… Saiber

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 03-12-2009

Tags:

Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
24. Saiber

Tadi sore Trotsminty menerima pesan pendek di telepon selularnya. Berbunyi; keep being my friend, with a simple hug and simple smile. Simple friendship will be better with a beautiful simple love =). Pengirimnya seseorang yang mengaku bernama Mimosa. Pesan itu dikirim pada detik ke duapuluh lima menit ketigapuluh lima sebelum pukul enam sore tadi. Ini hari kesebelas di April.

Seseorang bernama Mimosa itu sedikitnya telah menjadi candu pada Trots. Hingga sesekali Trots menunggu-nunggu apakah ada pesan masuk pada halaman pribadinya di situs sajak. Sejak, tujuh sebelas duaribu dua.

“Mimosa, mimosa, kamu mengaku perempuan…”

Komunikasi di saiber dengan seorang asing memang harus belajar percaya sekaligus tidak peduli ketepatan informasi yang dikirim. Trots awalnya menganggap ini semua hanya pertemuan dua unit komputer di dua titik di irisan dunia. Dan para pelakunya bisa saja dua orang iseng yang dapat mengaku sebagai siapa saja. Bisa saja mengaku Batman atau Susilo Bambang Yudhoyono atau Meg Ryan. Lalu akan saling melupakan atau kemudian membuat janji bertemu. Bersahabat secara sebetulnya, bisa saling mengecewakan, atau berlanjut ke pada membangun kencan, bercinta, atau kawin, semua bisa.

Mimosa, mengaku seorang perempuan. Guru sebuah taman kanak-kanak. Usianya hanya enam bulan lebih dulu dari Trots.

Makanya, “Kalau begitu, aku akan panggil kau sebagai… Kakak,” Tulis Trots suatu kali, kejahilan melayunya metu.

“Wakakak, kenapa tidak tante sekalian, Hiks.” Komputer entah di irisan dunia mana itu tertawa. “Sekolahmu dimana, dik? Hua ha ha :) …”

Menghadapi pertanyaan model begini, biasanya Trots melengos. Teringat kejadian beberapa waktu belum lama kemarin. Dia masih berjuang menyelesaikan studinya. Tidak seperti keinginannya jauh sebelumnya; akan mencoba beragam banyak jurusan pengetahuan di beragam perguruan dengan atau tanpa menamatkannya.

Trots teringat sebuah memoar yang ditulisnya begitu keluar dari ruang konsultasi dengan ketua jurusan di fakultasnya.

Dia menulisnya bahwa, secara sadar bahwa baginya tidak lulus dari sana adalah keniscayaan. Tapi tidak melalui semester terakhir dengan bersemangat, adalah tolol. Proyeknya adalah; memulai menyusun skripsi, melakukan praktek lapangan serta menyusun laporannya, menagih nilai Kuliah Kerja Nyata yang semula dia lupakan ketika dia tak mendapatkannya hanya karena terlambat menyusun laporan, mengulang tiga mata kuliah yang bernilai nol atau “E”. Jika gagal ini semua dirampungkan, maka dia drop out. Begitulah aturannya.

Semester terakhir itu sudah berjalan tiga bulan. Trots menyebut proyek di akhir umur kuliahnya dengan “Sangkuriang Project”.

Sangkuriang Project adalah perihal yang dia kirim terakhir kepada kawan mayanya terakhir. Komentar Ibu guru taman kanak-kanak itu, “Apa aku harus mengirim bunga tanda ber-belasungkawa?”

Gdubrak!

Mereka setelah masuk tahun kedua telah saling menelepon dan berkirim beberapa pesan pendek. Dominannya berkirim puisi-puisi selular. Mereka kerajingan di dunia sastra selular; Mimosa penulis dan Trots pembaca. Salah satunya;

Rindu itu terkait dihatiku, nyangkut bersama doa dan cinta. Kawan, ini cuma masalah jarak dan waktu, sedang kasih bisa merambat dalam ruang hampa=)
(Mimosa, sent 00:12:53 20-03-2003)

Ya, tapi gara-gara rindulah semuanya. Trots memaki dalam hati. Dia telah membuka tiga halaman sekaligus, provider tempat e-mail gratisnya, website puisi, dan website pornografi lokal. Membuka-buka apakah ada bagian diskusi yang harus dia turut berkomentar di salah satu mailing-list, melihat-lihat puisi yang baru di-posting, dan memeriksa cerita porno baru.

Yang terakhir segera dia tutup. Tak ada cerita baru. Cerita yang di-posting Trots masih menduduki peringkat teratas sebagai paling banyak dibaca.

Oh, yes…! Trots menyukai dunia ini. Sekalipun belum pernah mencoba (dengan atau tanpa pengawasan orang dewasa), setidaknya menonton di film biru ia pernah. Aktivitas seksual mendekatkan pelakunya pada tiga aspek; positifistik, negatifistik, dan spiritual. Karena beberapa bunyi yang dominan; “Oh, yes!”, “Oh, no!”, dan “Oh, God!”

