bertahap diterima Trots dalam tenggat waktu yang tak pernah lama. Datang sebelum sempat meraba pemaknaan yang Mimosa maksud. Di kota dimana Trots berlindap untuk jangka waktu tak tentu hujan turun dengan petir yang paling bersemangat se-Bogor. Dikurung hujan Trots menyibukkan diri dengan demikian banyak pekerjaan.
Beberapa malam terakhir setelah menyinggahi rumah bertangga banyak dan sepotong-sepotong Trots mengingatnya hampir setiap waktu. Desain-desain spanduk mengalir di printer. Telepon pemesanan order berdering-dering. Dia hanya membelakangi, sesekali melayani suara-suara meminta pisau cutter, atau sepotong dua pensil. Kadang ikut dimarahi konsumen jika desain spanduk yang kubuat tak sesuai kepala mereka. Atau membalas sapaan-sapaan hangat dari anak-anak pekerja spanduk.
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]
#33. Hei, Kiri!
Satu waktu di taman belakang, Mimosa bercerita tentang seorang bocah datang dari sebuah planet yang sebesar lebih sedikit dari sang bocah. Bocah yang setiap pagi mencabuti belukar di planetnya supaya tak menjadi pohon raksasa. Pekerjaan membosankan yang sebetulnya mudah. Belakangan Trots tahu bahwa cerita itu datang dari seorang Prancis. Dan tentang percakapan si bocah dengan rubah tentang pemaknaan “ritual”.
Ritualisme membuat rencana pertemuan mereka setiap akhir pekan menjadi demikian ditunggu. Laki-laki Trots merasa, cerita sang bocah hanya akal-akalan. Hanya jangan sampai kami terjebak pada ritual dingin seperti ibadah nan tak jelas semangat yang terwakili.
*
Mimosa telah menulis surat. “Untukmu!” Katanya Kepada Trots.
Angin sedang diam. Trots membuka dan membacanya. Mimosa menunduk dan menatap dengan durasi sebanding.
Direintepretasi dari catatan di bawah ini yang juga pernah direintepretasi oleh Fikri (dan Pungky) di kompasiana dalam sebuah cover version
Buat Ting [Sebuah Dongeng Pada Sebuah Petang]
Ting, perempuan, adalah nama satu sahabat. Berteman baik dengan istriku pula. BuRuLi adalah teman perempuan pertama yang membuatnya nyaman dipeluk, demikian akunya. Bagiku, Ting, sahabat non-hormonal.
“Pinjam punggungku kalau kau sedang merasa sepi,” katanya suatu petang. Masih kusimpan pesan pandaknya. Bertanggal 5 Desember sebuah petang yang hilang.
Aku pun menyediakan bahu, kapan pun dia ingin menangis. Dan hingga kini kami belum saling memanfaatkan fasilitas yang telah kami saling tawarkan.
Saya justru riang menyanyikan sepi. Dan dia pun pandai menumpahkan tangisnya dalam dongeng jenaka.
“Selamat Ulang Tahun!” Katanya pada satu petang di pengujung tahun silam. Dalam satu ziarah.
“Ha ha! Ya ya ya… dan kita sebenarnya sedang berjalan menuju tua.”
Ting tertawa dalam deret kata pada pesan selular.
Pada suatu petang di awal tahun, kami bercakap melalui bilik cakap ruang maya.
“Aku tampaknya bakal mengikuti jejakmu, Ting!”
“Umm… dasar tukang intil! Tapi, apa maksudmu?”
“Aku mungkin bergerak menuju tua, sendiri.” Kataku. Tak yakin apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi seorang sahabat aneh macam Ting.
“Umm… dan nanti kita akan bersama-sama bermain bola bekel di sebuah panti jompo?”
“Mungkin. Atau malah membuat rumah-rumahan di bawah kursi.”
“Ha ha! Percayalah banyak permainan kanak di sana untuk bocah-bocah seumur kita nanti.”
“Mungkin tak harus di sana. Kita bisa tinggal di satu rumah lain, di satu rumah di dekat panti.”
“Umm… kedengarannya menarik! Sepasang sahabat tua renta tinggal berdua di satu rumah.”
“Ya! Mungkin.” Aku menyahut seperlunya lengkap dengan simbol pelambang tawa.
“Mungkin malah kita lalu menikah ketika umur kita 70!” simbol pelambang tawa terguling-guling membalas pewakil tawaku.
“Ah… kalau itu terjadi, aku malah belum sampai posisi 69!” kujiplak simbolnya.
“Halah! Kau memang senang nyerempet-nyerempet!”
“Aku serius! Saat kau 70 aku baru 68.”
“Ha ha ha! Dasar brondong!”
Kami tertawa serempak! Aku yakin itu! Meski di layar komputer kolom tertawa tetap harus bergilir.
Usai tawa, aku bilang, “Itu keren! Seorang kakek menikahi seorang nenek hanya supaya bisa saling menyapa… Selamat Tidur, Kawan!”
Ting tertawa saja.
“Manfaat lain, supaya ketika salah satu mati, ada orang yang mengetahui.”
Ting makin tertawa dan menyahut, “Masing-masing berjanji, akan sering menengok makam sahabatnya yang mati lebih dulu.”
“Ha ha ha! OK! Aku janji, sahutku!”
“Jiaaah… kamu curang! Ketahuan kamu berjanji, berarti aku yang akan mati lebih dulu.”