Nyoh!
: Nyoh Swasthipadma
Nyoh! Aku dijangkit melow! Pinjam bahumu. Ingin kurajang sisa tangis di sana. Sebagian sudah terbuang di kamar mandi. Bercampur air rendaman pakaian berbau basi. Sebagian sepi sudah terlipati. Bertumpuk segepok lemari, terkurung kamar yang tak lagi pernah tertiduri. Sudah sukar terambil lagi. Tapi masih butuh bahumu. Kau bilang, emas bukan di puncak. Katamu, ia berada di ujung. Tentang itu aku tak peduli, Nyoh. Sewaktu-waktu kubutuh bahumu… tolong pinjami lagi.
[SyamAR; Cijapun 18 Agustus 2009]
Sst… Ada Fabel Baru!
: Frogie
Menjadi jerapah adalah babak baru dalam fabel kodok. Sebab menjadi lembu ialah episode gagal impi katak.
Aesop dan Nur Sutan Iskandar tenggelam pada tawa bersama di dunia yang mirip pernah ada. Kau dengar komentarnya, Frog?
Ssh… rahasia! Meski lamat, terdengar mirip sorak;
Ini kisah baru! Layak ditunggu!
[SyamAR; LeBul, 14 Agustus 2009]
* Teruslah menulis, Kawan Frog!
Catatan Syam (1)
Ada satu pelukanku yang kuperam, kuintip tiap malam bahwa ia hampir matang. Satu pelukan lekat dekat bayang rumah kayu bertaman kecil. Satu pelukan paling matang; untukmu.
(Syam; Prabumulih 12-12-2004/ 09:50:54 pm)
Catatan Syam (2)
Kuiris tipis bulan untuk kubawa berjalan. Simpankan tiga perempatnya, tanda mata dari langit yang menjodohkan kita.
(SyamAR; Prabumulih, 23-12-2004/ 12:57:54 am)
Yang Pernah Hilang!
Kutemu lagi alasan untuk belajar menulis sesuatu. Entah apa namanya. Saat televisi menjadi teroris, teroris menjadi bintang, para bintang sibuk menyundut bom cerai, panjang gigi pendiskusi, cangkir kopi diseduh puisi.
[SyamAR; LeBul, 13 Agustus 2009]
Di Depan Rumah Kami Ada ITC.
Di depan rumah ada kami ada ITC. Orang Jerman yang benci dengan kesebelasan Italia tak berbelanja di sini. Bukan karena ada Pizza Hut. Film bajakan bertebaran seperti bom kuning Amerika Serikat. Di atasnya ada apartemen. Bel parkirnya membolongi kasur kami. Aroma uang kembalian yang lecek lamat-lamat terseduh kopi.
Tadi malam di dekat rumah ada dangdutan. Entah hajat sunatan, entah kawinan. Buruh bangunan yang tak pernah membeli sebatang rokok di Carrefour tenggelam dalam keriaan tanpa label harga. Tenggelam dalam secangkir air di genangan Sahara.
[Syam Asinar Radjam: Jakarta, 8 Juli 2006]
Catatan I
Mengenangkan saudara di puncak Sumatera,
Aku, beta, dan saya ingin berdoa
Sendirian saja
Takut salah gaya
[SyamAR; Stasiun Gambir, 8 Januari 2004]
*pernah diajukan untuk sebuah antologi untuk bencana tsunami aceh*
PAGI BARU
Sajak Syam Asinar Radjam
Sudah waktunya mengemasi rupa-rupa duka
Setelah tangan-tangan cahaya
Meraih tangan orang-orang terpilih
Merengkuhnya dan mereka menari
Berselancar di atas buih
Tenang dan tak akan kembali
Sudah waktunya mengemasi rupa-rupa ratap
Setelah tangan-tangan cahaya datang bersama laut yang meluap
Anak-anak tetap harus melukis pelangi
Selengkung senyum secerah biru
Si Muda tetap akan berdiri
Di tenang pagi baru
[Syamar, Kebayoran Baru, 10 Janauari 2004]
*pernah diajukan untuk sebuah antologi untuk bencana tsunami aceh*
Sajak Syam Asinar Radjam
Ketika deadline sempat mengerjap dari terjaga yang panjang, sebuah buku puisi menyeretku untuk menyelinap ke tengah pendar lampu ojek. Bung, sekarang waktunya untuk sejenak meninggalkan bergelas-gelas kopi yang menyamar dalam tonikum! Menyingkir sejenak menjauhi tempias asap dari ritual bersama berbatang-batang Dji Sam Soe dalam kantuk yang merindukan lindap tajuk-tajuk kebun karet.
Maka berjalanlah aku mengepit Taufik Wijaya dan Anwar Putra Bayu di ketiak. Mereka mesra berpeluk bersama 29 penyair dunia yang sempat menjilat kemolekan Musi.
Siang di kantor masih akan terus berlangsung 36 jam lagi. Matahari mengalir dari lubang kupingku. Kecanggungan meninggalkan rekan sekantor terfermentasi rasa rindu menjenguk kontrakan. Aku ingin melihat istriku berenang dalam kuah siomai!
* * *
[Syam Asinar Radjam: Jakarta, 7 Juli 2006]

Dyah Nyiur, anak perempuan pertama kami yang belum dibuat. Kemaluanku juga belum kugesekkan pada mesin auto-debet. Jangan cuma jadi perempuan. Matahari mulai sukar membentuk bayang-bayang. Jemuran basah diam saja. Angin hanya tertiup bersama genangan karbon dari knalpot. Dyah nyiur, anak perempuan pertama yang belum kami buat. Jika laut bernasib baik, anak kami akan lahir di tepiannya. Mengajarinya berenang dan mengirim pesan dalam botol. Ibunya, istriku, bingung mengajarinya memasak dan menyulam. Jika pagi bernasib baik, anak kami akan lahir bersama matahari. Segera mandi, kata ibunya. Taburkan bedak di ketiak. Buang iklan gincu itu, kataku. Kalau kami yang beruntung, Dyah Nyiur adalah satu dari 999 saudara sedaging yang tertendang ibunya.
(Permata Hijau Jakarta, 29 April 2004)
Sajak: Syam Asinar Radjam
Dyah Nyiur, anak perempuan pertama kami yang belum dibuat. Kemaluanku juga belum kugesekkan pada mesin auto-debet. Jangan cuma jadi perempuan. Matahari mulai sukar membentuk bayang-bayang. Jemuran basah diam saja. Angin hanya tertiup bersama genangan karbon dari knalpot. Dyah nyiur, anak perempuan pertama yang belum kami buat. Jika laut bernasib baik, anak kami akan lahir di tepiannya. Mengajarinya berenang dan mengirim pesan dalam botol. Ibunya, istriku, bingung mengajarinya memasak dan menyulam. Jika pagi bernasib baik, anak kami akan lahir bersama matahari. Segera mandi, kata ibunya. Taburkan bedak di ketiak. Buang iklan gincu itu, kataku. Kalau kami yang beruntung, Dyah Nyiur adalah satu dari 99 saudara sedaging yang tertendang ibunya.
(Permata Hijau Jakarta, 29 April 2004)
Sajak Syam Asinar Radjam untuk Buruli
Biarpun semua huruf E dan A hilang dari dunia. Aku tetap saja. Tak terhenti. Berucap. Sesekali bisik. Kau dengarlah, aku lafalkan, “I Lov… You!” atau “Ku Cint… Mu! Biarpun dunia kehilangan semua huruf E dan A. Aku masih memiliki tanda seru!