Mulanya Suka-Suka

2

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 30-11-2009

Tags:

Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN II: TROTSMINTY [Jatah SyamAR]
#22. Mulanya Suka-Suka

Sesekali Trotsminty memang menulis satu dua puisi dan kadangkala cerita pendek. Namun lebih banyak membuat komik. Cerita-ceritanya cerita sangat biasa. Bisa tentang sungai yang berubah warna, tentang langit yang berubah aroma, tentang hutan hujan yang menjelma ilalang, petani kemudian kehilangan kebun kemudian menjadi tukang becak, kuli angkut, penodong, pemabuk atau apa saja, tentang insinyur pertanian yang menipu petani, tentang apa saja.

Sesekali dia diundang baca puisi, seperti sore itu. Tadinya dia menulis saja, tapi teman-temannya mengatakan dia tak boleh hanya menulis, juga harus membacakan puisinya.

“Oo, ada kesemestian itu rupanya,” Belum pernah terpikirkan oleh Trots sebelumnya.

“Sepertinya kamu seorang penggiat organisasi non pemerintah?” tulis seseorang di alamat surat elektronik Trots.

Trots tak begitu peduli. Jangan terlalu percaya bahwa suatu cerita berasal dari latar belakang penulis, dia menulis tujuh kata sebagai jawaban atas surat kepada seseorang itu, “Karl May bukan seorang koboi atau Indian.”

Tapi Tetewewe; begitulah user name yang tertulis –-orang lain yang juga mengirimi email kepada Trots, “Terus saja menulis karena kamu memahami apa yang kamu tulis.”

Trots tetap tidak peduli. Sore ini dia datang ke acara pembacaan puisi dengan tanpa ingin membacakan satupun. Dia hanya ingin datang dan menyaksikan ekspresi kawan-kawannya dalam (komunitas) Mulanya Suka-Suka yang memiliki singkatan sebagaimana kebiasaan Indonesia berlembaga. Mulanya mereka memang suka-suka, lalu kemudian melakukan semua pekerjaan kesenian itu sebersemangat para pemulung. Memunguti sisa apa saja menjadikan berbentuk-bentuk guna.

Sesekali di jalan dalam karnaval aksi solidaritas atas kasus atas issue atas kondisi tertentu, seseorang demi seseorang sesekali demi sesekali berkomentar, ”Kamu berbakat jadi seniman, Trots. Padamu, itu lebih kuat dari pada menjadi aktivis.” Jembatan Ampera diarah belakang siang itu.

Walah! Dikotomi lagi. Trots memilih tak peduli. Setiap orang adalah seniman, kata seseorang di masa lalu. Dan setiap tempat adalah panggung. Bagaimana dengan altar-altar peibadatan? Setiap orang juga aktivis. Tajab aktif membuat spanduk, Vitro aktif bermain gitar, Randu aktif menulis puisi dan iklan televisi, koruptor aktif mencuri uang negara, Capung aktif mengebor minyak, Jajang aktif mengajarkan anak-anak bermain tanah liat, Nurdin dan Konang aktif menangkap ikan di Pulau Kemaro, emaknya aktif menyadap karet… Trots kamu aktif melakukan apa? Aktif berkhayal…?

Di acara pembacaan puisi sore yang lumayan ramai, kawan-kawan Trots semuanya sedang aktif berkesenian. Penuh ekspresi, keterlibatan, cengkarama, dan asap rokok.

Lalu rembang petang, acara baca puisi usai. Sebagian besar tidak langsung pulang melainkan membangun diskusi-diskusi “swasta” tentang apa saja. Bisa jadi tentang puisi dan pembaca puisi, bisa jadi tentang proyek-proyek budaya dan event-event kesenian berikutnya. Mereka bertebaran di lantai dalam lingkar kecil-kecil, sebagian mengambil tempat di teras lantai dua sekretariat Mulanya Suka Suka yang menumpang di sekretariat lembaga advokasi perempuan.

Trots sendiri memilih langsung menuju pulang. Sendiri menikmati sore kota yang disebut Venesia Timur yang dengan bangga mengatakan (pernah) ada 108 sungai di dalamnya. Nyatanya, memang semakin mirip Venesia; lebih-lebih saat banjir. Trots melangkah santai, daun-daun berwarna magenta gugur satu-satu karena angin beraroma sisa kemarau. Orang-orang dengan pakaian olahraga berlari kecil memutari telaga depan sebuah hotel. Anak-anak muda memacu gas sepeda motor, mobil-mobil berdecit berebut saling meninggalkan. Dan para pemancing tetap duduk dengan tenang setenang perempuan-perempuan disandar bahu kekasih mereka masing-masing.

Trots melangkah lagi. Hampir tiga bulan hidup memaksanya untuk berkontemplasi. Pekerjaan begitu menumpuk, terutama bagi seseorang pengincar kerja di tenggat akhir, last minutes person, jika tak ingin disebut sebagai penunda pekerjaan. Tiga bulan lagi dia harus tamat dari kampusnya, dengan atau tanpa ijasah.

Dengan demikian sebetulnya akan lebih baik dia menunda proses kontemplasi. Tapi renungan demi renungan, pemikiran demi pemikiran, rencana demi rencana, keinginan demi keinginan, kekesalan dan kesesalan tidak bisa dibendung seperti orang melakukan diet terhadap jenis makanan tertentu.

Trots kadang menyesal tepatnya bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa dia tidak diciptakan saja sebagai penjawab teka-teki silang, agar dapat berkonsentrasi dan tak begitu peduli dengan sesuatu di luar kotak-kotak pada lembaran kertas di depan mata.

“Trots, sudahlah santai saja. Kadang hidup terasa tak lebih dari terjebak dalam kenakalan Tuhan, he he.” Seseorang pernah menyuratinya demikian ke alamat e-mailnya.

“Hua ha ha, Pidato yang bagus,” Demikian jawab Trots. “Kejahilan Tuhan pada mesin simulasi sejarahnya.”

Gerimis mulai turun pecah-pecah. Trots tetap tak mengubah irama langkahnya. Hanya dengan mengenakan jaket yang semula digantung saja pada tas, menyulut sebatang kretek, dan menganggap air langit yang malu-malu itu tiada.

Sepenggal sore dan seorang Trots berjalan di menitinya. Lampu jalan kedinginan dan mulai menyala lemah. ***

Comments (2)

kasihan si Troth, dijahili Tuhan.

kasihan si Troth, dijahili Tuhan. tapi tenag saja troth, teman di email mu itu yg jahil. tapi itu juga, kalau bisa dipastikan yg mengirim email itu bukan tuhan atas nama temanmu itu. :) )))

Write a comment