Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 29-11-2009
Tags: Note: Tunggu Aku!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
#21. No More Exploitation!!
Suatu pagi, ia lahir di bawah matahari yang bersinar lembut. Bayi pasangan mantan pedagang buah antar pulau itu dinamakan dengan Trotsminty oleh Bapaknya. Ibunya seperti tidak berwewenang untuk sekedar mengusulkan nama. Barangkali saja perempuan tua yang telah susah payah mengalirkan makanan lewat sirkuit-sirkuit di rahim yang lebih rumit dari barang elektonik itu telah merencanakan nama, atau paling tidak terlintas tentang nama calon bayinya. Bisa saja sebuah nama terilhami oleh cahaya matahari pagi, oleh kulit yang cerah, oleh rambut kemerahan lagi tipis, atau dari apa saja menyangkut rasa sakit, rasa senang, atau doa atau bunga atau oleh sekedar kepak seekor kupu-kupu.
Penamaan Trotsminty yang sering disapa singkat dengan bunyi “Trots”, hanya kebetulan. Bapaknya teringatkan satu permen rasa (pedas) mint yang populer pada satu masa. Bungkusnya kertas, dikuasai warna merah dan kuning seperti warna ang-pao, dengan gambar seorang kurus yang berkacamata model orang pemikir. Permen itu beberapa kali bapaknya terima dari seseorang kawan yang telah hilang, konon mungkin mati di Pulau Kemaro, mungkin terlempar di sungai Lematang, mungkin terbantai di Tebing Bantaian dekat kota Muara Enim.
Ya, cuma-gara-gara merk permen.
Dia lahir menjadi laki-laki kecil yang liar, disekolahkan ke Taman Kanak-Kanak untuk bisa berkata, “Aku tidak mau lagi ke sekolah!” katanya suatu pagi. Maka, merdekalah dia dari sekolah yang sejatinya adalah untuk membantu anak-anak melewati masa kanak-kanaknya. Bernyanyi, bermain atau lompat melompat, berkelahi, musuh-musuhan, berkawan-kawanan, berpegang tangan, menyusun batu atau balok, mengejar kupu-kupu, menyiram bunga, atau mengejar layang-layang putus.
Bukan untuk mengadu kepala dengan rumus menghitung, membaca, apalagi menjadi cerdas dengan indikator hapal nama menteri atau nama ibukota negara-negara. Di jamannya itu belum ada pembedaan antara Taman Kanak-Kanak, play-group, dan pre-school. Beberapa istilah yang membingungkan kepala. Berarti, Trots betul sewaktu tidak mau sekolah (TK), karena dia merasa belum waktunya.
Bermusim-musim kemudian, anak itu telah menjadi anak muda biasa. Hanya saja dia beruban lebih cepat dari kebanyakan orang. Rambutnya terlihat abu-abu berang-berang dari jarak agak jauh. Rambut itu dibiarkan saja agak gondrong, ada sebahu, mengalir dari kepala pada tubuhnya yang kurus. Mukanya dan bentuk tubuhnya mencirikan terlalu banyak merokok dan kurang teratur makan. Berkulit kering dan perih jika pori-posrinya di sapu dengan AC.
Tengah pukul dua siang yang bermatahari penuh, seperti kebiasaannya, dengan tanpa membuka sepatu dia masuk saja ke arah dalam rumah kayu setengah panggung itu. Mengenakan jaket jins robek cerai berai, buluk tapi bersih, kemeja warna hitam, dan celana jins biru pias.
Di ujung yang pojok terletak ruang kerja dengan cermin besar penuh coretan-coretan makian. Dia, Trotsminty, kerap panggil dengan Trots saja, langsung bergegas ke ruang kerja Deswah yang dinamainya dengan “Pojok Belakang”. Tempat itu adalah bagian dari kantor sebuah lembaga nirlaba dimana Trots bergabung sebagai relawan paruh waktu. Sudah relawan, paruh waktu lagi.
Di Pojok Belakang ia sering mengerjakan kesibukan dan kesukaannya selain di perpustakaan. Dia bekerja sebagai tukang kliping. Kesehariannya membaca koran, menandai berita-berita, artikel, features, opini isu-isu lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam, HAM yang dianggap perlu dikliping. Diluar itu, dia mengkliping segala yang dianggapnya menarik sebagai proyek pribadi.
