Menyenangkan… Sekaligus Menegangkan?

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 28-06-2010

Tags: , ,

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]

#39. Menyenangkan… Sekaligus Menegangkan?

Cinta itu seperti bunga. Bila dirawat ia akan tumbuh indah sekali. “Seperti rumpun bunga kuningku dulu” Kata Trotsminty.

Mimosa tertawa. Mereka mulai mencangkul bersama. Telah mereka pilih bibit terbaik yang mereka punya. Ajari aku menakar pupuk, Trots!

Berat?
Lumayan!

Musim semi dimulai dengan tunas-tunas bunga. Kemudian ulat yang akan menjadi kupu-kupu. Musim ulat tentu saja mengerikan! Tapi musim kupu-kupu?

Indah luar biasa!

Kita tak mungkin menanam sesuatu tanpa Read the rest of this entry »

Kau Dan Aku, Jadi Kita!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 27-06-2010

Tags: , ,

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign
#38. kau dan Aku Jadi Kita!

“Hari ini ada yang berubah… kau dan aku, jadi kita! Satu rasa yang mennyejukkan jiwa!”

Ini lagu karya Indra Lesmana. Dua kawan. Kami memang berkawan!

Dug! Dug! Dug!
“Hari ini ada yang berubah…”

Dug! Dug! Dug!
“Kau dan aku.. jadi kita!”

“Satu rasa yang menyejukkan jiwa! Indah! Megah! Percayalah! Kini kita berdua…”

Mimosa. Autissia. Nggak jomblo lagi! Percaya nggak sih kamu?

Mari kita berbicara tentang Read the rest of this entry »

Tuhan! Ia Melamarku!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 24-06-2010

Tags: , ,

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]

#37. Tuhan! Ia melamarku!

“Rasanya aku sedang jatuh cinta!” Kata lelaki di seberang sana.
“O, ya?… dengan siapa?”

Dug! Dug! Dug!
Jangan berharap!

“Kau!”

!@#$%^&*(! ! ! !
Jangan mulai bercanda! TOLONG! Jangan mulai bercanda!

Sebab…Sebab…

“Jangan bercanda, Trots!”

Sebab…Sebab…
Sesungguhnya aku telah Read the rest of this entry »

Setelah Pertemuan yang Menyenangkan

2

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 23-06-2010

Tags: , ,

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN V: Setelah Pertemuan yang Menyenangkan [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign

#36. Setelah Pertemuan yang Menyenangkan

Setelah pertemuan yang menyenangkan itu…

Adalah sejarah bahwa Mimosa telah merekam ingatan tentang seseorang. Lelaki itu. Trotsminty. Bila tak bisa disebut sebagai sebuah ingatan seakurat pita kaset maka ia hanya berani menuduh dirinya telah mulai mengenali sebentuk getar. Sesuatu yang dihantarkan lewat benda abstrak bernama suara. Benda yang datang dan pergi begitu saja lewat gendang telinganya dan sungguh tak pernah berjanji.

Tapi suara itu sungguh konsumsi telinga sekaligus hati!

Mimosa menarik nafas besar-besar! Huf! Huf! Huf! Mari berhenti berfantasi. Berhenti mengkhayalkan sesuatu yang belum tentu terjadi! Jangan mulai mimpi, Mimosa!

Aku seperti hampir mendengar kata Read the rest of this entry »

I Love You but I Miss You

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 21-06-2010

Tags: , ,

Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam

BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]

#35. I Love You but I Miss You

Hari ini Trotminty sakit. Dia terkapar dalam duduknya. Efek samping menjadi dewasa. Dan dia menghujani Mimosa dengan kabar-kabar tentang diri Trots dalam konteks terkini. Lewat telepon, pesan pendek, surat, dan email.

Kriing….!

Hallo!

Hi!

Aku sedang sibuk sekali, hanya aku takut lupa mengatakan sesuatu.

Tentang apa?

Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku rindu kamu hari ini?

Belum.

Oke! Sampai nanti.

Dan telepon ditutup. Trots melonjak kegirangan. Seperti bocah yang mendapatkan es krim kesukaannya.

Satu jam kemudian, hampir tengah malam Trot menulis pesan pendek ke ponsel Mimosa; “I Miss You, but… I Love You!”

Dua menit kemudian dia menerima pesan pendek balasan; “Tell me loudly tommorow. Tell me more! Tell me more!

Trots menekan nomor ponsel Mimosa dan menunggu sebentar,

“Haloooo!”

“Mimosa.”

“Kenapa Trots?”

“Aku nggak bisa menunggu besok.”

