Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 06-12-2009
Tags: Note: Tunggu Aku!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
25. The Sangkuriang Project
Cukup lama Trots tidak menyinggahi Deswah. Waktunya semakin tersita oleh Proyek Sangkuriang yang memang amat butuh konsentrasi. Menyambangi para sahabat dan komunitas lain menjadi sebuah sebuah kemewahan. Paling sering, ke kampus. Kalau tidak konsultasi, meminta-minta tanda tangan, mengejar ketertinggalan kuliah, urusan administrasi, mencari referensi, dan mengolah data, menemani beberapa kerabat yang juga seperjuangan.
Dunia Trots di satu titik di kampus adalah kantin. Melahap pindang patin dimasak ala Pegagan rasa pedas dan asam, mengangkat satu kaki di angkat ke bangku kayu, dibumbui sapaan-sapaan hangat, atau sekedar menikmati segelas kopi dan asap rokok, obrolan dari diskusi yang memecahkan otak sampai kelakar remeh, semuanya adalah kesenangan bergizi. Belakangan, di sana juga Trots melakukan barter karya sastra entah puisi entah cerita dengan satu komunitas adik-adik tingkatnya.
Selain ke kampus, dia mengendap di salah satu rumah singgahnya. Pondok tempat dia (kerap) singgah itu berwarna jeruk, berukuran mungil tapi hangat. Bangunannya kecil berkamar tidur dua, salah satunya sekaligus adalah perpustakaan. Ada dua ruangan agak besar yang pertama menjadi ruang tamu, ruang rapat, barak besar, dengan papan pengumuman yang selalu berteriak atau sekedar berbisik dengan spidol hitam di whiteboar, misal “Tadi Buntel menelepon dari Pagar Alam, salam untuk kita semua katanya.” Satu ruangan lagi di bagian tengah dan berfungsi sebagai apa saja. Di dekat kamar mandi dan sumur yang rendah ada satu dapur besar yang juga gudang sekaligus workshop daur ulang kertas.
Di rumah singgahnya itu Trots mencoba berkonsentrasi menyelesaikan proyek Sangkuriangnya. Skripsi dan laporan-laporan dikeroyok bersama para kerabat di rumah itu juga.
Selebihnya, jika tak di kampus atau di sana dia pasti di luar Palembang. Sebetulnya dia semakin yakin proyeknya gagal. Maka beberapa kali dia pulang ke Prabumulih, untuk menemui Emaknya. Kepada emaknyalah pada suatu kesempatan kumpul keluarga dia mengatakan secara lamat-lamat bahwa dia mungkin tidak akan tamat dari kuliahnya. Dan ruangan menjadi penuh kekesalan, serta sedikit makian, “Bodoh!”.
“Semua orang patut kecewa jika itu terjadi,” emaknya menenangkan. “Tapi, kalian pikir cuma kalian yang kecewa? Dia tidak?” Emaknya memberikan pembelaan.
Pengadilan itu selesai dengan putusan bahwa Trots harus mengejarnya.
Selain Emak, adalah dosennya yang patut dipuji keberaniannya. Trots menamakannya Pak Tiga Satu. Penamaan itu karena dia suka, kawan-kawannya menterjemahkan bahwa dari tiga orang mahasiswa bimbingannya satu (pasti) parah (baca: bermasalah serius di bidang akademik).
Trots pernah bermain catch me if you can dengan satu dosen ini. Suatu kali mereka membuat janji konsultasi membicarakan penelitian Trots yang belum jelas. Mereka sepakat bertemu di sembilan lima belas. Pintu ruangan yang mirip bengkel itu terbuka ketika Trots datang pada waktu yang dijanjikan.
Dari arah pintu terlihat, rupanya seseorang –mahasiswi tahun ketiga– telah mendahului janji mereka. Kelihatan sang mahasiswi sedang serius menerima pengarahan. Trots mundur menunggu dari arah agak jauh. Ia merasa tidak enak mengganggu, jangan-jangan anak itu ada urusan yang amat penting.
Trots kemudian melarikan diri ke kantin. Begitu kopinya datang sebuah pesan sampai, bahwa sang dosen mengajar dulu dan Trots ditunggu setelah jam mata kuliah sang dosen. Dua kali 45 menit kemudian, dekat ke siang, di depan ruang kerja dosen yang bersangkutan ketika mereka bertemu. Sang dosen menyatakan bahwa dia ada janji penting di sebuah kantor konsultan pertanian di Palembang. Trots diminta menyusul ke sana tepat tengah hari.
Tepat tengah hari, sang dosen tidak ada lagi di tempat. Menurut informasi sang dosen boleh jadi pulang ke rumah atau pergi ke lapangan.
Trots memastikan dengan menelepon kerumahnya. “Barangkali ke lapangan?” Sahut penjawab telepon. Trot menghubungi ponsel sang Dosen. Dijawab oleh Veronika.
Trots mengejarnya ke dermaga speedboat tepian musi dekat bekas benteng Kutobesak yang sekarang dikuasai tentara dan mal. Sudah pasti Sang Dosen ke lapangan. Yang disebut lapangan adalah sebuah field dimana proyek sang dosen dilaksanakan. Proyek pendampingan petani di salah satu kawasan pertanian sebelah hilir Sungai Musi, sebelah timur Sumsel, daerah pesisir dekat laut, dekat Selat Bangka. Dibutuhkan tiga jam mencapainya.
Trots pasrah untuk sementara. Dan memastikan jika sampai malam ini dia tak mendapatkan Sang Dosen di Palembang, maka sudah pasti besok pagi dia susul sang dosen ke tempat yang ia tidak tahu persisnya itu. Trots belum pernah ke sana.
Dan benar, besoknya setelah melalui lahan basah yang luas sepanjang tiga jam dengan perahu cepat bermotor. Setelah mengejutkan banyak kumpulan bangau, belibis, dan burung-burung air, di rumah kayu kawasan transmigran Sang Dosen sudah menunggunya dengan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
Hari-hari semakin berkejaran, seolah tiba-tiba siang, tiba-tiba malam.
*