Deswah, salah satu koordinator program melibatkan Trots pada bagian dokumentasi dan informasi. Pekerjaan mengkliping menyenangkan bagi Trots. Berani bertaruh! Kesenangannya itu menjadikan ia mengetahui issue maupun informasi terkini tentang ruang lingkup kerja lembaga paling lengkap. Kecuali kondisi basis pendampingan, tentu saja. Karena tak pernah terlibat turun ke lapangan.
Karena pekerjaannya itu, maka kadang Trots diminta menyunting makalah-makalah seminar jika lembaga itu diminta menjadi salah satu pembicara. Kadang sebelum ada wawancara dengan media, entah koran, entah radio, televisi sekalipun, Trots diajak memberikan masukan terlebih dahulu tentang materi dan issue yang diwacanakan nanti. Trots seperti “anak buah” yang sedikit dibutuhkan lebih. Ada beberapa kesempatan yang karena persoalan teknis seperti penanggungjawab issue tertentu sedang keluar daerah atau perkara non-teknis seperti wacana-wacana khusus tak dipahami pimpinan lembaga sekalipun, maka Trots diminta menjadi pembicara dalam forum tertentu dengan memasang label sebagai “pengkampanye” padanya.
Kantor itu masih seperti kemarin-kemarin juga, penuh bundel-bundel kliping yang tak pernah marah dijadikan bantal. Trots melongokkan kepala ke ruang “Pojok Belakang”. Hanya sesosok tubuh terkurung dalam kantung tidur hingga pangkal leher. Rambutnya gondrong dan berbau buruk lagi khas air liur; Deswah. Kerabatnya itu masih tertidur meringkuk dekat satu sudut ruang kerja. Langsung dibangunkannya, “Hei, Pemalas!”
Laki-laki di kantung tidur bergerak sedikit, setengah terjaga. Tak lama kemudian, sudah duduk seperti mengumpulan serpihan-serpihan nyawa yang berterabaran, mungkin beterbangan sebagian. Mengucek-ucek mata sebentar, lalu memaki-maki orang yang datang. ”Dasar Binatang!” Teriaknya. Lalu bergerak menuju kamar mandi tanpa lebih dulu merapikan kantung tidur.
Trots menyalakan salah satu komputer yang membelakangi poster sketsa wajah Tan Malaka, Peyo, Smurf berwarna hitam putih dalam satu pigura. Tak lama kemudian lagu-lagu menghentak dinding kayu. Dia berniat meng-copy semua file dokumennya dari hard-disc ke CD, lalu pergi. Tapi dia tak melakukan itu dengan segera, malah merapikan bundel-bundel kliping berita lingkungan dan pelanggaran HAM, menyalakan kretek, mencari-cari asbak, tapi kemudian melupakan apa yang dia cari. Abu rokok terbuang langsung ke lantai.
“Dari mana, Babi…?” Deswah telah selesai dari ritual di kamar mandi sehabis bangun.
“Sekolahan. Eh, tolong copy-kan semua file-ku, Boss”
Laki-laki yang masih sibuk menghanduki muka menerima CD kosong itu dan menyalakan komputer lain. “Semua file-mu sudah kupindah kesini,” Dia sembari menarik rokok dari saku Trots.
“Ooo….”
Hari agak memendung dengan cahaya yang meredup. Kantor kayu yang senyap, bahkan kadang tanpa suara serangga pada malam-malamnya. Hanya Deswah yang selalu tidur setelah azan subuh, dan di belakang suara dapur yang biasanya riuh hari ini tidak.
“Nih, selesai!”
Tanpa ucapan terima kasih, keping berisi semua dokumen tentang catatan dan benih-benih tulisan ditaruh ke dalam tas warna tanahnya. Setelahnya Trots mematikan komputer yang ia pakai. Tas tersentak ke bahunya.
“Mau kemana lagi? Aku sedang butuh bantuanmu.”
“Bantuan apa? Kenapa tidak ke badan amal saja. Aku punya alamat Dompet Dhuafa Republika, kotak amal beberapa media lain, kok”
“Came on, cuma sebuah modul untuk training lingkungan.”
“Aku banyak belajar dari kamu malah tentang itu. Dan kebetulan aku diundang baca puisi empatpuluh lima menit lagi, boss. Nanti malam kalau sempat mampir, aku bantu. Tinggalkan saja pesan. Okey?”
