Ubud Writers & Readers Festival 2009

2

Posted by Syam | Posted in Event | Posted on 19-09-2009

Tags:

Hello Folks,

If you have an interest in spending a day or two enjoying great food, inspired conversations and powerful storytelling situated in one of the most enchanting locations in Indonesia, then there is an event coming up that I think you will enjoy.

With a commitment to taking its guests beyond Bali’s glossy holiday scene, the Ubud Writers & Readers Festival will run from October 7-11, 2009. This not-to-be-missed local experience promises an intimate, illuminating (and sometimes controversial) journey that allows the true heart and soul of Bali to unfold.

From glamorous cocktail parties and street parades to literary lunches and poetry readings, some of the finest resorts and restaurants in Ubud are posed to demonstrate their hospitality in hosting this world class event.

As [I/organisation] have a relationship with the promoters of the festival, [I/WE] am able to offer you (and anyone you choose to forward this email to) discounted tickets by simply clicking the link below.

For more information (and your discounted tickets!) simply click the link below >
http://www.ticket-tribe.com/unlock/syamsul-a001

Regards,

Syamsul Asinar

Laut!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 18-09-2009

Tags:

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#14. Laut!

Wush…

Malam, angin dan bintang. Nggak ada alasan untuk menjadi nggak riang. Bunyi gitar. Lagu-lagu. Kawan-kawan. Kenapa harus muram?

Tapi…

Hush!

Gak ada tapi-tapi. Hidup harus berlanjut. Pasti ada maksudnya kalau Tuhan tak membuatmu bersama dia.

Kalau tak bersama dia lalu bersama siapa?

Bwahaha!

senja-di-pelabuhan-kecilEmang cuma satu lelaki di dunia?

Bukan begitu…

Kau tahu maksudku, kan?

Ya!

Wush!

Malam, angin dan bintang! Nggak ada alasan untuk nggak menjadi riang. Mimosa bernyanyi juga. Menari menggoyangkan pinggulnya. Tapi di sudut sana ada air matanya. Ugh! Menyebalkan!

Menyebalkan?

Siapa bilang? Itu natural, setiap orang yang kena sakit cinta pasti demikian.

Masa?

Iya!

Wah

CINTA MENYEBALKAN!

Nggak juga!

Buktinya?

Nah, lho!

Nggak tau, ya…

Tapi rasanya ada yang hilang dalam dada. Sesuatu yang harusnya diletakkan disitu. Sepotong puzzle . Tahu, kan? Teka-teki gambar yang sering disusun anak TK. Kalau hilang satu saja, jadi menyedihkan wajah gambarnya.

Aku harus menemukan puzzle ku!
*

Laut, Langit dan Aku!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 17-09-2009

Tags:

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign

#13. Laut, Langit dan Aku!

Mimosa Autissia di dadanya pancaroba. Aku nggak lagi remaja! Katanya. Ditelusuri diari-diari ia sudah tak merasa seperti itu lagi. Hei! Rasanya aneh menjadi dewasa. Hiks. Apakah artinya berakhir masa ceria? Nggak juga. Semua tergantung kita.

Kemarin ia sudah membahas masalahnya bersama Adi. Mereka sudah dewasa dan harus melangkah. Kau sahabatku, Mimosa! Well… nggak apa-apa. Meski sudah mencari jawaban dan berharap sekian lama dan menghabiskan masa remajanya yang seharusnya banyak mengkoleksi cerita cinta. Ha ha! Satu hal, jangan temui aku sampai lebaran! Di hitung kebelakang ternyata vonis Mimosa berlaku untuk enam bulan. Lumayan, untuk masa penyembuhan. Aku merasa sakit. Itu saja. Boleh, kan?

BuRuLi-dan-LautMimosa berenang. Merenungi akuarium dan ikan. Laut. Sesungguhnya ia membutuhkan laut. Setelah menyelesaikan Adi ia baru belajar mengenal lelaki. Banyak. Semuanya adalah kawan. Dulu juga kawan. Tapi kawan-kawan yang tak pernah dipertimbangkan. Delapan tahun satu lelaki? Tujuh atau delapan tahun atau lebih? Demikian lama! Mimosa sampai lupa hitungannya.

