Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 01-12-2009
Tags: Note: Tunggu Aku!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
23. Memasak Tulisan
Gerimis lebih tipis dibanding sore ketika Trostminty keluar dari rumah kost salah satu temannya yang disinggahi setepat waktu maghrib tiba. Seperti yang dia janjikan kepada Deswah, bahwa pada malam dia akan datang.
Anak laki-laki itu seperti tidak perlu terburu-buru. Hanya merapatkan jaket blue jeans yang compang dan mengenakan topi model Mao dalam-dalam. Kelihatannya dia memilih berjalan kaki. Setidaknya akan dua puluh lima menit. Jalan kaki yang singkat baginya dibanding masa kanaknya di kampung dua jam arah tenggara Palembang.
Trot sekarang berusia lebih sedikit dari duapuluh lima. Dia selalu menyebut pekerjaannya sebagai pemulung dan sesekali petani. Kadang mengakui statusnya masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Kegiatan sehari-hari nyaris standar; bangun, membaca berita-berita menarik di koran, menandainya untuk dikliping nanti malam, mandi jika merasa perlu, pergi berjalan-jalan atau datang ke kampus atau diskusi atau sekedar ngobrol, menulis, dan menunggu kantuk datang.
Setiba di rumah kayu setengah panggung itu, tetap melompong dengan pintu depan terbuka. Ruangan yang disekat-sekat menjadi lengang dan dingin. Dari pintu depan ruamah itu dipotong oleh lorong panjang, ada empat sekat berukuran hampir sama disebelah kiri; ruang bermeja tamu, ruang kerja staff keuangan, mushalla yang mirip minibar atau saloon minum di film western, dan ruang kerja “pojok belakang”. Seberangnya sebelah kanan juga empat sekat berukuran hampir mirip; ruang kerja direktur berkaca penuh mirip akuarium berkaca gelap, ruang tempat mendudukkan televisi, ruang bermeja dan pesawat telepon sekaligus lorong menuju perpustakaan, dan kamar mandi.
Sepatu Trots membuat lantai kayu berbunyi. Dug! Dug! Dug!
Rupanya Deswah masih sendiri. Kata Deswah, sejak sore ada beberapa datang dan semuanya hanya singgah. Kata Deswah lagi, beberapa yang datang ke ruang kerja masing-masing, membaca-baca sebentar dan pergi lagi. Kalau tidak, segera tenggelam di layar laptop lalu pergi lagi. Atau ada yang berteriak-teriak sendiri, lalu senyap seperti sudah pergi. Ada yang datang tanya honor, dijawab tidak tahu, mungkin sesuatu kapan, lalu keluar.
“Kamu akan pergi kemana?” Giliran Trots yang ditanya Deswah.
“Aku pernah mengatakan akan pergi?”
“Biasanya dalam kondisi seperti ini, kamu pergi pun.”
“Jelaskan tentang biasanya dan kondisi seperti ini.”
“Aaarrrrgh!”
“Sok tau.”
“Jadi, ehm… kamu tak akan pergi?”
“Bukan urusanmu pun. Mana draft modul itu, tolong print-out-kan. Eh, tidak-tidak jangan cetak, biarkan saja dulu. Aku ambil referensi yang kita butuhkan dulu di perpustakaan. Lemari buku tidak dikunci?”
Deswah belum menjawab, Trots sudah meninggalkannya.
Perpustakaan itu telah sesepi kuburan purba. Buku-buku, kliping-kliping, majalah, brosur tergeletak malas. Dindingnya dilumuti kesepian. Ruangan itu tak lagi mampu memberikan kesenangan terbesar bagi Trots. Ruangan yang lemas.
Lemari buku terkunci. Jadi Trots hanya dapat mengintip-intip judul-judul buku dari balik kaca. Lima menit kemudian dia meninggalkan deretan buku di lemari seperti tak menemukan apa yang dia butuhkan. Dia bergerak pindah ke satu tumpukan berkas di pojokan, tumpukan berkas yang dibuang sayang.