Sesekali ketika sariawan dia tidak menulis puisi atau pamflet politik lingkungan, tapi juga menulis cerita porno dan mempostingnya sesekali di situs pornografi. Manusia selain menyukai mimpi, juga menyenangi cerita kejahatan kriminal dan kejorokan fornografi, setidaknya itu opini. Acara di televisi komersil membuktikannya.

Mailing-listnya hanya penuh dengan ucapan selamat kawin yang berbalas-balasan kepada semua anggota dari beberapa mereka. Jeepney_79 menulis; Selamat mencoba Viagra. Blackbird mengucapkan selamat dan menyatakan rasa iri hatinya. Dari AtillaTheHun hanya membalas dengan attaching file sebuah gambar anjing saling menunggingi. Smallprincess mengirim gambar bunga. Djigrak-wongkito mengirimkan subject : unsubscibe; “keluarkan aku dari milist menyebalkan ini!” Teriaknya. Memang tiap kali ucapan selamat baik suka atau duka selalu memenuhi kotak surat para anggota milis. Masih ada surat dari dua belas anggota lain yang tidak sempat dibuka Trots. Kemudian dia memberi tanda check kepada semua surat dengan subject “Malam Pertama Bono dan Ruda (doa kami)”. Dia hapus semuanya.

Setelahnya dia meng-klik menu composse untuk menulis surat baru dan mengucapkan selamat kepada alamat pribadi Bono dan Ruda. Selamat, katanya. Menikah itu enak (tidak dibaca saja) dan perlu (dilakukan). Seperti iklan sebuah majalah.

Setelahnya dua Trots mematikan provider alamat e-mailnya. Di situs puisi dia menemukan pesan singkat dari Mimosa.

Subject: Note: Nunggu Aku!

“Aku akan pindah tugas ke Medan,”

Perempuan itu mengumumkan.

“Juni nanti.”

Terserah kau mau pergi kemana. Trots juga tak merasa yakin dengan apakah dia sekarang di Jakarta atau di irisan bumi bagian mana. Anehnya dia merasa surat itu sepenting surat cinta. Berkekuatan yang membuat jantung berdebar-debar tiap kali ia datang.

“Selamat datang di belantara Sumatera. Percayalah kamu masih di dunia tropis.” Jawabnya. “Yang agak penting hanyalah tetap tak ada selisih waktu antara kita. Kita masih pada garis yang berdekatan menurut Greenwitch”.

Sebetapapun dia tidak terlalu menanggapi secara serius hubungan lewat dunia maya, tapi Mimosa setidaknya tidak pernah menanggapi komunikasinya dengan cara yang tidak mengenakkan. Baik rasa maupun nilai.

Pesannya terkirim. Dan dia menutup situs puisi itu. Mematikan modem dus komputer sekalian.

Waktunya menghirup udara malam, Trots. Persiapkan dirimu untuk jalan kaki lagi malam ini. Sebab besok harus di kampus tepat saat delapan tiga puluh. Bis menunggumu paling telat tujuh empatpuluh lima jika ingin santai. Jadi jangan tidur malam ini, sebab tidur adalah totalitas dan hanya azan di waktu dzuhur yang mampu membangunkanmu… atau k e b a k a r a n!

Malam masih dekat dengan petang. Sekitar Dunia Dalam Berita waktu TVRI zaman dulu. Lewat sedikit. Gerimis telah mati. Lampu ruang depan mati Trots membesuk Deswah lagi.

Laki-laki yang ditinggalkan dalam kerja drafting modul itu terkapar dengan kantung tidurnya. Hanya bagian dari atas leher saja yang tampak. Rambut gondrongnya tergeletak tak beraturan diatas bundel kliping.

“Wooooi! Pemalas!!!” Trot menjatuhkan badannya menjatuhkan badannya ke lantai kayu seperti atlet wrestling di televisi. Hasilnya lumayan, Deswah terkesiap.

“Ha ha! Ayo kita cari sesuatu yang berguna bagi perut.” Trots meninju arah perut rekannya.

Deswah bangun dan memaki-maki Trots dengan segala jenis isi kandang Ragunan. Tapi, “Ayo!” Katanya. Dia juga hampir kehabisan rokok.

Mereka harus menemukan sesuatu yang cukup hangat bagi perut malam ini. Mereka berjalan mundur sedikit dari bekas kompleks maskapai penambangan minyak asing yang berbangunan arsitektur western. Sambil berjalan mereka berbicara panjang lebar tentang apa yang mereka akan lalui. Trots menyodorkan kretek, bersamaan dengan Deswah menawarkan rokok sigaret berfilter, Trots dan Deswah yang tertawa.

Mereka selalu tertawa. Tertawa oleh sesuatu yang patut bernama; dunia. Bagi mereka tertawa adalah pekerjaan pokok urutan ke-enam. Lima hal pokok sebelum tertawa; Pancasila. Jangan utak-atik rumusan itu kalau tidak mau disebut subversif.

Mereka selalu tertawa.
*

Write a comment