“Kau sahabatku, Mimosa! Sulit mencari satu yang sepertimu”

“Kenapa tak kau katakan saja kalau perasaanmu tak terbentuk seperti itu?”

“Karena…”

Percakapan yang tak pernah selesai! Platonis? Aku benci itu. Mimosa menangis. Mengamuk di dunianya sendiri yang autis. Nggak ada yang mengerti! Nggak ada yang mengerti!

BuRuLi-dan-Laut2Memangnya kenapa kalau sahabat? Kenapa kita tak pernah menyediakan sebuah ruang untuk tumbuhnya sebuah perasaan yang baru. Kenapa?

Tapi ini sama sekali nggak baru. Ini delapan atau tujuh tahun sudah membeku. Bodohnya aku! Bodohnya aku! Demikian Mimosa tersedu…

Boleh kan aku merasa luka?

Tak ada yang melarangmu, Mimosa! Nggak ada. Memang butuh waktu untuk mengerti ini semua.

Laut.

Aku butuh laut!
*

Aku Nggak Mau Di Sini Lagi!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 16-09-2009

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#12. Aku Nggak Mau Di Sini Lagi!!!

Pokoknya aku nggak mau di sini lagi!

Kenapa nggak?

Karena aku nggak bahagia. Alih-alih kuliah riang gembira malah jadi bermuram durja. Hidup menjadi demikian nggak sehat. Konsep diriku mulai negatif. Aku jadi nggak produktif. Kenapa harus dipertahankan? Ini bukan tempatku.

Sayang sekali… tapi kau sudah naik kelas!

Lalu kenapa? Jaminan apa yang membuat aku merasa baik-baik saja kalau sudah naik kelas akhirnya? Nggak ada! Naik kelas disini nggak merubah sesuatu buat aku. Ini bukan rumahku. Itu saja!

Kau mau kemana, Nak?

Pergi. Mengembara. Main musik atau apa saja! Disini aku nggak merdeka. Itu membuat aku demikian tersiksa. Kau mengerti kan, bu?

JDIG!

Seandainya kau dosen kau bisa apa? Mimosa dengan bulat sudah menarik diri dari pengaruh kekuasaannya. Mimosa nggak lagi di wilayah hukumnya. Kecuali rela atau pura-pura rela dengan perasaan terhina, nggak ada cara lain lagi, bukan?

Kenapa harus menangis sih, Mimosa?

GILA APA? Aku kan bukan tembok!* Kau kira aku ini apa? Selayaknya rumah, jurusan ini berhantu. Aku suka rumahnya tapi tak ingin tinggal disitu. Lagi pula memangnya menangis itu dosa?

Bukan begitu…tapi bagaimana dengan rasa bencimu?
Bwahahahah!

Sekali lagi aku nggak pergi dengan perasaan benci. Emang apaan? Ha ha! Hei, bu! Sekali ini kuberitahu, kau masih akan bertemu aku di panggung-panggung kampus itu!
*

Saatnya Bepikir, Mimosa! Maumu Apa

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 15-09-2009

Tags:

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign

#11. Saatnya Bepikir, Mimosa! Maumu Apa?

Pff…

Hari merdeka itu sudah hampir berakhir. Semester selanjutnya harus kau tempuh. Saatnya mengulang pelajaran yng kemarin tertinggal. Tapi masalahnya nggak sesederhana itu.

Aku nggak bahagia disini!

Lalu kau mau apa, Mimosa?

Ya. Mau apa, ya? Well, kemarin sempat belajar advertising. Apa aku menekuni bidang itu saja?

Yakin…?

Nggak tau juga.

Sebenarnya aku kan mau jadi guru TK. Itu saja!

Kau nggak ingin kaya?

Hah? Aku nggak ngerti batasan kaya itu apa. Tapi memang aku nggak ingin merepotkan orang lain. Nggak bercita-cita jadi tukang catut. Nggak mau dituduh benalu. Itu artinya harus kaya, ya? O..