“Uphs! Maaf, Trots. Lupa aku kalau kunci lemarinya ada di celanaku, he he.”
“Sejak kapan kamu jadi pustakawan, hei?”
Deswah terdengar bersungut-sungut. Seperti bunyi gergaji tumpul menggesek besi.
“Pak, simpan saja kuncinya. Aku tidak melihat yang kita butuhkan di dalam lemari, he he.”
Deswah kepalanya miring seperti sedang memandang menara di Pisa agar tampak berdiri tegak. Tapi dia tersenyum, barangkali bertanya apa yang dicari Trots.
“Yihaaa! Aku menemukannya.” Trots bersorak dan mengangangkat setumpuk bahan bacaan yang dibutuhkan. “Kita akan begadang malam ini!”
Deswah menyerobot ke arah Trots. Memeriksa satu dua berkas di tangan Trots. Dan tiba-tiba seperti orang bingung.
“Trots, kita membutuhkan modul pendidikan gerakan lingkungan. Sekalipun modul untuk pemula, tapi bukan kumpulan resep obat tradisional, atau cara memasak, membuat kue atau masakan apa saja. Ini lagi, majalah fashion. Kita bukan hendak mengajar PKK, kan!” Penuh protes ketidaksetujuan.
“Tugasmu sekarang adalah menyiapkan KKBI dan Oxford Dictionary, Wah! Tentang ini nanti akan aku jelaskan di ruanganmu.”
“KKBI? Itu apa lagi? Tentang tata rambut?!”
“KKBI sama dengan Kitab, eh Kamus Besar Bahasa Indonesia.” Trots tersenyum. “Cari saja. Aku duluan ke ruangmu. Kulitnya coklat”
Setengah tak puas dengan penjelasan Trots tapi Deswah mencarinya juga. Tak lama kemudian dia datang menyusul Trots yang sedang membuka-buka bahan bacaan sambil bersilah.
“Cukup?” Tanya Deswah.
“Lebih.” Tukas Trots. Dia tak terlalu memedulikan gaya Deswah yang setengahnya bertanya mengejek.
Trots menjelaskan kepada rekannya tentang kegunaan beberapa referensi yang telah mereka pegang. Semua harus dimulai dari memahami secara tepat mengenai segala yang berkaitan dengan terminologi, istilah, frase, yang akan digunakan. Pemahaman mengenainya sangat berguna untuk meminimalisir kekeliruan penafsiran atas itu.
“Lalu buku pelajaran PKK-mu itu?” Deswah memajukan bibirnya tumpukan buku buku resep obat tradisional, guntingan artikel memasak, majalah-majalah fashion dan sekitarnya.
Trots memastikan niatnya memberitahu satu hal sederhana. “Aku beritahu kegunaannya sekarang…”
“Tunggu, apakah tidak lebih baik kita lakukan di dapur, saja. Trots, bisakah kamu lebih serius?! Kau pikir ini proyek main-main?!”
Trots menatap sahabatnya dengan tipis. Lalu mengambil rokok dan membakarnya.
“Barangkali, kamu tak butuh bantuanku.”
“Tai! Training ini, Trots, kurencanakan berlangsung tak lama setelah 22 April. Berarti hitungan sudah bukan bulan lagi. Mengertilah.”
“Baca ini, dulu… Jangan membantah lagi.” Trots menyodorkan selembar majalah lama yang baru disobeknya.
Deswah membaca keras-keras dengan geram. “Pisang Kepok Goreng Tepung Pedas.”
Trots tersenyum dan keluar ruangan. “Aku membuat kopi dulu.”
“Bahan; pisang kepok mengkal satu sisir, terigu dua ratus lima puluh gram, minyak sayur tiga ratus mililiter, air 100 cc… serbuk tai kucing kering secukupnya ….”
