NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#07. Saatnya Menjadi Liar! Liar Itu Baik Dan Benar!*
Gonjreeeeeng!!
Anak-anak disitu gondrong semi dekil atau dekil sama sekali. Wah. Seniman, ya? Ya. Kenapa sih harus dekil? Hush. Jangan tanya, Mimosa. Nggak ada pertanyaan lain yang lebih bermutu? “Ehm, seniman itu katanya selain jorok juga gampang kawin cerai, ya?”
Glepok!
Nggak usah ngomong kalau nggak tahu apa yang bisa kamu omongkan.
“Abang, ini teater ya? Boleh ikutan, gak?” Mimosa menawarkan diri. Dasar nggak tahu malu!
“Anak baru, ya?”
“Iya” … Emangnya kenapa kalo anak baru?” Batin Mimosa kesal.
“Wah, memang sedang dicari pemain baru! Ayo! Duduk saja disini sekalian ikut latihan!”
Jdug!
Makanya, Mimosa… lain kali jangan segera berburuk sangka.
Masalahnya di dunia brengsek bernama kampus ini aku terbiasa dengan julukan senior-non-senior. Yang non-senior disebut junior dan posisinya semi-babu buat seniornya. Dan itu menyebalkan. Maka aku jadi sensitif kalau ditanya soal angkatan. Memangnya kenapa kalau anak baru? Ada masalah?
“Anak baru itu Masya Allah… bukan masalah! Ha ha ha.” Ups… Pelecehan. Aku mendengar pelecehan dari bibirnya. Seorang laki-laki.
“Sering-sering itu bukan pelecehan, Mimosa! Itu penghargaan laki-laki pada mahluk yang namanya perempuan”
Oya? Penghargaan? Dengan cara apa?
“Menghargai perempuan karena keindahannya”
Masa, sih?
“Keindahan itu relatif. Ya, cantik itu relatif… tapi jelek itu absolut!”
GLEPOK!!!
Sekali pelecehan tetap pelecehan! Tapi Mimosa dapat tertawa gembira. Disini ia menemukan kawan-kawan barunya.
*

Peran pertama bagi Mimosa adalah menjadi Mbok Jamu. Ssst, jangan keras-keras… Susah payah Mimosa menghindari lirikan Gan Gan sutradaranya. Gara-garanya adalah Mimosa yang terlalu serius memikirkan kostum tukang jamunya. Harus seksi. Dan akhirnya justru terlalu seksi. Ugh! Mohon maaf. Ini buat penontonku bukan buatmu! Adegan tukang jamu sebagai migran yang mengais uang di ibu kota sukses juga. Seorang kawan bernama Nunu mengajarkannya cara membuka dan menaikkan bakul dari punggungnya. “Keluargaku petani cengkeh. Kami biasa melakukannya.” Percakapan itu, caranya mengajari aku, benar-benar tak pernah bisa kulupakan sejak saat itu. Mimosa Autissia bahagia menggendong bakul pertamanya. Norak, ya? Gak juga. Nunu ganteng, sih. Ha ha! DHUAR!!
*
Ini adalah bagian dari kehidupan panggung, kau akhirnya bisa dijatuhi cinta entah siapa dan kau sendiri sebenarnya jatuh cinta kepada siapa? Adalah seorang kawan yang mengatakan “Yuk” dan kau jawab dengan “Nggak, ah!” demikian berkali-kali. Di dunia panggung kau sulit menandai mana cinta mana keinginan berdekatan sesaat belaka. Bayangkan, berhari-hari kita bersama selama berjam-jam dan saling demikian memperhatikan. Sementara kau cuma seorang manusia. Catat, itu. Jangan pernah lupa kalau kau cuma seorang manusia. Tapi yang membedakan antara kita dan kera kan hanya isi kepalanya? Kalau dibiarkan manusia itu binatang. Aku melihat beberapa ekor contohnya disini. Dan aku tak mau menjadi binatang.
Tapi aku jatuh cinta, kata Mimosa.
Moey, gitar klasik di tangannya. Romance. Aku bukan penari, tapi aku pendengar musik yang baik. Tapi Cika adalah penari.
DZING!!
Cika berputar, meliuk. Ia pernah menjadi balerina. Tentu saja dia bisa. Cika bukan bagian dari sandiwara. Tapi ia bagian dari Moey. Mimosa benci itu. Tapi Cika bukan musuh Mimosa.
“Mimosa, antarkan aku ke kamar mandi.”
“OK.”
“Habis itu ke kantin.”
“Boleh.”
“Kita cerita-cerita?”
“Hm? Ya…”
Cika baik. Bagaimana membencinya? Mimosa tersenyum. Cika tertawa. Moey melambai dari kejauhan. Gleg. Sialan. Gusni, aku kena kutukan…jatuh cinta pada pacar orang. Ha ha!
Hiks.
“Mimosa, Mimosa…kenapa kau diam saja? Kau sedang jatuh cinta, ya? Cerita, doong…sama siapa?”
Cika! Ada pertanyaan lain nggak, sih?
Airmata. Mimosa cuma punya airmata. Mati-matian Cika minta maaf karena merasa telah berbuat salah. Tapi aku salah apa? Bathin Cika pasti begitu. Memang bukan salahmu, Cika! Kau tenang saja. Ini cuma permainan orang dewasa. Korban situasi. Masa aku mau menjawabmu kalau aku suka Moey pacarmu itu?
Kaing!
Begitulah suara anjing yang menangis sedih. Aku nggak bersuara. I’m happy for you, Cika! Tapi tolong jangan tanya aku apa-apa!
*