Memang jadi guru TK nggak bisa kaya?

Gdubrak!!

Nok! Nok! Mimosa, kau punya otak nggak, sih?

Runyam. Kenapa hati dan kepala tak pernah bisa sejalan? Jarang banget mereka mau kompak. Seperti kalau kita sedang naksir-naksiran, kalau dia mau kita yang nggak. Demikian sebaliknya! Susah amat, sih?

Tapi Mimosa sangat nggak bahagia saat ini.

Nggak bisa disini!

Nyet, boleh numpang gelayutan di dahanmu itu, nggak?

Mimosa merana!
*

Narsis, Yuk!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 14-09-2009

Tags:

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#10. Narsis, Yuk!

Uhuy!!

It’s time to love your self so much! O, dear my self…You drive me crazy! Anjiiiing!! Mimosa bahagia banget. Sangat bahagia sampai nyaris keterlaluan. Guk guk guk. Ha ha! God, kuasai dirimu sedikit, Mimosa!

Well, gimana gak bahagia. Sekarang hari-hari jadi milikku. Aku yang punya waktu! Aku yang atur! Aku nikmati semauku! Ow, sedapnya!

Panggung, panggung dan panggung.

Tap! Tap! Tap!

BuRuLi PentasMimosa ikut audisi. Ia telah memilih peran pelacur untuk audisinya, tapi malahan dipilih jadi ibu. Hah, gak salah? Tentu nggak. Pelacur segendut itu gak akan laku! Gak akan ada! Ha ha..tapi siapa bilang? Bukankah itu cuma soal selera?

Gubraks!

Ya sudah. Dia jadi ibu. Jadi apa sajalah… yang penting ia bisa main dengan mereka semua. Uh, panggung! Mimosa panas panggung. Mencari karakter sampai memaki diri sendiri. Bodoh kau, Mimosa! Mana karakter ibu yang dibutuhkan?

Mimosa nungging ngeden di kamar kos seorang kawannya. Nyonya Sun!* Kau harus menjadi Nyonya Sun! Kau bukan Mimosa saat ini sayaaangg!!! Iya, sih. Tapi kok susah banget, ya? Uaaa!!

Nyut…nyut…nyut.

Kepala Mimosa berdenyut pusing menyebalkan sekaligus menyenangkan. Dzing! Ia membawa naskahnya kemana-mana. Ada rasa sakit yang membuat ingin. Apakah ini seperti…GLEPOK!! Stop Mimosa. Belum saatnya. Maksudnya belum saatnya berkhayal, pahami dulu naskahnya.

Ya ampun, Mimosa…

Itu kaca, bukan laki-laki! Ya! Tapi aku butuh lawan bicara. Tapi peranmu ibu dan bukan kekasih. Ya, memangnya seorang ibu nggak bisa menyayangi?

Goblokkk… Mimosa kamu lambat, deh! Bukan begitu tapi aktingnya.

O.. bukan, ya?

Kalau bukan lalu bagaimana?

Ah, Mimosa!

Ada kerusuhan nikmat di dalam kepalanya!
*

Hore!!! M E R D E K A!!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 13-09-2009

Tags:

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign

# 09. Hore!!! M E R D E K A!!

WAW! Kamu norak!

Wa ha ha! Iya, ya? Mimosa tertawa. Sebenarnya ia ingin tertawa keras-keras. Sedih itu ternyata sebentar saja. Gila loe apa? Emang enak punya status veteran? I t u s t a t u s y a n g t i d a k t e r h o r m a t! Ehm… Begini, barangkali ya. Tapi sebenarnya itu bisa ya bisa nggak.

Itu pembenaran, Mimosa!

He he… Iya juga, sih. Tapi coba kau bayangkan hari-hariku sebelum ini.