Mimosa diam.

“Aku nggak harus mengatakan ulang dengan keras, kan?”

Mimosa masih diam.

“Oke. Aku sebetulnya sudah mengatakannya beberapa kali.”

“Apa rencanamu besok?”

“Uphs, besok aku akan melamarmu menjadi calon isteriku.”

“Trooots…? Kau tidak sedang mabuk, kan?”

“Tenanglah. Aku membatalkan untuk mengatakan itu besok…”

“Maksudmu?”

“Aku melamarmu sekarang!”

“Trots…? Aku bingung.”

“Tidak boleh bingung, Mim.”

“Tapi kenapa,Trots. Kita belum kenal jauh…”

“Aku merasakan itu sejak surat pertamamu nyasar ke emailku.”

“…..”

“Pada titik ini aku betul-betul yakin, bahwa keturunanku akan diteruskan bersamamu. Kau setuju?”

“… Ya, Trots. Aku mau…”

“Hhhh… terima kasih! Tapi, sepertinya kau sedang tidak normal malam ini. Bagaimana jika kita tutup telepon ini dulu. Kemudian keu istirahat sambil memikirkan ulang keputusanmu tadi, ya?”

“Yup, Trots! Kau juga harus melakukan yang sama.”

“Aku tidak! Ibarat judi pek qyu, aku pasang tengah dengan semua modal terakhir. Maaf tentang pengandaian yang mungkin kau tak suka. Tapi aku mencintaimu, tidak bisa lebih! Selamat malam. Have a nice nightmare!”

Klik.

Mimosa barangkali segera tidur. Trots sudah berlari lagi ke workshop produksi spanduk keluarganya. Dengan semangat petani di musim tanam.

I Think of You Every Morning

1

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 21-06-2010

Tags: , ,

Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam

BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]

#34. I Think of You Every Morning

Belasan puisi dalam satu judul berangkai yang bertahap diterima Trots dalam tenggat waktu yang tak pernah lama. Datang sebelum sempat meraba pemaknaan yang Mimosa maksud. Di kota dimana Trots berlindap untuk jangka waktu tak tentu hujan turun dengan petir yang paling bersemangat se-Bogor. Dikurung hujan Trots menyibukkan diri dengan demikian banyak pekerjaan.

Beberapa malam terakhir setelah menyinggahi rumah bertangga banyak dan sepotong-sepotong Trots mengingatnya hampir setiap waktu. Desain-desain spanduk mengalir di printer. Telepon pemesanan order berdering-dering. Dia hanya membelakangi, sesekali melayani suara-suara meminta pisau cutter, atau sepotong dua pensil. Kadang ikut dimarahi konsumen jika desain spanduk yang kubuat tak sesuai kepala mereka. Atau membalas sapaan-sapaan hangat dari anak-anak pekerja spanduk.

Tapi, “I think of you every morning…” Selena Jones mengantikan Read the rest of this entry »

Hei, Kiri!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 19-06-2010

Tags: , ,

Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam

BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]

#33. Hei, Kiri!

Satu waktu di taman belakang, Mimosa bercerita tentang seorang bocah datang dari sebuah planet yang sebesar lebih sedikit dari sang bocah. Bocah yang setiap pagi mencabuti belukar di planetnya supaya tak menjadi pohon raksasa. Pekerjaan membosankan yang sebetulnya mudah. Belakangan Trots tahu bahwa cerita itu datang dari seorang Prancis. Dan tentang percakapan si bocah dengan rubah tentang pemaknaan “ritual”.

Ritualisme membuat rencana pertemuan mereka setiap akhir pekan menjadi demikian ditunggu. Laki-laki Trots merasa, cerita sang bocah hanya akal-akalan. Hanya jangan sampai kami terjebak pada ritual  dingin seperti ibadah nan tak jelas semangat yang terwakili.
*

Mimosa telah menulis surat. “Untukmu!” Katanya Kepada Trots.

Angin sedang diam. Trots membuka dan membacanya. Mimosa menunduk dan menatap dengan durasi sebanding.

Sebentar-sebentar Read the rest of this entry »

Kopi Darat

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 16-06-2010

Tags: ,

Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam

BAGIAN IV: JAKARTA, AWAL TAHUN [Jatah SyamAR]

#32. Kopi Darat!

“Datanglah ke Jakarta,” pesan dari satu abangnya.

“Ada apa dengan Jakarta?”

“Sesuatu yang dapat kau lakukan, tepatnya sesuatu yang dapat kau bantu.”

