Posted by Syam | Posted in sound likes a poem (but not!) | Posted on 12-08-2009

Sajak: Syam Asinar Radjam
Dyah Nyiur, anak perempuan pertama kami yang belum dibuat. Kemaluanku juga belum kugesekkan pada mesin auto-debet. Jangan cuma jadi perempuan. Matahari mulai sukar membentuk bayang-bayang. Jemuran basah diam saja. Angin hanya tertiup bersama genangan karbon dari knalpot. Dyah nyiur, anak perempuan pertama yang belum kami buat. Jika laut bernasib baik, anak kami akan lahir di tepiannya. Mengajarinya berenang dan mengirim pesan dalam botol. Ibunya, istriku, bingung mengajarinya memasak dan menyulam. Jika pagi bernasib baik, anak kami akan lahir bersama matahari. Segera mandi, kata ibunya. Taburkan bedak di ketiak. Buang iklan gincu itu, kataku. Kalau kami yang beruntung, Dyah Nyiur adalah satu dari 99 saudara sedaging yang tertendang ibunya.
(Permata Hijau Jakarta, 29 April 2004)