: Aku adalah pelacur nilai. Boleh dibilang dari sebanyak itu mata kuliah yang aku ikuti, aku hanya benar-benar datang dengan ikhlas untuk satu dua mata kuliah dan itu _parahnya_ bukan Bahasa Cina yang sebenarnya studi utamaku. Gawat, kan? Kenapa jadi begitu? Hey! Siapa yang suka datang hanya untuk dimaki-maki? Siapa yang mau menjadi baik cuma untuk sebuah nilai belaka. Demi cita-cita orang banyak untuk menjadi orang kaya kelak? BWAHAHAH!!! Dosen-dosen itu mirip berhala. Mereka suka disembah tanpa harus berbuat apa-apa kalau bisa. Dosen memang mengajarkan kita sesuatu. Itu betul dan indah kalau mereka memang sungguh berjiwa begitu. Persamaannya dengan berhala? Berhala bisa menghiasi ruangan kita, toh? He he he.

Apa kau kira enak melacur sejak pagi? Kadang-kadang aku menunggu mereka berjam-jam demi sebuah kata favorit dunia pendidikan: U n t u k m e n e r i m a b i m b i n g a n. Emang enak? Satu dua jam yang seharusnya bisa kau gunakan untuk menikmati tepian hutan harus kau relakan untuk menerima satu dua celaan dari dosen yang baru akan datang sekitar dua jam kemudian dari perjanjian. Bersumpahlah aku kalau sudah jadi guru tak akan begitu! Kau juga! Seandainya kau pernah memiliki cita-cita yang sama dengan aku.

Aku, Mimosa yang Autis Tea, tersiksa mendengar orang mendiskusikan kehidupan orang banyak di ruangan terbuka kampus, tepatnya di sekitar ruangan kuliahku. Amit-amit. Aku hanya bisa mendengarkan mereka tanpa bisa berbuat sesuatu. Kupikir, sebelum masa veteran yang seharusnya duka ini, aku adalah Mahasiswa jamuran yang nyaris tak ada gunanya untuk orang banyak. Egois. Kuliah dan kuliah dan kuliah demi sesuatu yang katanya masa depan.

Tau gak?

Paling tersiksa kalau kudengar suara kawan-kawan yang sedang ngelenong* tanpa aku. Alasannya sederhana. Main lenong itu adalah salah satu cara menjadi bahagia dan membahagiakan orang lain dalam saat yang bersamaan. Lagipula lenong di kampus berbentuk lenong pendidikan. Kau bisa belajar banyak dari sana. Sungguh bermanfaat, bukan?

Nggak cuma sekedar mendengarkan caci maki seperti ini!

(Tapi sekali lagi aku bukan nggak suka pada bahasanya. Tapi tata nilai para pengajarnya yang membuat aku mau muntah!)

Kembali ke cerita semula…

Begitulah. Menyenangkan menjadi merdeka. Kali ini aku betul-betul lebih banyak kuliah pagi atau malam sekalian. Kadang-kadang kuliah terakhir adalah pukul 18:30 malam. Kau bayangkan bila itu dua SKS maka jam berapa aku akan pulang. Tapi tahukah kau, ini adalah masa paling membahagiakan selama periode perkuliahanku DISINI! SAAT INI! Aku merasakan jadi mahasiswa. Dihargai hasil pemikirannya oleh pengajar-pengajar non Bahasa Cina. Menyenangkan sekali.

Aku membuat kampanye iklan. Merakit ini dan itu lalu mempresentasikanya. Sebagai pelacur sejati aku mendapatkan pendapaan yang besar saat ini, kalau mau dihitung. Aku mandi nilai A dan B. Kalau kau mau, ambil saja! Ha ha! Aku ikut demonstrasi kecil di wilayah kampus. Hanya di kampus. Yang kecil saja!. Rupanya aku masih takut luka dan masih tak bisa memutuskan hendak mempercayai siapa. Tapi aku menikmati gemuruh itu dalam dada. Sekali dalam hidupku aku menangis demi sebuah lagu Indonesia Raya yang aku hampir pernah lupa maknanya. Lalu tangan kawan-kawan yang saling bergandengan…tukang-tukang intel yang menjual gorengan. Bakwan intel, kata kawan-kawan, itu enak. Murah meriah dan bisa sambil untuk menggali informasi. Wa ha ha. Sumpah sampai hari ini aku tak tahu itu benar atau nggak. Mimosa ini sungguh autis dalam masalah politik yang demikian. Jadi kalau kata kawan-kawan harus hati-hati ya nurut sajalah. Mereka toh yang lebih mengerti.

