Hore!!! M E R D E K A!!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 13-09-2009

Tags:

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign

# 09. Hore!!! M E R D E K A!!

WAW! Kamu norak!

Wa ha ha! Iya, ya? Mimosa tertawa. Sebenarnya ia ingin tertawa keras-keras. Sedih itu ternyata sebentar saja. Gila loe apa? Emang enak punya status veteran? I t u s t a t u s y a n g t i d a k t e r h o r m a t! Ehm… Begini, barangkali ya. Tapi sebenarnya itu bisa ya bisa nggak.

Itu pembenaran, Mimosa!

He he… Iya juga, sih. Tapi coba kau bayangkan hari-hariku sebelum ini.

: Aku adalah pelacur nilai. Boleh dibilang dari sebanyak itu mata kuliah yang aku ikuti, aku hanya benar-benar datang dengan ikhlas untuk satu dua mata kuliah dan itu _parahnya_ bukan Bahasa Cina yang sebenarnya studi utamaku. Gawat, kan? Kenapa jadi begitu? Hey! Siapa yang suka datang hanya untuk dimaki-maki? Siapa yang mau menjadi baik cuma untuk sebuah nilai belaka. Demi cita-cita orang banyak untuk menjadi orang kaya kelak? BWAHAHAH!!! Dosen-dosen itu mirip berhala. Mereka suka disembah tanpa harus berbuat apa-apa kalau bisa. Dosen memang mengajarkan kita sesuatu. Itu betul dan indah kalau mereka memang sungguh berjiwa begitu. Persamaannya dengan berhala? Berhala bisa menghiasi ruangan kita, toh? He he he.

Apa kau kira enak melacur sejak pagi? Kadang-kadang aku menunggu mereka berjam-jam demi sebuah kata favorit dunia pendidikan: U n t u k m e n e r i m a b i m b i n g a n. Emang enak? Satu dua jam yang seharusnya bisa kau gunakan untuk menikmati tepian hutan harus kau relakan untuk menerima satu dua celaan dari dosen yang baru akan datang sekitar dua jam kemudian dari perjanjian. Bersumpahlah aku kalau sudah jadi guru tak akan begitu! Kau juga! Seandainya kau pernah memiliki cita-cita yang sama dengan aku.

Aku, Mimosa yang Autis Tea, tersiksa mendengar orang mendiskusikan kehidupan orang banyak di ruangan terbuka kampus, tepatnya di sekitar ruangan kuliahku. Amit-amit. Aku hanya bisa mendengarkan mereka tanpa bisa berbuat sesuatu. Kupikir, sebelum masa veteran yang seharusnya duka ini, aku adalah Mahasiswa jamuran yang nyaris tak ada gunanya untuk orang banyak. Egois. Kuliah dan kuliah dan kuliah demi sesuatu yang katanya masa depan.

Tau gak?

Paling tersiksa kalau kudengar suara kawan-kawan yang sedang ngelenong* tanpa aku. Alasannya sederhana. Main lenong itu adalah salah satu cara menjadi bahagia dan membahagiakan orang lain dalam saat yang bersamaan. Lagipula lenong di kampus berbentuk lenong pendidikan. Kau bisa belajar banyak dari sana. Sungguh bermanfaat, bukan?

Nggak cuma sekedar mendengarkan caci maki seperti ini!

(Tapi sekali lagi aku bukan nggak suka pada bahasanya. Tapi tata nilai para pengajarnya yang membuat aku mau muntah!)

Kembali ke cerita semula…

Begitulah. Menyenangkan menjadi merdeka. Kali ini aku betul-betul lebih banyak kuliah pagi atau malam sekalian. Kadang-kadang kuliah terakhir adalah pukul 18:30 malam. Kau bayangkan bila itu dua SKS maka jam berapa aku akan pulang. Tapi tahukah kau, ini adalah masa paling membahagiakan selama periode perkuliahanku DISINI! SAAT INI! Aku merasakan jadi mahasiswa. Dihargai hasil pemikirannya oleh pengajar-pengajar non Bahasa Cina. Menyenangkan sekali.

Aku membuat kampanye iklan. Merakit ini dan itu lalu mempresentasikanya. Sebagai pelacur sejati aku mendapatkan pendapaan yang besar saat ini, kalau mau dihitung. Aku mandi nilai A dan B. Kalau kau mau, ambil saja! Ha ha! Aku ikut demonstrasi kecil di wilayah kampus. Hanya di kampus. Yang kecil saja!. Rupanya aku masih takut luka dan masih tak bisa memutuskan hendak mempercayai siapa. Tapi aku menikmati gemuruh itu dalam dada. Sekali dalam hidupku aku menangis demi sebuah lagu Indonesia Raya yang aku hampir pernah lupa maknanya. Lalu tangan kawan-kawan yang saling bergandengan…tukang-tukang intel yang menjual gorengan. Bakwan intel, kata kawan-kawan, itu enak. Murah meriah dan bisa sambil untuk menggali informasi. Wa ha ha. Sumpah sampai hari ini aku tak tahu itu benar atau nggak. Mimosa ini sungguh autis dalam masalah politik yang demikian. Jadi kalau kata kawan-kawan harus hati-hati ya nurut sajalah. Mereka toh yang lebih mengerti.

Nah, yang paling menyenangkan adalah saat-saat jadi artis. Sebagai orang yang nggak naik kelas karena dimusuhi dosen (ini pembelaan diri atas nilainya yang memang ada juga yang… he he…) Mimosa punya banyak waktu untuk berekspresi. Panggung! Mimosa panas panggung!
*

Write a comment