Dari dapur Trots mendengar karibnya dengan memegang perutnya. Dia menakar gula dan kopi sesuai selera mereka yang berbeda. Trots asal ada rasa gula saja, Deswah agak manis.
“Alat yang dibutuhkan adalah: satu kuali, irus alias sutil alias susuk besi… sudah cukup…?! Trots, apa bagian ini perlu detail? Bagaimana jika kumasukkan celana dalam juga…!”
Trots pura-pura tak mendengar. Lebih memilih duduk di dapur sambil mengisap-isap kretek menunggu air di panci tak bertutup mendidih. Kira-kira berkisar lima menit, Trots membawa kopi membesuk Deswah.
Deswah di kursi kayu menghadap cermin besar di salah satu dinding.
“Pisang dibelah menjadi dua bagian atau potong dengan ukuran sesuai selera masing-masing. Siapkan adonan tepung terigu, kocok dengan kuning telur, masukkan garam secukupnya… dahak, ingus bolehlah disertakan…”
Trots membiarkan kawannya. Dia menyobek satu artikel busana musim kampanye pemilu.
Sampai dengan, “Selesai!” Sorak Deswah.
“Sekarang, ini!”
“Kacus! Kampang! Pilat! Anjing! Apa kita tidak bisa diskusi seperti biasa saja. Kau koreksi draft modulku. Kau perbaiki kalau ada yang kurang. Minimal kita diskusikan beberapa pointer yang perlu ditambah atau dibuang.” Deswah meremas sobekan majalah itu. Lalu melemparkan ke kotak sampah. “Kamu sakit?”
Trots malah mengangkat pantat ke meja. Melipatkan kaki kirinya.
“Kau sudah paham cara memasak Pisang Kepok Goreng Tepung Pedas, ha?!”
“Kamu sudah telepon ke 108… menanyakan kabar ingatanmu?”
“Tentu akan lebih mudah melakukan transfer pemahaman melalui modul yang kita susun sesederhana mengajari orang memasak.” Kaki kanan trots terayun-ayun. “Pada draft modul yang sudah kamu susun, aku tidak melihat kekeringannya baik pada substansi, essensi, nilai-nilai, maupun kemampuanmu melakukan agitasi dan propaganda.”
“Lalu kau ajak aku main-main seperti ini…”
Trots tertawa. Tapi sebentar. “Begini, Pak! Belajarlah menulis dengan sederhana, pilihan bahan yang dipahami orang jamak. Ingat kelompok sasaranmu kali ini kalangan “pemula”, kita anggap dan sebut mereka sebagai pemula. Pemula dalam tanda petik. Aku hanya ingatkan itu, bahasa pamflet dalam aksi massa berbeda dengan bahasa modul training sekali ini. Pelajari bagaimana orang memasak bahan-bahan mentah sampai dari cara meletakkan potongan cabe mentah pun bisa menimbulkan selera. Pelajari cara memotong kain menjadi baju, atau membuat takaran obat dari akar dan daun… paham!”
“Ooo…”
“Barangkali akan lebih baik jika gaya tulismu masih bisa diperbaiki di modul itu. Ayo.”
Deswah beringsut menuju komputernya.”Aku suka gayamu, Naifis! Orisinal?”
Trots mengendikkan bahu. “Kepalamu yang orisinal! Belum dipakai!”
“Babi!”
“Omong-omong, aku boleh pinjam komputer depan sekaligus line telepon? Aku harus lihat adakah surat baru ke email address-ku.”
“Tumben pakai permisi… Ini milik kolektif, tentu kau boleh.”
“Babi, justru karena milik kolektif, kau pikir aku atau siapa bisa eksploitasi sekehendak hati, he?” Trots memberikan senyum kepada Deswah. “Kolorku di loker jangan dipakai! Itu milik privat, Pak!”
“Binatang!”
Trots permisi sebentar meninggalkan Deswah, menuju ruang depan. Dia memastikan bahwa dua puluh menit lagi dia akan membantu mengerjakan modul yang diperbaiki Deswah.
*