Nah, yang paling menyenangkan adalah saat-saat jadi artis. Sebagai orang yang nggak naik kelas karena dimusuhi dosen (ini pembelaan diri atas nilainya yang memang ada juga yang… he he…) Mimosa punya banyak waktu untuk berekspresi. Panggung! Mimosa panas panggung!
*

Yang Rajin Dooong, Kuliahnyaaa!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 11-09-2009

Tags:

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#08. Yang Rajin Dooong, Kuliahnyaaa!!

HOEK! Kalau saja nggak ada rombongan sandiwara itu, Mimosa pasti sudah jadi sakit jiwa sedari dulu. Bayangkan! Kelas lebih mirip ladang pembantaian daripada lahan penyemaian. Disana bibit-bibit yang tak kuat dipastikan segera manjadi busuk dan seleksi alam membuatnya tak pernah punya pengalaman bertunas sama sekali. Mimosa disana, seandainya kelapa maka ia sempat menjadi cikal. Cikal yang masih dijual dalam kantong-kantong plastik. Lumayanlah. Tapi ia memang tak akan tumbuh terus disitu. Bukan tempatku! Katanya.

Mimosa Autissia. Saat kuliah ia memilih menuliskan puisi. Terutama saat mata kuliah yang penuh dengan acara maki-memaki. Sret…sret… segerombolan wajah kanak-kanak lucu lahir dari ujung grafit pensilnya.

“Kau, Mimosa! Baca”

Tak usah kita ceritakan disini apa yang dia baca. Bunyinya lebih mirip sirine kalau kau mau percaya. Sebenarnya Mimosa tak pernah mempersoalkan bahasa apa yang sedang dia pelajari. Hanya saja, kenapa sih kuliah harus menimbulkan penderitaan begini? Ini bukan kuliah namanya! Seharusnya kuliah membuat kita bisa belajar dengan gembira. Kuliah seharusnya bukan kolam airmata.

“Kau jadi bodoh karena ikut rombongan sandiwara. Itu kegiatan yang tak ada gunanya. Yang rajin doong…kuliahnyaaa!”

Sakit jiwa! Sakit jiwa mereka semua! Ini kampus sastra. Seharusnya mereka dukung segala kegiatan yang ada hubungannya dengan budaya.

“Catat!” Teriak Mimosa dalam hati. “Catat bahwa aku tak pernah menganggap remeh ini semua. Lihat bukumu, bu. Ada absenku disitu? Catat juga bahwa meskipun aku nggak istimewa tapi nilaiku baik-baik saja” .

“Catat bahwa sandiwara pernah turut mengharumkan nama jurusan ini juga. Aku buatkan naskahnya, kawan-kawan membawakannya. Pialanya kalian ambil tapi kalian tak pernah mempedulikannya. Pak, Bu, kalian sudah tak seperti manusia. Mesin nilai, ya? Setiap yang mendapat nilai tinggi adalah yang terbaik. Yang terbaik adalah yang terjebak dalam duniamu disini”.

“Terakhir, catat juga bahwa aku akan pergi pada suatu hari! Melepaskan diri dari udara sakit disini”

Mimosa mendapatkan hukumannya. Satu periode mata kuliah ia tak bisa ikut kuliah Bahasa Cinanya. Waktu untuk mata kuliah umum saja. Menderita? Justru nggak. Mimosa merdeka dan luarbiasa bahagia!

Saatnya menikmati jadi mahasiswa. Jadi aktifis ringan dan aman sekaligus seniman! Ha ha ha.

Ini baru kampus, bung!
*

Saatnya Menjadi Liar! Liar Itu Baik Dan Benar!

