Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 17-09-2009
Tags: Note: Tunggu Aku!
NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#13. Laut, Langit dan Aku!
Mimosa Autissia di dadanya pancaroba. Aku nggak lagi remaja! Katanya. Ditelusuri diari-diari ia sudah tak merasa seperti itu lagi. Hei! Rasanya aneh menjadi dewasa. Hiks. Apakah artinya berakhir masa ceria? Nggak juga. Semua tergantung kita.
Kemarin ia sudah membahas masalahnya bersama Adi. Mereka sudah dewasa dan harus melangkah. Kau sahabatku, Mimosa! Well… nggak apa-apa. Meski sudah mencari jawaban dan berharap sekian lama dan menghabiskan masa remajanya yang seharusnya banyak mengkoleksi cerita cinta. Ha ha! Satu hal, jangan temui aku sampai lebaran! Di hitung kebelakang ternyata vonis Mimosa berlaku untuk enam bulan. Lumayan, untuk masa penyembuhan. Aku merasa sakit. Itu saja. Boleh, kan?
Mimosa berenang. Merenungi akuarium dan ikan. Laut. Sesungguhnya ia membutuhkan laut. Setelah menyelesaikan Adi ia baru belajar mengenal lelaki. Banyak. Semuanya adalah kawan. Dulu juga kawan. Tapi kawan-kawan yang tak pernah dipertimbangkan. Delapan tahun satu lelaki? Tujuh atau delapan tahun atau lebih? Demikian lama! Mimosa sampai lupa hitungannya.
“Kau sahabatku, Mimosa! Sulit mencari satu yang sepertimu”
“Kenapa tak kau katakan saja kalau perasaanmu tak terbentuk seperti itu?”
“Karena…”
Percakapan yang tak pernah selesai! Platonis? Aku benci itu. Mimosa menangis. Mengamuk di dunianya sendiri yang autis. Nggak ada yang mengerti! Nggak ada yang mengerti!
Memangnya kenapa kalau sahabat? Kenapa kita tak pernah menyediakan sebuah ruang untuk tumbuhnya sebuah perasaan yang baru. Kenapa?
Tapi ini sama sekali nggak baru. Ini delapan atau tujuh tahun sudah membeku. Bodohnya aku! Bodohnya aku! Demikian Mimosa tersedu…
Boleh kan aku merasa luka?
Tak ada yang melarangmu, Mimosa! Nggak ada. Memang butuh waktu untuk mengerti ini semua.
Laut.
Aku butuh laut!
*