“Binatang!”
“Hua ha ha… tapi sepertinya aku harus mandi dulu.” Tas sekaligus lemari berjalan ia letakkan di meja. “Eh, tidak ada yang membuat kopi hari ini?”
Menurut Deswah, staff rumah tangga yang merangkap membantu Trots menggunting kliping koran, merangkap koki, merangkap teman bercanda tidak masuk kerja hari ini. “Tapi Kau bisa bikin sendiri. Eh, tidak, Kau mandi saja, aku akan racik dua gelas.”
Staff rumah tangga yang dengan senang hati membuatkan mereka kopi atau teh tidak datang, sebab tak punya uang untuk bayar ongos angkot karena sudah tiga bulan tidak menerima honor. “Trots, sepertinya dua hari lagi kita gajian. Ada dana program yang bisa kita switch.”
“Switch….? Switch child O’ mine ….? Ha ha. Kita tanpa aku, Hiks”
“Maksudmu?”
“Aku harus mengambil hakku untuk tidak menerima honor.”
“Pfffh..!”
“Aku tidak mengeluarkan keringat untuk kerja kita nyaris empat bulan ini, toh.”
“Tapi…”
“Sudahlah. Waktuku tinggal 35 menit lagi. Sepertinya akan lebih baik jika urusan mandi kulakukan sekarang.” Obrolan itu ditutup dengan suara turun dua laras.
Deswah melangkah keluar ruang kerja mereka, seperti akan menuju arah perpustakaan di badan rumah sebelah kiri dan belok jika dia berbelok ke arah kiri ada dapur di sana. Trots segera ke kamar mandi. Tinggal suara pintu kamar mandi yang berhadapan dengan ruang kerja bercermin sebahu.
Di kamar mandi… Di kamar mandi seseorang akan dengan mudah diketahui terkena penetrasi kapitalisme atau minimal keracunan iklan atau tidak. Trots mulai menelanjangi diri. berkaca di depan cermin besar dikamar mandi. “Yaaaaaaaaa! Aku bugil!”
Tangannya pelan membuka tas kecil tempat menyimpan peralatan mandi. Tas kecil tersebut sangat berguna bagi seorang yang dalam sehari tak akan mandi di tempat yang sama. Isi tas keluar satu persatu; pasta gigi dua merk, satu merk pasaran satu lagi seukuran jari kelingking dengan label sebuah hotel. Demikian juga dengan shampo. Sabun cair, sabun mandi yang belum dipakai dari sebuah hotel, dan satu sikat gigi. Tak ada sabun khusus pembersih muka, apalagi sabun sirih. Tak ada conditioner, tak ada obat kumur dan pewangi mulut, tak ada sabun untuk mencukur kumis atau rambut-rambut di wajah. Tak ada parfum atau macam-macam deodorant. Tak ada lotion untuk kulit, untuk wajah, apa lagi untuk melembutkan kapalan. Meski sekarang telah tersedia sabun khusus wajah, khusus badan, selangkangan, dan (jangan-jangan) setiap jengkal tubuh memiliki sabun khusus.
Hanya dengan sabun, odol dan shampo saja sudah demikian repot. Di kamar mandi sambil melagukan beberapa nyanyian, Trots teringat masa kecilnya mandi sekaligus keramas dengan sabun cuci saja. Cap Gajah! Sesekali berkeramas dengan getah lidah buaya, perasan daun mangkokan, atau arang dari tangkai padi. Sesekali pula memoles rambut dengan minyak kelapa yang masih segar.
Sementara, air terus menerus turun dari kran, ditangkap bak mandi, diambil gayung, disiramkan ke badan. Air terus dikuras dan bersuara. Trots menimpali dengan nyanyian.
Sehabis mandi, di meja kerja Deswah ada dua mug kopi. Trots mengambil satu darinya. “Binatang, kau terlalu banyak menyiramkan gula ke sini!”
“Yang satunya…”
“Uphs, thanks!”
Deswah sedang tenggelam di pekerjaan, memulai menyusun modul ketika Trots harus pergi sehabis setengah gelas kopi.
“Pinjamlah semangat para penambang mengejar urat emas ketika kau menulis!” Trots seperti berteriak dari pintu.
“Aku pejuang anti tambang! N O M O R E E X S P L O I T A T I O N !” Juga mirip teriakan. Datang dari dalam rumah.
*