1

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 10-09-2009

Tags:

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

BuRuLiSign
#07. Saatnya Menjadi Liar! Liar Itu Baik Dan Benar!*

Gonjreeeeeng!!

Anak-anak disitu gondrong semi dekil atau dekil sama sekali. Wah. Seniman, ya? Ya. Kenapa sih harus dekil? Hush. Jangan tanya, Mimosa. Nggak ada pertanyaan lain yang lebih bermutu? “Ehm, seniman itu katanya selain jorok juga gampang kawin cerai, ya?”

Glepok!

Nggak usah ngomong kalau nggak tahu apa yang bisa kamu omongkan.

“Abang, ini teater ya? Boleh ikutan, gak?” Mimosa menawarkan diri. Dasar nggak tahu malu!

“Anak baru, ya?”

“Iya” … Emangnya kenapa kalo anak baru?” Batin Mimosa kesal.

Wah, memang sedang dicari pemain baru! Ayo! Duduk saja disini sekalian ikut latihan!”

Jdug!

Makanya, Mimosa… lain kali jangan segera berburuk sangka.

Masalahnya di dunia brengsek bernama kampus ini aku terbiasa dengan julukan senior-non-senior. Yang non-senior disebut junior dan posisinya semi-babu buat seniornya. Dan itu menyebalkan. Maka aku jadi sensitif kalau ditanya soal angkatan. Memangnya kenapa kalau anak baru? Ada masalah?

“Anak baru itu Masya Allah… bukan masalah! Ha ha ha.” Ups… Pelecehan. Aku mendengar pelecehan dari bibirnya. Seorang laki-laki.

“Sering-sering itu bukan pelecehan, Mimosa! Itu penghargaan laki-laki pada mahluk yang namanya perempuan”

Oya? Penghargaan? Dengan cara apa?

“Menghargai perempuan karena keindahannya”

Masa, sih?

“Keindahan itu relatif. Ya, cantik itu relatif… tapi jelek itu absolut!”

GLEPOK!!!

Sekali pelecehan tetap pelecehan! Tapi Mimosa dapat tertawa gembira. Disini ia menemukan kawan-kawan barunya.
*

Peran pertama bagi Mimosa adalah menjadi Mbok Jamu. Ssst, jangan keras-keras… Susah payah Mimosa menghindari lirikan Gan Gan sutradaranya. Gara-garanya adalah Mimosa yang terlalu serius memikirkan kostum tukang jamunya. Harus seksi. Dan akhirnya justru terlalu seksi. Ugh! Mohon maaf. Ini buat penontonku bukan buatmu! Adegan tukang jamu sebagai migran yang mengais uang di ibu kota sukses juga. Seorang kawan bernama Nunu mengajarkannya cara membuka dan menaikkan bakul dari punggungnya. “Keluargaku petani cengkeh. Kami biasa melakukannya.” Percakapan itu, caranya mengajari aku, benar-benar tak pernah bisa kulupakan sejak saat itu. Mimosa Autissia bahagia menggendong bakul pertamanya. Norak, ya? Gak juga. Nunu ganteng, sih. Ha ha! DHUAR!!
*

Ini adalah bagian dari kehidupan panggung, kau akhirnya bisa dijatuhi cinta entah siapa dan kau sendiri sebenarnya jatuh cinta kepada siapa? Adalah seorang kawan yang mengatakan “Yuk” dan kau jawab dengan “Nggak, ah!” demikian berkali-kali. Di dunia panggung kau sulit menandai mana cinta mana keinginan berdekatan sesaat belaka. Bayangkan, berhari-hari kita bersama selama berjam-jam dan saling demikian memperhatikan. Sementara kau cuma seorang manusia. Catat, itu. Jangan pernah lupa kalau kau cuma seorang manusia. Tapi yang membedakan antara kita dan kera kan hanya isi kepalanya? Kalau dibiarkan manusia itu binatang. Aku melihat beberapa ekor contohnya disini. Dan aku tak mau menjadi binatang.

Tapi aku jatuh cinta, kata Mimosa.