“Asal tak lama!” Tempat tidur bernama Prabumulih demikian menyenangkan bagi Trots hingga dia tak sedia meninggalkannya lama.
*

Selain membantu Abang dan keluarga iparnya di Jakarta, dia sesekali Read the rest of this entry »

Peluk Sayang Dari Surga [Musikalisasi Sekadar Bunyi]

4

Posted by Syam | Posted in Gumam | Posted on 15-06-2010

Tags: , ,

Musikalisasi asal bunyi ini;

sekadar membaca BuRuLi dalam sajaknya; Peluk Sayang dari Surga

Satu sajak BuRuLi, dimuat dalam antologi puisi untuk gempa Yogya; JOGJA 5,9 SKALA RICHTER, terbitan Bentang. Foto; Pribadi

Satu sajak BuRuLi, dimuat dalam antologi puisi untuk gempa Yogya; JOGJA 5,9 SKALA RICHTER, terbitan Bentang. Foto; Pribadi

Buat Ting [Musikalisasi Sekadar Bunyi]

0

Posted by Syam | Posted in Gumam, catatan sekadarnya, mencatat kawan | Posted on 15-06-2010

Tags: ,

Direintepretasi dari catatan di bawah ini yang juga pernah direintepretasi oleh Fikri (dan Pungky) di kompasiana dalam sebuah cover version

Buat Ting [Sebuah Dongeng Pada Sebuah Petang]

Ting, perempuan, adalah nama satu sahabat. Berteman baik dengan istriku pula. BuRuLi adalah teman perempuan pertama yang membuatnya nyaman dipeluk, demikian akunya. Bagiku, Ting, sahabat non-hormonal.

“Pinjam punggungku kalau kau sedang merasa sepi,” katanya suatu petang. Masih kusimpan pesan pandaknya. Bertanggal 5 Desember sebuah petang yang hilang.

Aku pun menyediakan bahu, kapan pun dia ingin menangis. Dan hingga kini kami belum saling memanfaatkan fasilitas yang telah kami saling tawarkan.

Saya justru riang menyanyikan sepi. Dan dia pun pandai menumpahkan tangisnya dalam dongeng jenaka.

“Selamat Ulang Tahun!” Katanya pada satu petang di pengujung tahun silam. Dalam satu ziarah.

Ha ha! Ya ya ya… dan kita sebenarnya sedang berjalan menuju tua.”

Ting tertawa dalam deret kata pada pesan selular.

Pada suatu petang di awal tahun, kami bercakap melalui bilik cakap ruang maya.

“Aku tampaknya bakal mengikuti jejakmu, Ting!”

Umm… dasar tukang intil! Tapi, apa maksudmu?”

“Aku mungkin bergerak menuju tua, sendiri.” Kataku. Tak yakin apakah ini adalah kabar baik atau kabar buruk bagi seorang sahabat aneh macam Ting.

Umm… dan nanti kita akan bersama-sama bermain bola bekel di sebuah panti jompo?”

“Mungkin. Atau malah membuat rumah-rumahan di bawah kursi.”

Ha ha! Percayalah banyak permainan kanak di sana untuk bocah-bocah seumur kita nanti.”

“Mungkin tak harus di sana. Kita bisa tinggal di satu rumah lain, di satu rumah di dekat panti.”

Umm… kedengarannya menarik! Sepasang sahabat tua renta tinggal berdua di satu rumah.”

“Ya! Mungkin.” Aku menyahut seperlunya lengkap dengan simbol pelambang tawa.

“Mungkin malah kita lalu menikah ketika umur kita 70!” simbol pelambang tawa terguling-guling membalas pewakil tawaku.

Ah… kalau itu terjadi, aku malah belum sampai posisi 69!” kujiplak simbolnya.

Halah! Kau memang senang nyerempet-nyerempet!”

“Aku serius! Saat kau 70 aku baru 68.”

Ha ha ha! Dasar brondong!”

Kami tertawa serempak! Aku yakin itu! Meski di layar komputer kolom tertawa tetap harus bergilir.

Usai tawa, aku bilang, “Itu keren! Seorang kakek menikahi seorang nenek hanya supaya bisa saling menyapa… Selamat Tidur, Kawan!”

Ting tertawa saja.

“Manfaat lain, supaya ketika salah satu mati, ada orang yang mengetahui.”

Ting makin tertawa dan menyahut, “Masing-masing berjanji, akan sering menengok makam sahabatnya yang mati lebih dulu.”

Ha ha ha! OK! Aku janji, sahutku!”

Jiaaah… kamu curang! Ketahuan kamu berjanji, berarti aku yang akan mati lebih dulu.”

Kami tertawa serempak lagi.%0