Demikianlah. Ia kerap mematikan ponselnya sampai membuat semua orang, yang barangkali nyaris se-Indonesia sulit menghubungi dia. Tentu saja ada seseorang yang paling istimewa bentuk kepanikannya: Dang Perempuan!
: Biip!
“Kenapa dimatikan? Aku kan kangen? Hiks! Hidupin, dooong!!”
sublimasi, image dioprek dikit dari sumber aslinya http://blog.mlive.com/chronicle/2007/12/Jeff_King.jpg
Sublimasi Ketololan
[1]
Aku adalah bocah yang ingin mengetapel jatuhkan bulan
Agar pungguk tak lagi kurang kerjaan
[SyamAR; Cibadak, 15 Jan 2010]
[2]
Semasa bocah kami kenal sejenis kumbang
Kepalanya kami puntir berpisah dengan badan
Sang Kumbang meraung macam gasing
Dalam tolol bocah, kami kira dia menari
[3]
Di kehidupan berikutnya aku jadi pacat saja
Makan, gendut, lalu puasa.
[4]
Sudah tak salah nyamuk pendemam berdarah
Tuhan tak ciptakan dia pengudap daun penggerogot buah
* [2], [3], [4] *
[SyamAR; Ciawi, 15 Jan 2010]
[5]
Terkenang gelak seorang sahabat,
Kalau pun kami menjadi katak
Dalam tempurung pun tak apa,
Asal tak sendiri, selalu bersama
Oo, empon-empon
Tentang rasa yang kupunya, kau abaikan saja
Oo, empon-empon,
Ku tak patah hati, meski tlah kusangka
Kau tak membalasnya
Kubiarkan saja, bertumbuhlah liar
Di kebun sayurku, menarilah bersama
Kupu-kupu kuning kunyit
Hingga surya menua sendiri
empon-empon di tepi hutan, gambar comotan dari blog orang
Racau yang saya namai Pamflet Cinta di atas, berikut dengan musikalisasi (asal genjreng) sepanjang 2 menit 40 detik, baru saja saya tulis malam ini. Tak garang. Saya lebih nyaman menamainya marsmellow!
Saya hanya sedang terkenang petak empon-empon atau tumbuhan rimpang-rimpangan, banyak juga menggolongkannya sebagai javanese spices. Jahe dan kencur yang saya tanam. Petak itu, arah 0 derajad jika jendela dan si ijo alat saya mengetik adalah kompas. Cuma menyeberang sawah dari pondok bambu tempat saya berlindap.
Di radio lokal, terdengar seseorang meminta diputarkan satu lagu. Biasa. Pakai titip salam titip ucapan. “Spesial untuk belahan jiwaku,” katanya.
Radio disetel kencang dari “Rumah Dua”. Pondok yang kudiami sendiri kami namai “Rumah 1″. Di pondok bilik bambu saya sedang terlibat beberapa percakapan maya pakai Yahoo! Messenger (YM!).
“Ah, belahan jiwa!” Terilhami ucapan di radio, saya ubah status YM!, jadi… “Belahan pantat, apa kabar?”
Status yang membuat saya panen protes, dikira saru. Saat suasana sedang bulan Ramadhan pula.
Satu pemandangan Rubiah, bukan Senja di Pelabuhan Kecil (dok: pribadi)
Rubiah. Hanya seluas 50 hektar. Separuh milik pemerintah. Separuh kepunyaan satu keluarga. Tersembunyi tenang dipelukan teluk kecil Pulau We, Nanggroe Aceh Darussalam. Tersembunyi tenang pula di sana sebuah taman laut.
Kalau tak karena undangan dan kebaikan seorang sahabat karib, belum tentu saya sempat bersembunyi ke pulau ini.
Pangkal pekan itu, hanya ada beberapa penyembunyi yang datang. Saya dan teman. Sepasang Australia yang sedang membangun pondok. Seorang Jerman bernama Jurgen yang berbadan raksasa, demi diet ia makan hanya sekali sehari, dan berusaha mendapat ikan dari hasil pancingan sendiri. Tapi mirip selalu gagal.
Teman lain, satu perempuan Finlandia mengaku mengenalkan namanya dengan bunyi A-yu-ni. Selebihnya, penghuni asli pulau. Salah satunya yang kelak cukup akrab adalah Read the rest of this entry »
Nday & Monster Permen Karet [Penggalan Novel Anak | Versi Cerpen]
Oleh: Syam dan BuRuLi
Permen karet! Benda yang berhasil membuat bingung Ndayang. Dia senang, tapi juga sebal karenanya.
Sejak 5 hari lalu dia terpaksa membuang jauh-jauh keinginan untuk mengunyah permen karet. Tak lagi tampak sebuah balon permen karet di depan mulut gadis kecil yang tak lama lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5.
Hari menjelang petang. Dari ujung desa terdengar orang mengaji di mesjid. Sebentar lagi bang waktu sembahyang asar terdengar. Ndayang berdiam diri saja di depan jendela kaca. Jendela sebesar gajah di sisi kiri rumah kayu mereka. Sambil memilin rambutnya yang terikat dua seperti seorang pahlawan indian, Ndayang mengkhayal.
Khayalan tentang manis permen karet dan kesenangan ketika berhasil meniupnya menjadi balon raksasa. Selanjutnya ia akan terbang bersama balon permen karet. Mengitari dunia. Melihat banyak tempat dan banyak warna yang belum tertemui.
Posted by Syam | Posted in sesurat | Posted on 03-08-2010
*Membeli jeruk-jeruk* adalah tato yang kita gurat di mimpi. Ia adalah 1000 doa bersemangat yang jatuh bersama daun-daun pada sebuah musim gugur. Perpisahan adalah lorong panjang dengan kelokan-kelokan bernama pertemuan mimpi-mimpi di sepanjangnya dan berujung pada perpisahan abadi. *Membeli jeruk-jeruk* adalah satu dari sedikit rahasia yang kita punya.