Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 07-12-2009
Tags: Note: Tunggu Aku!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
26. Cangkir Kopi di Lorong Angin dan Ideologi
Salah satunya sangkuriang project, alasan Trots menolak mendapat upah dari lembaga yang pekerjaan mengkliping dia tangani. Kesibukan mengejar dead-line disepak dari kampus membuat ia tidak dapat melakukan apa-apa, koran-koran mulai bertumpuk sesak, tidak dipotong, ditempel, tidak dipilah dan tidak dibagi ke bidang-bidang kerja yang membutuhkannya. Tidak ada yang sempat membuat analisis media, membaca kecenderungan isyu global. Trots hanya sempat untuk membaca. Tapi teman-temannya di lembaga itu mengatakan, tetap ada hak yang harus dia dapat secara rutin.
Tidak ada keringat yang mesti diganti, itu alasan Trots, hingga tak ada alasan yang cukup filosofis untuk menerima. Darimana dia akan mendapat biaya bertahan hidup, Trots mau tak mau berpikir keras. Celengan. Berapa banyak dia punya uang di celengan? Tak banyak, hanya untuk satu bulan. Sementara tulisannya mulai tidak pernah dimuat di koran-koran.
Laki-laki itu mulai menyerah dan menghadap orangtuanya untuk mendapatkan bantuan keuangan lagi. Beberapa kawan yang bersahabat dan orang-orang baik, mulai membantunya satu demi satu. Itu membuat Trots cukup tenang, Tuhan tak akan membuatnya mati konyol.
“Tak pernah ada tikus mati kelaparan, katanya dalam hati. Asal tahu dimana Tuhan menyelipkan remah-remah.” Dia tulis kalimat itu di satu tembok.
“Aku lelah.” Trots berkata kepada Muda Siahaan satu sore di lorong angin, demikian mereka berdua menamai tempat kecil berpohon pinang itu. Tanahnya dipecahkan oleh kemarau, tapi angin riang betul menyelusup saban sore. “Letih untuk membuat ide memiliki kaki, kita selalu memaksanya sekalipun tidak gampang.”
“Dia sudah ngajak kawin…” Balas kawannya yang gelap dan keriting itu.
Trots memandangi sahabatnya. Berfikir keras menarik hubungan atas perkataannya dan balasan Muda Siahaan. Mereka menghadapi secangkir kopi masing-masing. Berempat, dua lagi Penyu dan Daves. Pada mata ketiga temannya terlihat biru menghitam yang melingkar penuh disekitarnya. Mata itu seperti melesak ke dalam. Dan mereka terlihat selalu tersenyum damai, beriring dengan tawa-tawa mencurigakan. Padanya juga muncul tarikan-tarikan untuk mengajak tertawa. Tapi Trots tak menemukan alasan untuk itu.
Penyu tertunduk, entah untuk apa. Rambutnya makin riap hari ini. Muda Siahaan meraba kumisnya yang kian penuh dengan terus memelintir rokok setengah batang yang sudah mati.
“Malam nanti,… malam nanti, dimana kita akan minum kopi? Cari gratisan terpaksa, aku tak punya uang lagi!” Trots menegur paha Penyu dengan menggunakan kaki.
“Begini!” Tukas Muda Siahaan. Matanya mulai membelalak. “Jawabannya, ideologi!” Dia seperti ingin meloncat saja.
“Ya, aku sepakat. Dimana kita bisa dapatkan empat bungkus ideologi malam ini?”
Trots melengak, ia sapukan telapak tangan ke muka. Kemudian menggaruki ujung hidung yang berjerawat satu, memikirkan ketidakberesan pembicaraan mereka. “Apa yang kalian minum.”
“Malam nanti?”
“APA YANG KALIAN MINUM SEKARANG?!!!” Trots terpaksa mengeluarkan suara seperti bunyi panglong kayu di belantara.
“Apa yang kau minum, Trots…”
Kopi. Tidak ada yang lain memang. Ada apa dengan empat gelas kopi dihadapan mereka? Sejak tadi malam mereka tidak pernah saling meninggalkan, kecuali ke kamar mandi. Tidak ada aroma alkohol dari mulut mereka.
“Trots, biar enak lain kali kopi dicampur dengan ini, nih…” Penyu mengeluarkan bungkusan aluminium foil kecil dari saku celananya yang langsung rampas Trots.
Seperti sesuatu jenis rempah. Diolah lanjut menjadi hampir bubuk tapi kasar. Canabis!
Trots menghela nafas. Kedua kawannya tergelak-gelak. Trots menggeleng-geleng dan menanyakan apakah mereka akan makan.
“Punya uang?!”
Trots tidak menjawab. Merogoh ponsel seraya mengatakan dengan sisa pulsa terakhir mudah-mudahan mereka menemukan jawaban.
“Ya… Aku, Siahaan, Daves, Penyu, disini sedang kelaparan. Apa kau masih meliput? Ehm, baik setengah jam, aduh, OK satu jam. Bawakan empat bungkus ideologi, ya. Tolong. Kami akan mengingatmu sepanjang yang kami mampu atas kemurahan hatimu, dik, ha ha. Hei… jangan tersanjung karena aku tidak sedang memuji. Kamu manis, deh.”
Seseorang yang dihubungi barangkali sedang berkejar-kejaran dengan sumber beritanya adalah orang baik dan secara rela hati mau berkawan dengan empat orang lapar itu. Mulai hari itu mereka menemukan makna hakiki dari sebuah kata ‘ideologi’; nasi.
*