Moey, gitar klasik di tangannya. Romance. Aku bukan penari, tapi aku pendengar musik yang baik. Tapi Cika adalah penari.

DZING!!

Cika berputar, meliuk. Ia pernah menjadi balerina. Tentu saja dia bisa. Cika bukan bagian dari sandiwara. Tapi ia bagian dari Moey. Mimosa benci itu. Tapi Cika bukan musuh Mimosa.

“Mimosa, antarkan aku ke kamar mandi.”

“OK.”

“Habis itu ke kantin.”

“Boleh.”

“Kita cerita-cerita?”

Hm? Ya…”

Cika baik. Bagaimana membencinya? Mimosa tersenyum. Cika tertawa. Moey melambai dari kejauhan. Gleg. Sialan. Gusni, aku kena kutukan…jatuh cinta pada pacar orang. Ha ha!

Hiks.

“Mimosa, Mimosa…kenapa kau diam saja? Kau sedang jatuh cinta, ya? Cerita, doong…sama siapa?”

Cika! Ada pertanyaan lain nggak, sih?

Airmata. Mimosa cuma punya airmata. Mati-matian Cika minta maaf karena merasa telah berbuat salah. Tapi aku salah apa? Bathin Cika pasti begitu. Memang bukan salahmu, Cika! Kau tenang saja. Ini cuma permainan orang dewasa. Korban situasi. Masa aku mau menjawabmu kalau aku suka Moey pacarmu itu?

Kaing!

Begitulah suara anjing yang menangis sedih. Aku nggak bersuara. I’m happy for you, Cika! Tapi tolong jangan tanya aku apa-apa!
*

Luluran!

0

Posted by Syam | Posted in long-short-story | Posted on 09-09-2009

Tags:

BuRuLiSign

NOTE: TUNGGU AKU!
Long-short-story Pulung Amoria Kencana dan Syam A Radjam
BAGIAN I: MIMOSA AUTISSIA [Jatah BuRuLi]

#06. Luluran!

Assseeekk!! Mimosa, Nik, Gusni, Tia dan Pat rame-rame telanjang. Biarin! Semua perempuan. Uhuy… tolong balurin punggungku! Siap! Seorang kawan bergantian membersihkan punggung kawannya yang lain. Ini kegiatan yang menyenangkan. Sambil ngerumpi membersihkan badan. Dasar gadis. Nggosip. Apalagi?

Apa sih yang akan dikerjakan para laki-laki kalau sedang berkumpul seperti kita ini? Panjang-panjangan! Woahahhah! Mimosa tertawa sampai keluar airmatanya. Oh, ya? Menurutmu berapa senti paling panjang? Wajah Pat memerah. Entah kenapa dia jadi kelihatan malu sendiri. Pat?

Kami nggak memaksanya bercerita. Nggak meminta ia menjelaskan wajah malunya. Sebagai sesama gadis kami sungguh mengerti, tak semua hal tentang laki-laki yang kami ketahui bisa dibagi.

Girls, kalian pernah horny?”

Bwahahahaha! Adduhhh, Pat! Pertanyaanmu itu, lho. Tolong, dong.
*

Kawan kami pernah bercerita. Dia bersyukur karena bisa menahan diri dari “serangan” pacarnya. Semua menangis mendengar ceritanya. Uh, terbayang beribu rasa seandainya kita yang menjadi dia. Berada diantara segala rasa ingin dan beratnya tanggung jawab atas diri sendiri. Nggak mudah menjadi perempuan! Sungguh nggak pernah pernah mudah untuk menjadi seorang perempuan! Bila kita sama-sama menginginkannya maka itu bukanlah sebuah pemerkosaan. Tapi nggak ada laki-laki yang disebut kehilangan keperawanan. Sementara peran penggoda selalu dijatuhkan sebagai milik perempuan. Keterlaluan memang! Laki-laki adalah laki-laki dan tetap laki-laki.

Girls, tapi kok aku masih suka laki-laki, ya?”

Gila! Itu pertanyaan goblok, Mimosa!
*